Seni tari merupakan ekspresi paling murni dari jiwa manusia yang melebihi batas-batas kata. Sebagai bahasa tubuh, seni tari memiliki kekuatan untuk mencerminkan struktur sosial, budaya, dan nilai-nilai yang dianut oleh suatu masyarakat. Namun, dalam sejarah perkembangan tari, panggung tari sering menjadi batasan peran berdasarkan jenis kelamin. Di mana maskulinitas dan feminin didefinisikan secara kaku melalui gerak, estetika, sering kali membatasi ruang gerak seniman untuk berekspresi secara bebas tanpa memikirkan gender mereka. Namun, perbedaan gender seringkali membuat sebagian masyarakat memiliki pandangan negatif terhadap hal tersebut.
Sisi feminin dalam Tari Lengger terlihat jelas dari gerakannya yang lembut, gemulai, dan penuh pesona. Seorang penari harus mahir memainkan lirikan mata yang memikat serta keluwesan jari-jemari yang selama ini identik dengan sifat perempuan. Menariknya, ketika gerakan halus ini dibawakan oleh laki-laki atau Lengger Lanang, muncul keunikan seni yang memperlihatkan sisi cantik dari sudut pandang berbeda. Kelembutan tersebut tidak lantas menghilangkan sisi maskulin atau kegagahan si penari, tetapi justru menunjukkan bahwa manusia memang memiliki sisi lembut dan tegas secara bersamaan. Gerak feminin ini pun menjadi cara bagi penari untuk menyampaikan pesan tentang kasih sayang dan kepedulian yang sebenarnya ada dalam jiwa setiap orang.
Meskipun tarian ini didominasi oleh perempuan, tantangan kesetaraan gender dalam bidang ini justru sangat kompleks. Penari laki-laki sering dipandang sebelah mata atau mendapat komentar negatif karena dianggap kurang maskulin. Sementara penari perempuan sering kesulitan untuk meraih posisi pemimpin, seperti menjadi koreografer, karena posisi tersebut secara historis dikuasai oleh laki-laki. Seni tari seharusnya menjadi ruang untuk tubuh bergerak bebas, tetapi kenyataannya masih banyak penari yang terikat dengan peran-peran yang sempit. Oleh karena itu, perlu adanya penafsiran kembali atas nilai-nilai gender dalam dunia tari agar seniman bebas untuk berekspresi dan berkarya tanpa memikirkan gender mereka.
Tari Lengger sebagai Kekayaan Budaya Banyumas
Tari Lengger merupakan salah satu kekayaan budaya asli Banyumas yang memiliki daya tarik sangat unik dan mendalam. Nama “Lengger” diyakini berasal dari kata “Leng” mewakili penari perempuan dan “ger” melambangkan laki-laki. Lengger dikenal luas karena melibatkan penari laki-laki yang didandani selayaknya penari perempuan. Penyatuan kedua unsur dalam satu tubuh penari laki-laki dianggap sebagai simbol pencapaian harmoni dan keseimbangan alam semesta. Seni ini bukan sekedar hiburan panggung biasa, tetapi sebuah warisan yang menyimpan makna tentang kehidupan manusia. Tarian ini terkenal dengan gerakan yang dinamis, ritmis, serta penuh kelembutan.
Kesenian Lengger adalah salah satu kebudayaan lokal yang memiliki keunikan tersendiri, mengandung nilai-nilai budaya, misalnya nilai estetika, nilai kepercayaan dan ketaatan ruh leluhur, nilai perjuangan, nilai kemanusiaan, dan nilai kejujuran (Hartanto, 2016). Tari tradisioanal yang memiliki unsur magis serta fungsi sosial sebagai hiburan dan ritual syukur panen. Tari Lengger awalnya dipersembahkan dalam ritual penghormatan kepada Dewi Sri, Dewi Padi dan Kemakmuran, sebagai ungkapan syukur atas hasil panen yang melimpah. Berdasarkan pandangan masyarakat Jawa, kesuburan dan kesejahteraan sangat dipengaruhi oleh keseimbangan energi maskulin dan feminin dunia. Tari Lengger bukan hanya sebagai hiburan tetapi juga sebagai jembatan antara dunia manusia dan alam spiritual.
Tari Lengger sebagai bukti nyata betapa kayanya kearifan lokal dalam memandang identitas manusia secara luas. Pemilihan penari laki-laki sebagai Lengger Lanang juga tidak terlepas dari keyakinan spiritual yang kuat pada masa itu. Para penari sering kali melalui ritual dan pelatihan khusus untuk mencapai tingkat spiritualitas yang tinggi sebelum pentas. Mereka meyakini mampu menjadi medium untuk berkomunikasi dengan leluhur atau hal gaib lainnya demi kemakmuran desa. Oleh karena itu, keberadaan Tari Lengger jauh dari sekadar seni pertunjukan biasa, melainkan sebagai penopang spiritual komunitas.
Busana dan Riasan sebagai Media Transgresi
Perubahan penampilan melalui pakaian dan riasan wajah adalah kunci utama dalam pementaasan Tari Lengger. Penari laki-laki akan mengenakan kostum lengkap seperti kain jarik, kemben, dan selendang layaknya seorang perempuan. Wajah mereka juga dirias dengan cantik menggunkan riasan seperti perempuan. Proses berdandan ini bukan sekadar urusan kecantikan, melainkan cara penari laki-laki untuk melepaskan identitas mereka sementara waktu. Dengan perubahan penampilan yang total, penonton akan melihat sosok perempuan anggun di atas panggung.
Setiap aksesoris yang dikenakan oleh penari Lengger memiliki fungsi khusus untuk mendukung gerakan agar lebih luwes. Contohnya, selendang atau sampur digunakan untuk memperpanjang gerakan tangan supaya terlihat lebih gemulai dan anggun saat menari. Warna cerah pada pakaian juga dipilih agar terlihat mencolok dan menjadi perhatian penonton. Semua perlengkapan ini membantu penari laki-laki untuk benar-benar masuk ke dalam karakter feminin yang mereka bawakan. Pakaian bukan hanya penutup tubuh, tapi alat seni untuk menembus batas-batas jenis kelamin.
Proses saat seorang penari mulai merias wajahnya sering kali menjadi saat yang sangat tenang dan penuh perasaan. Pada momen inilah sang penari perlahan-lahan meninggalkan sifat maskulinnya dan mulai merasakan sifat feminin dalam dirinya. Mereka belajar untuk bersikap anggun dan elegan demi menyajikan tarian yang sempurna bagi para penontonnya. Melalui riasan tersebut, mereka membuktikan bahwa setiap manusia sebenarnya memiliki sisi lembut dan tegas secara bersamaan. Hal ini menjadi bukti bahwa seni bisa mengubah cara kita melihat diri sendiri dan orang lain.
Pandangan Masyarakat Terhadap Lengger Lanang
Di masa lalu, Lengger Lanang sangat dihormati dan dipandang sebagai seniman spiritual yang membawa berkah bagi masyarakat. Mereka memiliki posisi sosial yang tinggi, bahkan seringkali diundang dalam acara-acara penting untuk mendoakan keselamatan desa. Pandangan masyarakat saat itu sangat terbuka terhadap konsep transgresi gender dalam konteks seni dan ritual. Penari laki-laki yang berperan feminin tidak dicap negatif, melainkan dihargai karena kemampuannya menyatukan perbedaan. Hal ini mencerminkan kearifan lokal yang mampu merangkul keberagaman identitas tanpa prasangka.
Namun, sudut pandang sebagian masyarakat saat ini mulai berubah seiring dengan masuknya nilai-nilai baru yang lebih kaku. Banyak orang sekarang justru memandang aneh dan memberikan penilaian negatif terhadap laki-laki yang menari dengan gerakan feminin. Sebutan yang kurang pantas sering ditujukan kepada para penari karena dianggap tidak sesuai dengan kodrat laki-laki, seperti sebutan atau panggilan yang mengarah pada ejekan yang ditujukan untuk seniman yang bersangkutan misalnya julukan “banci” dan “bencong” (Tiara et all, 2022). Akibatnya, para penari Lengger Lanang harus berjuang lebih keras untuk menjelaskan bahwa apa yang mereka lakukan adalah murni sebuah karya seni. Perubahan sikap ini menjadi tantangan besar bagi keberlangsungan budaya asli yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu.
Meski menghadapi banyak tekanan, masih ada sebagian masyarakat yang setia menjaga dan membela keberadaan Lengger Lanang. Mereka percaya bahwa menghargai Lengger berarti juga menghargai sejarah dan identitas asli daerah Banyumas. Berusaha mengedukasi generasi muda agar tidak menghakimi orang lain hanya dari penampilan luarnya saja. Saat ini, Tari Lengger masih terbilang populer dikalangan anak muda di zaman seakarang, karena faktor dukungan dari masyarakat sekitar dan banyaknya generasi-generasi yang berminat terhadap Tari Lengger Lanang Banyumas (Enhar, S. D. C. (2024). Dengan memahami makna dibalik tarian ini, kita bisa belajar untuk lebih toleran dan menghargai keberagaman yang ada di sekitar kita. Pada akhirnya, penerimaan masyarakat adalah kunci utama agar warisan budaya yang unik ini tidak hilang ditelan zaman.
Kesimpulan
Tari Lengger merupakan bukti nyata dari kearifan lokal Banyumas yang mampu melihat identitas manusia melampaui batasan gender yang kaku. Melalui sosok Lengger Lanang, kesenian ini mengajarkan bahwa harmoni kehidupan dapat tercipta ketika sisi maskulin dan feminin menyatu dalam ruang seni yang sakral. Meski saat ini para penari menghadapi tantangan berupa stigma modern, esensi Lengger sebagai simbol keseimbangan alam dan spiritualitas tetap tidak tergantikan. Menjaga kelestarian tarian ini berarti kita juga turut merawat nilai toleransi serta keterbukaan terhadap keberagaman identitas di tengah masyarakat. Pada akhirnya, Lengger mengingatkan kita bahwa kemanusiaan dan ekspresi jiwa memiliki bahasa yang jauh lebih luas daripada sekadar label laki-laki atau perempuan.
DAFTAR PUSTAKA
Raharjo, T. A., Rahardjo, T., & Widagdo, M. B. (2022). Negosiasi identitas penari cross gender pada lengger lanang. Interaksi Online, 10 (3), 68-83.
Hartanto, S. I. (2016). Perspektif gender pada lengger lanang banyumas. PANTUN: Jurnal Ilmiah Seni Budaya, 1 (2).
Enhar, S. D. C. (2024). Popularitas Tari Lengger Lanang di Kalangan Anak Muda Banyumas. Tamumatra: Jurnal Seni Pertunjukan, 6 (2), 71-82.




