Esai KebanyumasanRicik-RicikSusukan

Begalan: Filosofi Hidup yang Tersembunyi di balik Tradisi Pengantin Banyumas  yang Hampir Terlupakan

Indonesia merupakan negara dengan budaya yang sangat beranekaragam pada tiap daerahnya. Keanekaragaman tersebut menjadi identitas dari masing-masing daerah. Dalam sejarah perkembangan peradaban, manusia tidak lepas dari eksisnya budaya yang diciptakan berdasarkan kesepakatan kolektif. Sebuah identitas hasil kesepakatan kolektif tersebut dapat menjadi kebanggan sehingga dapat menjadi alasan untuk mempertahankan budaya tersebut.

Kebudayaan di pulau Jawa dalam pengimplementasiannya tidak hanya terbatas pada artistik semata, namun dibalik itu terdapat makna yang mendalam serta terdapat nilai sosial (Santi, 2025). Pada saat yang bersamaan pada setiap praktik budaya, terdapat perputaran ekonomi dengan pedagang kaki lima yang terkadang turut meramaikan, sehingga jika praktik budaya tetap dijaga, maka kemungkinan besar majunya UMKM di Banyumas  juga turut maju dengan sinergi antara berbagai lapisan masyarakat.

Menurut Djoni Teguh Suprijana selaku tokoh begalan dari Pabuwaran Purwokerto, problem yang nyata pada era sekarang adalah kurangnya praktik budaya di daerah Banyumas  karena derasnya perkembangan teknologi yang begitu pesat menjadikan anak muda kurang mengenal budaya dari daerahnya sendiri yang mana hal tersebut merupakan identitas yang dapat dinarasikan kepada orang luar daerahnya dan tidak hanya sekedar pertunjukan dalam rangka hiburan belaka, namun setiap budaya memiliki makna filosofis yang diajarkan oleh para pendahulu kita.

Begalan adalah tradisi pernikahan masyarakat Banyumas  yang memiliki akar sejarah dan fungsi sosial sebagai bekal moral bagi pengantin baru. Kedudukan begalan dikuatkan dengan kondisi masyarakat Banyumas merupakan masyarakat agraris. Sebagian besar masyarakatnya merupakan petani, kalaupun mereka bekerja bukan sebagai petani biasanya mereka tetap memiliki sawah, lalu mempekerjakan orang lain untuk menggarap sawahnya. Begalan ini dapat dilakukan jika akan menjodohkan anak sulung laki-laki dan bungsu perempuan. Namun, terlepas dari itu begalan tetap bisa dilakukan walau untuk acara yang lain sebagai hiburan.

Dalam begalan, barang perabotan atau alat-alat dapur yang dinamakan Brenong Kepang yang berisi macam-macam peralatan. Masing-masing peralatan tersebut dijadikan perantara dalam penyampaian pesan atau piweling kepada pengantin tersebut. Hal tersebut dikarenakan pada tiap alat-alat tersebut terdapat makna filosofis yang nantinya akan menjadi pegangan hidup bagi calon pengantin. Contoh dari alat-alatnya antara lain seperti cething atau tempat nasi yang dibuat dari anyaman bambu yang memiliki arti bahwa manusia adalah makhluk ciptaan tuhan yang memiliki aturan dan hidup dalam aturan negara, maka tidak bisa hidup sekehendak hati, Adapun siwur atau alat untuk mengambil air yang memiliki arti asihe aja diawur-awur atau kasih jangan dibagi-bagi.

Jika dilihat dari sudut pandang sosiologi, begalan bukan hanya sekedar hiburan melainkan medium transmisi nilai sosial antar generasi, begalan yang berisi nasihat untuk pengantin dapat dijadikan renungan dan pelajaran bagi penonton untuk kehidupan kedepannya yang berkaitan dengan perjalanan hidup yang akan diarungi berdua oleh pasangan pengantin. Begalan juga berfungsi sebagai perlindungan atau proteksi terhadap kekuatan negatif dari hal magis dengan harapan tidak akan terjadi apa-apa pada hubungan pernikahan tersebut atau ora ono apa-apa dalam bahasa Jawa.

Sebuah paradoks yang memprihatinkan, begalan justru seringkali asing ditelinga generasi muda Banyumas, di lain sisi budaya dari Korea dan Barat sangat mudah diakses oleh kalangan anak muda. Jika kita lihat fenomena ini secara objektif, maka hal tersebut tidak sepenuhnya salah dari generasi muda, melainkan terdapat beberapa faktor seperti biaya pernikahan yang kian mahal, semakin jarangnya praktik begalan di daerah Banyumas, modernisasi pernikahan, serta faktor lainnya.

Sebagai refleksi pribadi dan semoga berkenan untuk para pembaca, society 5.0 atau konsep masyarakat yang dalam kesehariannya tidak lepas dari teknologi modern seperti ponsel, dan berdasarkan survei pribadi penulis terhadap beberapa narasumber teman sebaya, rata-rata penggunaan ponsel harian mereka adalah antara 3–7 jam per hari, yang mana jika kita kaitkan dengan menurunnya minat para anak muda di Banyumas  terhadap budaya daerah asalnya sendiri, teknologi berperan besar dengan terkontaminasi nya tontonan anak muda yang lebih dominan ke konten-konten yang berbau kebarat-baratan atau trend pada zaman sekarang adalah Drama China.

Revitalisasi tradisi begalan perlu dilakukan secara massif dengan sinergi lintas zaman. Para orang tua yang mengerti tentang begalan dapat mempraktikan jika ada acara pengantin di Banyumas, pada saat melakukan revitalisasi ini tentunya perlu adanya dukungan dari pemerintah setempat yang berkolaborasi dengan masyarakat dalam rangka menghidupkan kembali fungsi dari budaya yang ditinggalkan oleh para pendahulu kita supaya tidak tergerus oleh kemajuan zaman. Pemanfaatan teknologi oleh anak muda dalam rangka untuk mendokumentasikan setiap momen yang tercipta, melihat fungsi media sosial di lain sisi sebagai alat menyimpan kenang-kenangan, media sosial juga dapat sebagai alat untuk mengeksiskan yang sudah hampir terlupakan.

Begalan adalah salah satu cerminan identitas masyarakat Banyumas yang sangat layak untuk dipertahankan, membiarkan budaya ini hilang ditelan waktu sama hal nya seperti kita membiarkan sebagian identitas kita hilang. Mari perbaiki cara berpikir kita bersama dengan cara jangan menganggap tradisi-tradisi Banyumas tidak layak dipertahankan karena selalu mengedepankan hal mistis. Akan tetapi kita ubah sudut pandang bahwa dalam tradisi-tradisi tersebut terdapat makna filosofis yang kontekstual, serta merupakan cerminan identitas dari masyarakat Banyumas.

Anak muda seyogyanya seharusnya pelan-pelan belajar mengenal identitas mereka yaitu budaya pada daerah masing-masing. Jika anak muda tidak dapat menarasikan budayanya serta tidak ada kolaborasi dengan para orang tua, maka tradisi-tradisi peninggalan pendahulu kita akan hilang seiring berjalannya waktu. Maka dari itu, mari kita memperluas pengetahuan kita terkait identitas kita agar nilai filosofisnya tak lekang oleh waktu dan bisa kita turunkan kepada anak cucu kita kelak.

About author

Articles

Ahmad Nur Ikhya, mahasiswa yang sedang belajar menulis. Beralamat di Kebumen, Baturraden, Banyumas.
Avatar photo
Related posts
CerpenSastraSusukan

Kehidupan untuk Enggar

Read more
BudayaEsaiEsai KebanyumasanRicik-Ricik

Eksklusivitas dan Laku Adaptif: Jalan Sunyi Pelestarian Pakeong

Read more
BudayaEsaiEsai Kebanyumasan

Tari Lengger dan Transgresi Gender: Memahami Sisi Maskulin dalam Gerak Feminin

Read more
KABAR LOGAWA
Mari Mengalir Bersama

Dapatkan kurasi tulisan sastra pilihan, wawasan budaya Penginyongan, dan informasi agenda terbaru langsung di kotak masuk surel Anda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *