EsaiPopulerSusukan

Sebagai Keturunan Banyumas, Presiden Tidak Punya Nilai Cablaka?

Cablaka atau blakasuta merupakan watak orang Banyumasan yang diartikan ketika berbicara itu apa adanya tanpa dibuat-buat atau dalam bahasa sehari-hari masyarakat Banyumasan “Ora Tedeng Aling-Aling” atau jujur apa adanya. Nilai ini tidak sekadar menjadi ciri kultural, tetapi juga etos moral dalam kehidupan sosial dan kepemimpinan. Presiden ke-8 Indonesia, Prabowo Subianto diketahui mempunyai darah keturunan dari Bupati pertama Banyumas, Raden Joko Kahiman, dari kakeknya RM. Margono Djojohadikoesoemo. Ketika seorang Presiden memiliki garis keturunan dari tokoh Banyumas, publik menaruh harapan bahwa nilai cablaka turut tercermin dalam sikap dan pernyataannya. Namun, dalam sejumlah pernyataan yang dikeluarkan oleh presiden, terutama saat menghadapi bencana alam, nilai cablaka justru terasa jauh dari praktik kepemimpinan yang ditampilkan.

“Saya ditelepon banyak pimpinan kepala negara ingin kirim bantuan. Saya bilang terima kasih, konsen Anda. Kami mampu. Indonesia mampu mengatasi ini,” diungkapkan Prabowo pada 15 Desember 2025 dalam sidang kabinet di Istana Negara. Pada tanggal yang sama bencana tersebut telah mengakibatkan 1.016 orang meninggal, 212 orang hilang, dan sekitar 7,6 ribu orang terluka serta masih banyak daerah yang masih terisolasi hingga membuat para korban selamat menderita.

Di sinilah persoalan itu muncul. Pernyataan “kami mampu” bisa dinilai sebagai sikap optimisme dan dapat dipahami sebagai upaya pemerintah menunjukkan ketenangan dan kedaulatan negara di hadapan komunitas internasional. Namun, pernyataan tersebut menjadi problematik ketika dibandingkan dengan fakta lapangan yang menunjukkan masih banyak daerah terisolasi, korban belum memperoleh bantuan memadai, serta infrastruktur dasar seperti listrik yang belum pulih. Dalam hal ini, sikap tersebut justru bertentangan dengan nilai cablaka yang menuntut keterbukaan dan kejujuran terhadap kondisi yang sebenarnya.

Prof. Sugeng Priyadi dalam karya ilmiahnya “Cablaka Sebagai Inti Model Karakter Manusia Banyumas” menjelaskan bahwa cablaka adalah karakter yang dicetuskan secara spontan oleh manusia Banyumas yang tampak di depan mata, tanpa ditutup-tutupi. Jika merujuk pada pengertian ini, maka pernyataan pemimpin publik seharusnya mencerminkan keberanian untuk mengakui keterbatasan, bukan sekadar menyampaikan optimisme yang tidak sejalan dengan fakta. Apa yang disampaikan oleh Presiden tidak mencerminkan sikap tersebut. Atau, Presiden Prabowo sebetulnya mempunyai karakter Cablaka namun fakta dan data lapangan mengenai bencana tertutupi?

Sifat cablaka masyarakat Banyumas menuntun untuk senantiasa jujur dan transparan. Namun, sikap ketidakjujuran juga ditunjukan Prabowo ketika memberikan pernyataan “Alam harus kita jaga. Kita tidak boleh tebang pohon sembarangan. Saya minta pemerintah daerah lebih waspada, lebih awasi,” pada 12 Desember 2025, saat kunjungannya ke Aceh. Pernyataan tersebut secara normatif merupakan sikap yang selayaknya dikeluarkan oleh pemimpin negara. Namun, publik sulit mengabaikan pernyataan-pernyataan sebelumnya yang cenderung meremehkan isu deforestasi. “Enggak usah takut apa itu katanya, membahayakan, deforestation. Namanya kelapa sawit ya pohon, ya kan?” “Benar enggak, kelapa sawit itu pohon, ada daunnya kan? Dia menyerap karbondioksida.” Sikap yang ditunjukan merupakan bentuk inkonsistensi yang sulit diselaraskan dengan nilai cablaka.

 Sebagai kepala negara presiden menghadapi kompleksitas persoalan penanganan bencana besar yang dihadapi, termasuk keterbatasan informasi awal saat bencana dan kepentingan diplomatik di tingkat global. Namun, justru dalam situasi krisis semacam inilah nilai cablaka menemukan relevansinya. Kejujuran untuk mengakui keterbatasan negara dan keterbukaan terhadap realitas lapangan merupakan fondasi kepercayaan publik yang seharusnya dijunjung tinggi oleh seorang pemimpin. Seperti apa yang disampaikan budayawan Ahmad Tohari bahwa watak cablaka ini seharusnya dikembangkan menjadi etos transparansi dan kejujuran yang sekarang ini memang sangat dibutuhkan oleh bangsa Indonesia. Sebagai masyarakat Banyumasan, sangat mengharap Presiden Prabowo mempunyai nilai seperti leluhurnya.

About author

Articles

Gilang Tri Ananda, seorang penggiat literasi dan penulis muda dari Purbalingga.
Avatar photo
Related posts
BudayaEsaiEsai KebanyumasanRicik-Ricik

Eksklusivitas dan Laku Adaptif: Jalan Sunyi Pelestarian Pakeong

Read more
EsaiPopuler

Tuhan Maha Trendy: Ngobrol Santai Soal Yang Maha Kuasa di Zaman Now

Read more
BukuEsai

Rahim Embun Sebagai Katarsis di Dunia yang Sering Membiaskan Tangis

Read more
KABAR LOGAWA
Mari Mengalir Bersama

Dapatkan kurasi tulisan sastra pilihan, wawasan budaya Penginyongan, dan informasi agenda terbaru langsung di kotak masuk surel Anda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *