Aku memiliki seorang teman. Ia orang cerdas dan unik ―untuk tidak mengatakannya aneh dan agak sinting― yang suka sekali meneliti hal-hal aneh. Bagaimana tidak aneh jika judul-judul tulisan yang ia susun saja sudah menunjukkan keanehannya itu. Seperti Mengapa Mulut Busuk Bajingan Kaya Lebih Didengarkan Dibandingkan Nasehat Orang Saleh yang Miskin, lalu Memperkenalkan Kelas Penganggur Sebagai Kelas Sosial Ketiga Setelah Kelas Borjuis & Proletar, kemudian Dominasi Manusia Topeng & Manusia Kemasan; Melihat Kembali Nilai Manusia Sebagai Komoditi, dan Orang Miskin Dilarang Sakit, Apalagi Sakit Karena Cinta, serta Orang Jelek, Miskin, dan Bajingan Lebih Baik Kembali Masuk ke Dalam Rahim Ibu. Lihatlah judul-judul tulisannya, betapa temanku ini adalah peneliti yang aneh, provokatif, tekun, tak terduga pikirannya, dan seringkali disalahpahami. Namanya adalah Sanrowi.
Sanrowi tentu saja seringkali turun ke lapangan untuk mendapatkan datanya, atau mengamati objeknya, meneliti bagaimana perkembangan dari objeknya. Atau bahkan menjadi subjek sekaligus objek penelitannya sendiri. Dia sering melakukan wawancara dengan orang-orang random, juga kerap pergi ke perpustakaan untuk mencari serta mengumpulkan bahan, dan tentu saja pamer hasil penelitiannya kepadaku.
Saat aku tanyakan mengapa ia mau dan rela melakukan semua keribetan dan keruwetan itu, ia hanya menjawab enteng “aku ingin tahu.” katanya. Kuakui dia memiliki prasyarat dan bakat menjadi seorang peneliti professional. Setidaknya ia sudah memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, dan menurutku itu sudah menjadi modal yang cukup agar ia bisa menjalankan passionnya, kegemarannya meneliti dengan sepenuh hati.
Setiap selesai melakukan suatu penelitian, ia selalu memamerkan hasil penelitiannya kepadaku dengan wajah sumringah dan seringkali pongah sambil membusungkan dada. Aku yang melihatnya kadangkala iri, dan kesal sendiri dibuatnya. Karena ia sering membawa-bawa penelitiannya dalam diskusi kami, dan ia sering menang, sering benar. Dan karena kegemarannya meneliti serta kesibukannya itu, dan terutama karena keanehannya itu, temanku ini jadi jarang pacaran. Lebih tepatnya tak ada perempuan yang mau dekat-dekat dengannya.
Mungkin benar jika ada anggapan bahwa Sanrowi hanya mencintai penelitian dan hasil penelitiannya, selain itu sepertinya tidak ada hal yang bisa menggerakan hatinya. Ia meneliti dengan penuh kecintaan dan kebahagiaan semacam itu, ia selalu memasang wajah bungah ketika melakukan suatu penelitian. Meskipun kadangkala ia akan menemui jalan buntu dalam penelitiannya. Namun entah mengapa ia selalu bisa keluar dari jalan buntu itu. Suatu kekeraskepalaan, keuletan, dan kebulatan tekad yang patut diacungi jempol.
Tapi anehnya akhir-akhir ini, aku melihat wajah Sanrowi selalu murung. Ia selalu terlihat memasang wajah sedih, kuyu dan jelek, dengan kantung mata yang sudah mulai menghitam dengan mata merah seperti seorang pemabuk. Ketika kutanya dia sedang kenapa, ia hanya diam saja, dan menundukan kepala, lalu kemudian menangis. Ia benar-benar menangis seperti anak kecil yang tidak dibelikan mainan oleh ibunya.
“Ini penelitianku yang paling berhasil Mad,” katanya. Aku yang tidak mengerti apa yang sedang ia bicarakan, hanya mengernyitkan dahi, lalu beberapa saat kemudian menyahutinya.
“Kalau paling berhasil, mengapa sekarang kau malah jadi berantakan begini San?” tanyaku, sambil melihat dia dengan penampilannya yang acak-acakan, dan rambut yang tak karu-karuan.
“Karena keberhasilannya yang sempurna itulah yang membuatku jadi menderita begini,” katanya masih terisak. Aku tidak tahu ucapan paradoks macam itu ‘karena berhasil ia jadi menderita’ aku benar-benar tidak tahu apa yang sebenarnya ingin Sanrowi ucapkan. (Sampai kemudian nanti aku baru tahu makna dan konteks dari kalimat-kalimat yang ia ucapkan sambil berleleran air mata itu).
“Aku sendiri bingung dengan perasaanku. Seharusnya aku senang dengan keberhasilan penelitianku ini. Tapi nyatanya hatiku malah jadi pedih & perih begini,” katanya sambil memegang dadanya. Sungguh dramatis sekali.
“Memangnya penelitian macam apa yang kau lakukan?” tanyaku sambil berpura-pura memasang wajah ikut sedih dan prihatin
“Aku memiliki tesis tentang bagaimana cara terbaik untuk menyakiti diri sendiri.”
“Hah? Menyakiti diri sendiri?”
“Iya benar.”
“Lalu?”
“Aku merancang hipotesisnya dan menemukan jawabannya, bahkan aku sudah mengunci kesimpulannya. Dan ini benar-benar penelitian paling gilang gemilang yang pernah aku lakukan sepanjang hidupku, sepanjang karir penelitianku,” ia mengatakan itu dengan menggebu-gebu.
“Jadi mengapa kau bersedih? Memang apa hasilnya?” tanyaku sekali lagi. Ia hanya diam. Lama ia tidak menjawab pertanyaanku. Ia malah menangis sesenggukan lagi, air matanya berleleran di pipi. Dan aku tidak tahu bagaimana menghadapi seorang lelaki yang tengah menangis, terlebih lelaki itu adalah Sanrowi.
“Ternyata cara terbaik untuk menyakiti diri sendiri adalah dengan cara jatuh cinta kepada seseorang yang kau tahu tak akan pernah mencintaimu,” katanya pelan, tapi mantap. Mendengar hai tu aku hanya tertawa terpingkal-pingkal, sampai perutku sakit, dan air mata mengalir di ujung pelupuk mataku.
“Bajingan sialan!!! Hahaha. Bukankah itu sudah jelas.”
“Tidak, itu belum jelas bagiku, sampai kemudian aku menelitinya sendiri.”
“Hahaha goblok sekali, memangnya perempuan mana yang menyakitimu king? Haha”
“Kau tahu Nesya Mad?”
“Mahasiswi idola di Fakultas Sastra itu?”
“Iya.”
“Kenapa dengan dia?”
“Aku sengaja jatuh cinta kepadanya untuk membuktikan tesisku itu, dan hasilnya seperti yang kau tahu Mad” tangisnya bertambah deras, dan ia sesenggukan seperti baru saja ditinggal mati oleh kedua orangtuanya.
“Hahaha benar-benar orang tolol,” umpatku.
Mendengar pengakuannya itu tentu saja aku hanya bisa tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepala lalu tersenyum-senyum sendiri seperti orang gila. Sanrowi, temanku yang unik itu sudah berhasil meneliti dan membuktikan apa yang selama ini sebenarnya sudah menjadi pengetahuan umum, rahasia umum. Namun kebanyakan dari orang-orang umum itu tidak berani membukitkanya, tidak berani melakukannya. Tapi Sanrowi, sang peneliti, teman aku yang aneh dan sedikit gila itu sepertinya jika tidak melakukannya sendiri dan tidak merasakannya sendiri, ia tidak akan percaya. Dan pengetahuan umum itu, jika tidak ia buktikan sendiri, menurutnya menjadi “tidak sahih dan tidak valid” begitu kalau meminjam kata-kata Sanrowi, temanku yang aneh itu.
“Ternyata cara terbaik untuk menyakiti diri sendiri adalah dengan cara jatuh cinta kepada seseorang yang kau tahu tak akan pernah mencintaimu.” Kata-kata dari Sanrowi itu terus menerus terngiang di dalam kepalaku. Aku jadi tersenyum-senyum sendiri. Atau lebih tepatnya aku juga menyimpan kesedihan dan kegetiran hatiku sendiri di balik senyuman itu. Soalnya kesimpulan yang Sanrowi buat itu nyatanya memang benar dan sangat amat tepat, dan brengseknya aku juga sedang merasakannya.
“Ternyata cara terbaik untuk menyakiti diri sendiri adalah dengan cara jatuh cinta kepada seseorang yang kau tahu tak akan pernah mencintaimu.”
Kuberitahu ya, aku sedang mencintai seorang perempuan juga, dan perempuan itu tidak pernah mencintaiku. Dan kutegaskan sekali lagi, bahwa kesimpulan dari penelitian Sanrowi itu benar, meskipun tentu saja itu semua masih bisa diperdebatkan. Tapi aku meyakini, dan mempercayainya; bahwa cara terbaik untuk menyakiti diri sendiri adalah dengan carajatuh cinta kepada seseorang yang kau tahu tak akan pernah mencintaimu. Asu.
Banyumas, November 2025.




