Berbicara tentang puisi, kerap berkelindan dengan sepi, dengan sunyi. Puisi merupakan perwujudan ide dari seorang penyair. Ia membaca dan memindai segala sesuatu dengan lebih dalam yang ada di sekitarnya, kemudian diolah dan diwujudkan dalam bentuk bahasa yang memiliki nilai estetika tersendiri. Motif sunyi dalam perpuisian Indonesia, menjadi satu hal yang tak pernah kering dari pembahasan puisi. Begitulah, yang saya temui, sepi begitu pekat terasa, dalam buku Rahim Embun (2013) karya Yanwi Mudrikah.
Sebagaimana ungkapan pengamat sastra, Martin Suryajaya, yang menyatakan bahwa dasar dari tema sunyi, adalah bermula dari kelahiran Nyanyi Sunyi (1937) karya Amir Hamzah (Suryajaya dalam Rabbani, 2025). Hingga hari ini, motif sunyi mengalami gejolak pasang surutnya sendiri, di jagat perpuisian Indonesia. Sebagai penulis, hal-hal yang berdekatan dan terjadi di sekitar kita kerap menjadi bahan bakar permenungan batin, entah duka akan kehilangan, perpisahan, atau rindu sebagaimana tergambar dalam puisi yang ditulis oleh Yanwi Mudrikah berjudul “Gerimis Itu Menjadi Puisi” (hlm. 53).
hari sudah hampir habis
lekaslah pulang rumah
sebelum
gerimis itu menjadi puisi
Terlihat, suasana yang dimunculkan adalah semacam kesunyian dalam kesendirian. Larik “lekaslah pulang rumah / sebelum // gerimis itu menjadi puisi” merupakan larik yang sederhana. Bagian “gerimis menjadi puisi” adalah metafora yang sangat rekah dan segar. Saya melihat, gerimis dihadirkan bukan semata sebagai fenomena alam, melainkan simbol kondisi batin, keadaan rapuh yang jika dibiarkan, akan menjelma bahasa. Pulang, dalam konteks ini, bukan sebagai tindakan fisik, tetapi upaya kembali ke ruang “aman” sebelum perasaan tercerai-berai menjadi kata-kata.
Dalam Rahim Embun, puisi-puisi Yanwi kerap bergerak pada wilayah antara suasana personal dan kontemplatif. Judul buku ini sendiri mengandung paradoks yang menarik, yakni “rahim” sebagai simbol asal kehidupan, berkelit-kelindan dengan “embun” yang secara sederhana kita ketahui sejuk namun sementara. Hal ini sebagaimana hidup, tak selalu damai yang kita jumpai, sesekali dan bahkan mungkin kerap berulang kali dunia menghantam, lantas kemudian itu akan tertuang dalam bait-bait puisi.
Jika pada puisi “Gerimis Itu Menjadi Puisi” subjek lirik masih berada dalam posisi menahan, menghindari kata agar perasaan tak pecah, maka pada puisi ini, perasaan justru dibiarkan berbicara dengan intensitas yang lebih telanjang. Gerimis kembali hadir sebagai citraan pembuka, tetapi kali ini ia menyertai kehadiran “engkau”, sosok yang menjadi pusat relasi emosional sekaligus spiritual. Hal ini terlihat dalam puisi berjudul“Jamahlah Aku dengan Surgamu” (hlm. 43):
engkau berjalan melewati gerimis malam
menyuguhkan keabadian
menelan rindu yang
perih
kesederhanaan kau impikan
jamahlah aku dengan surgamu
menutupi kain keperempuananku
Larik “menyuguhkan keabadian / menelan rindu yang / perih” memperlihatkan ambivalensi pengalaman batin antara keabadian dan perih berada dalam satu tarikan napas. Yanwi tidak berupaya memisahkan cinta dari luka, keduanya seakan hadir sebagai konsekuensi dari keterlibatan sisi emosional yang mendalam. Diksi “menelan” memberi kesan bahwa rindu bukan sekadar dirasakan, tetapi dipaksa masuk, diterima dengan seluruh risiko pedih perihnya.
Diksi “rindu” mendominasi dalam buku puisi ini. Sebab itu, tema utama dalam buku puisi ini bergerak pada nuansa “kerinduan”. Betapapun, diksi menjadi salah satu pondasi utama lahirnya puisi. Puisi menjadi medium yang memungkinkan perasaan bertahan tanpa harus diselesaikan. Ia menjadi katarsis, sebagaimana kesedihan mencari tempat pulang pada sejumlah hiburan, termasuk musik dan tontonan. Saya rasa, sebagaimana itu pula puisi menjalankan fungsinya.
Puisi tak pernah terlahir dari ruang kosong (Teeuw, 1980: 11). Hubungan intertekstualitas atau kekerabatan antarpuisi pun terjadi antara karya seorang penyair dengan karya penyair lain (Pradopo, 2014). Saya membaca puisi berjudul “Doa” dalam buku ini, dan sontak teringat puisi “Doa” dari Chairil Anwar. Dalam puisi “Doa” (hlm. 39), Yanwi menuliskan:
secercah harapan kukecup mesra
perlahan-lahan
tanpa batas
hingga cakrawala
Dalam konteks ini, puisi “Doa” karya Yanwi memperlihatkan hubungan intertekstualitas yang cukup kuat dengan puisi “Doa” karya Chairil Anwar. Keduanya sama-sama menjadikan doa sebagai ruang batin, tempat subjek lirik berhadapan langsung dengan Yang Ilahi, namun dengan nada dan posisi eksistensial yang berbeda.
Pada puisi Chairil Anwar, pengulangan kata “Tuhanku” membangun suasana keterdesakan dan kepasrahan. Subjek lirik berada dalam kondisi terpecah: “aku hilang bentuk / remuk” dan memosisikan dirinya sebagai pengembara yang terasing. Sementara itu, puisi “Doa” karya Yanwi bergerak dalam nada yang jauh lebih lirih dan intim. Larik “secercah harapan kukecup mesra” menghadirkan hubungan yang lembut antara subjek lirik dan harapannya. Chairil menegaskan relasi vertikal dengan Sang Maha dengan penuh kegentingan, dan Yanwi menampilkan relasi spiritual dengan personal, sejalan dengan kecenderungan puisi-puisi dalam buku ini yang menempatkan perasaan sebagai ruang utama pengalaman batin.
Meminjam pernyataan Acep Zamzam Noor (2018), bahwa nilai puisi tidak semata-mata terletak pada apa yang diungkapkan, tapi lebih pada bagaimana cara mengungkapkan. Puisi-puisi dalam buku ini berhasil menegaskan hal tersebut, dengan segala unsur tekstual atau ekstra-tekstual yang ada.
Sebagai penutup, tak asing lagi bahwa tulisan sering menjadi media katarsis manusia dalam menghadapi segala kekalutannya. Kita sering gagap ketika menjumpai hal-hal yang membuat malam seakan terasa mencekam dan semakin panjang. Di tengah dunia yang kian menuntut ketersegeraan, kebisingan, dan kerap membiaskan penderitaan sebagai sesuatu yang harus segera diatasi atau dilupakan, sastra dalam hal ini puisi menjadi tombak sebagai ruang perlawanan yang sunyi. Membaca buku Rahim Embun ini, seolah kita diperlihatkan hal tersebut, dan diajak untuk menyelami hidup lebih dalam lagi, dan semoga kita menemukan kesejukan dalam penyelaman itu, lagi dan lagi.
Referensi:
Anwar, Chairil. (2018). Aku Ini Binatang Jalang. Jakarta: Gramedia.
Hamzah, Amir. (2004). Nyanyi Sunyi. Jakarta: Dian Rakyat.
Mudrikah, Yanwi. (2013). Rahim Embun. Yogyakarta: Mitra Media.
Noor, Acep Zamzam. (2018). “Apresiasi Puisi dalam Gerakan Literasi”. FON: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 13 (2), hlm. 18-41.
Pradopo, Rachmat Djoko. (2014). Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Rabbani, Ilham. (2025). Studi Puisi & Dua Impresi. Yogyakarta: Jejak Pustaka.
Teeuw, A. (1980). Tergantung pada Kata. Jakarta: Pustaka Jaya.




