Banyumas merupakan sebuah wilayah yang dikenal egaliter dan sederhana. Selain itu juga menyimpan banyak jejak sejarah yang belum sepenuhnya terungkap. Di tengah hiruk-pikuk modernisasi, masih ada peninggalan kuno yang tetap berdiri, diam, dan setia menjadi saksi zaman. Salah satunya adalah Situs Batu Guling di Desa Datar, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas. Situs ini berupa bongkahan batu besar berbentuk lonjong yang menyerupai guling tidur. Sekilas terlihat biasa, namun di balik bentuknya tersimpan kisah panjang peradaban manusia, dari masa megalitikum hingga sinkretisme spiritual Islam.
Nama “Batu Guling” sendiri mengandung daya tarik. Masyarakat setempat percaya bahwa batu ini bisa bergerak atau berguling pada waktu-waktu tertentu. Cerita ini memperlihatkan betapa benda purba bukan sekadar artefak arkeologis, melainkan juga jalinan narasi antara mitos, sejarah, dan keyakinan kolektif masyarakat Banyumas.
Secara akademis, Batu Guling dikategorikan sebagai bagian dari tradisi megalitikum. Tradisi ini berkembang di Nusantara sejak sekitar 2500–1500 SM, ditandai dengan penggunaan batu besar sebagai media ritual. Situs Batu Guling di Desa Datar adalah sisa dari punden berundak, sebuah bentuk bangunan megalitik bertingkat yang lazim digunakan untuk pemujaan arwah leluhur.
Menurut catatan resmi Pemerintah Kabupaten Banyumas, Batu Guling awalnya memiliki tiga teras yang tersusun ke arah Gunung Slamet, sebuah gunung yang sejak lama dianggap sakral. Kini, hanya tersisa teras ketiga, sedangkan dua teras lainnya hilang akibat faktor alam dan kurangnya pemeliharaan. Pada area situs masih ditemukan dua menhir dengan tinggi sekitar 137 cm dan diameter 42 cm, serta sebuah batu lumpang berdiameter 46 cm. Luas kompleks situs sekitar 5 × 4 meter.
Kehadiran menhir dan batu lumpang memberi indikasi kuat bahwa Batu Guling dulunya merupakan pusat aktivitas ritual. Menhir biasanya berfungsi sebagai penanda makam leluhur atau tiang simbolis penghubung dunia manusia dengan dunia spiritual. Sementara itu, batu lumpang bisa digunakan dalam ritual persembahan atau sebagai simbol kesuburan. Dengan demikian, Batu Guling dapat dipandang sebagai representasi kosmologi masyarakat prasejarah di Banyumas.
Seiring berjalannya waktu, Batu Guling tidak hanya dipahami sebagai peninggalan purbakala, tetapi juga menjadi bagian dari tradisi lisan masyarakat. Warga Desa Datar percaya bahwa batu ini memiliki daya gaib. Salah satu cerita yang paling populer adalah keyakinan bahwa batu tersebut bisa berguling dengan sendirinya. Dari sinilah nama “Batu Guling” lahir.
Mitos lain menyebutkan bahwa siapa pun yang berniat jahat di sekitar batu ini akan tertimpa malapetaka. Cerita-cerita ini berfungsi sebagai mekanisme sosial untuk menjaga kesakralan situs agar tidak dirusak atau diperlakukan sembarangan. Dalam studi folklor, mitos semacam ini merupakan bagian dari strategi masyarakat untuk melestarikan situs budaya melalui narasi simbolik.
Menariknya, Batu Guling juga dikaitkan dengan figur Syekh Maulana Maghribi, seorang tokoh ulama yang kerap disebut sebagai penyebar awal Islam di Jawa. Narasi lisan masyarakat Banyumas menyebutkan bahwa Syekh Maulana Maghribi pernah singgah di kawasan Batu Guling dalam perjalanan dakwahnya. Batu yang menjadi sisa punden berundak ini dipercaya pernah digunakan beliau sebagai tempat berdoa.
Kisah tentang Syekh Maulana Maghribi memang tersebar luas di berbagai daerah di Jawa. Di Yogyakarta, masyarakat mengenal petilasan beliau di kawasan Parangtritis. Penelitian folklor mencatat bahwa mitos makam Syekh Maulana Maghribi di Parangtritis dipandang sebagai simbol kehadiran spiritual Islam sekaligus titik dakwah di kawasan pesisir selatan (Rahmawati, 2023). Di Batang, Jawa Tengah, masyarakat juga meyakini adanya makam beliau di Wonobodro, Ujung Negoro, yang hingga kini ramai diziarahi.
Fenomena ini menunjukkan bahwa Syekh Maulana Maghribi adalah figur yang hadir tidak hanya dalam catatan sejarah, tetapi juga dalam imajinasi kolektif masyarakat Jawa. Keberadaan banyak makam atau petilasan yang diklaim sebagai miliknya menunjukkan bahwa beliau lebih dari sekadar tokoh sejarah; beliau adalah ikon spiritual yang melintasi batas geografis.
Keterkaitan antara Batu Guling dan Syekh Maulana Maghribi menggambarkan sebuah fenomena penting dalam sejarah budaya Jawa, yakni sinkretisme. Batu Guling awalnya merupakan situs ritual prasejarah yang berfungsi dalam konteks animisme dan dinamisme. Namun, setelah Islam masuk, situs ini diberi tafsir baru melalui kisah Syekh Maulana Maghribi.
Dengan demikian, Batu Guling tidak lagi hanya dianggap sebagai peninggalan leluhur, tetapi juga sebagai tempat bersejarah dalam dakwah Islam. Pola semacam ini sangat khas dalam proses Islamisasi di Jawa, di mana para wali dan ulama tidak menolak tradisi lokal, melainkan menafsirkannya kembali agar sesuai dengan nilai-nilai Islam (Azra, 2004). Hal ini memungkinkan Islam diterima dengan lebih damai dan organik di tengah masyarakat Jawa.
Selain nilai historis dan religius, Batu Guling juga memiliki fungsi identitas. Banyumas sering dipersepsikan sebagai daerah “egaliter” yang tidak terlalu menonjolkan simbol-simbol tradisi besar seperti Yogyakarta atau Surakarta. Namun, situs seperti Batu Guling menunjukkan bahwa Banyumas memiliki warisan budaya yang sama tuanya dan sama berharganya. Keberadaan Batu Guling memperkuat pandangan bahwa identitas Banyumas bukan hanya tentang logat ngapak atau makanan khas, melainkan juga tentang warisan arkeologis dan spiritual. Situs ini adalah jejak peradaban panjang yang bisa menjadi kebanggaan kultural masyarakat Banyumas.
Batu Guling memberi kita kesempatan untuk merenung: apa arti sebuah batu besar bagi masyarakat modern? Di satu sisi, ia adalah artefak arkeologi yang bisa diteliti secara ilmiah. Di sisi lain, ia adalah simbol spiritual yang hidup dalam kesadaran kolektif masyarakat. Dalam era modern yang cenderung menekankan rasionalitas, situs seperti Batu Guling mengingatkan kita bahwa manusia tidak pernah bisa sepenuhnya lepas dari akar spiritual. Batu ini menjadi saksi bahwa sejarah selalu bergerak melalui perjumpaan antara tradisi lama dan nilai-nilai baru.
Situs Batu Guling di Desa Datar, Banyumas, bukan hanya bongkahan batu besar yang aneh. Ia adalah penanda perjalanan peradaban: dimulai dari ritus megalitikum, dilanjutkan dengan mitos rakyat, kemudian mendapat tafsir baru melalui dakwah Syekh Maulana Maghribi. Semua itu membentuk mosaik identitas Banyumas yang kaya warisan budaya.
Batu Guling bukan sekadar artefak, melainkan narasi hidup tentang bagaimana masyarakat merawat ingatan kolektif mereka. Ia mengajarkan kita bahwa sejarah tidak pernah benar-benar hilang; ia hanya menunggu untuk didengar kembali.
Referensi
Azra, A. 2004. Islam Nusantara: Jaringan global dan lokal. Bandung: Mizan.
Fitria Rahmawati. 2023. Mitologi Makam Syekh Maulana Maghribi di Parangtritis: Kajian Folklor. Skripsi, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Pemerintah Kabupaten Banyumas. 2021. Situs Batu Guling di Desa Datar. Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata Banyumas.




