
Dewandaru Ibrahim Senjahaji (Cerita Pendek)
Dewandaru Ibrahim Senjahaji adalah penulis dan akademisi yang aktif dalam dunia sastra dan pendidikan, dikenal melalui publikasi cerpen, esai, serta karya ilmiah di berbagai media, antara lain cerpen “Harusnya Aku ke Sini Bersamamu, Pram” di Radar Banyumas dan “Kang Sareh” di Rakyat Sultra, serta artikel bertema literasi seperti “Percakapan Itu Terhenti” di Republika.id. Ia menempuh pendidikan di IAIN Purwokerto (kini UIN Saizu) dan menyelesaikan skripsi berjudul “Konsep Mencari Ilmu dalam Syair Sun Ngawiti Karya Kyai Sa’dullah Majdi”, yang menegaskan minat akademisnya pada kajian sastra dan syair.

Jefriyanto (Cerkak)
Jefriyanto merupakan pujangga Jawa modern yang dikenal melalui antologi geguritan Prabayekti, sebuah kumpulan puisi Jawa gaya baru (gagrak anyar) yang mengekspresikan pengalaman personal pengarang, terutama tentang cinta, kehidupan, dan perjalanan spiritual, dengan menekankan keindahan bahasa serta kedalaman rasa. Geguritan-geguritannya tidak terikat pada aturan ketat tembang macapat seperti guru gatra, guru wilangan, dan guru lagu, sehingga menghadirkan kebebasan berekspresi dan fleksibilitas bentuk sebagai ciri puisi Jawa modern. Karya Prabayekti tidak hanya penting secara estetik, tetapi juga telah menjadi objek penelitian sastra untuk menganalisis unsur-unsur pembangunnya, termasuk kajian struktural dan semiotika, serta ekspresi cinta di dalamnya, yang menegaskan posisi Jefriyanto sebagai tokoh penting dalam perkembangan sastra Jawa modern.

Ilham Rabbani (Puisi)
Ilham Rabbani adalah akademisi dan sastrawan asal Lombok yang menonjol dalam bidang sastra dan pendidikan, dengan latar belakang pendidikan S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Ahmad Dahlan (UAD), S2 Magister Sastra di Universitas Gadjah Mada (UGM), serta per tahun 2025 tercatat sebagai mahasiswa program Doktoral (S3) Ilmu-Ilmu Humaniora di UGM. Ia berprofesi sebagai dosen tetap pada Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), serta aktif berkarya dalam dunia sastra melalui penulisan puisi dan resensi, tergabung dalam kelompok belajar sastra Jejak Imaji Yogyakarta, dan memublikasikan karya-karyanya di berbagai media sastra nasional.

Bayu Suta Wardianto (Esai)
Bayu Suta Wardianto adalah peneliti, penulis, dan akademisi muda asal Tegal, lahir pada 18 Maret 1998, yang aktif di bidang bahasa, sastra, dan kebudayaan, khususnya melalui keterlibatannya dalam penelitian di Lembaga Kajian Nusantara Raya (LK Nura) UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto. Ia dikenal sebagai peneliti bahasa dan sastra, dosen tamu di UIN Saizu dan Universitas Amikom Purwokerto, serta penulis karya ilmiah dan puisi yang mengkaji ekspresi berbahasa, puitika, dan praktik kebahasaan pada masa pandemi. Minat keilmuannya mencakup bahasa, sastra, penelitian, serta mural sebagai medium ekspresi bahasa dan kritik sosial, dengan karya-karyanya dipublikasikan di berbagai jurnal ilmiah, situs sastra, serta dapat diakses melalui platform seperti Lembaga Kajian Nusantara Raya, Google Scholar, dan Garuda.

Wanto Tirta (Geguritan)
Wanto Tirta adalah budayawan dan sastrawan ternama asal Desa Kracak, Ajibarang, Banyumas, Jawa Tengah, yang dikenal luas dengan julukan Presiden Geguritan Banyumas serta menjadi tokoh kunci dalam pelestarian bahasa dan sastra Jawa dialek Banyumasan (penginyongan). Ia aktif menulis geguritan dan parikan, terlibat dalam teater, ketoprak, serta berbagai seni pertunjukan, dan berperan dalam Komite Sastra Dewan Kesenian Kabupaten Banyumas (DKKB) serta Komunitas Orang Pinggiran Indonesia (KOPI). Karya-karyanya meliputi sastra lisan dan tulis, baik dalam bahasa Jawa maupun bahasa Indonesia, di antaranya geguritan “Mboke” yang dikaji secara akademis serta puisi “Air Mata di Antara Batu Nisan”, “Doa Sebutir Pasir”, dan “Di Lorong Sunyi”. Hingga tahun 2025, ia konsisten menggiatkan literasi dengan membimbing siswa dan guru dalam menulis guritan sebagai upaya menjaga eksistensi bahasa ibu di tengah arus digitalisasi, dan dedikasinya diakui melalui penghargaan Gatra Budaya Bidang Sastra.

Cesilia Prawening (Cerita Anak)
Cesilia Prawening adalah akademisi, penulis, dan praktisi pendidikan anak usia dini (PAUD) asal Indonesia, lahir di Sukoharjo pada 24 Februari 1998, yang sejak tahun 2022 menjabat sebagai pengajar tetap Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) di Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Purwokerto. Ia menyelesaikan pendidikan Sarjana (S1) PIAUD di IAIN Purwokerto (kini UIN SAIZU) dan telah menamatkan studi Magister (S2), dengan keahlian utama pada bidang PIAUD, literasi, dan psikologi pendidikan. Selain aktif mengajar dan meneliti isu perkembangan moral anak, kesadaran tubuh, serta metode pembelajaran jarak jauh, ia juga terlibat dalam gerakan literasi sebagai anggota Rumah Kreatif Wadas Kelir (RKWK) sejak 2017, menjadi pengajar di RA RKWK Karangklesem, serta produktif menulis karya ilmiah, buku bacaan anak, dan artikel parenting yang diterbitkan oleh penerbit seperti Grasindo, Rosda Karya, dan Balai Bahasa Jawa Tengah, serta hingga tahun 2025 terus aktif dalam pengabdian masyarakat, termasuk pemberdayaan remaja berbasis literasi.

Yanwi Mudrikah (Ulasan Buku)
Yanwi Mudrikah adalah penyair perempuan terkemuka asal Banyumas, Jawa Tengah, yang dikenal sebagai salah satu agen puitis perempuan aktif dalam peta kesastraan daerah tersebut serta pegiat di Komunitas Sastra Gubug Kecil Indonesia. Ia memiliki latar belakang pendidikan hingga jenjang Magister (M.Pd.) dan pernah berprofesi sebagai dosen tamu di sebuah perguruan tinggi swasta di Cilacap, sekaligus terlibat dalam kegiatan penelitian akademis. Dalam bidang sastra, ia telah menerbitkan sejumlah buku dan kumpulan puisi, termasuk kumpulan sajak Menjadi Tulang Rusukmu, dengan karya-karyanya yang kerap dipublikasikan di media lokal dan nasional serta platform sastra seperti LiteraSIP, dan dikenal memiliki karakteristik kepenulisan yang mengeksplorasi pengalaman personal, harapan, serta realitas sosial melalui gaya bahasa kiasan yang khas.

Rasman Maulana (Pancawarna)
Rasman Maulana adalah seniman muda dan sastrawan asal Banyumas yang dikenal melalui karya seni rupa serta kontribusinya dalam dunia literasi, dengan aktivitas utama sebagai pelukis, penulis, dan wirausaha kreatif. Ia kerap menyelenggarakan pameran lukisan, termasuk pameran tunggal bertajuk Lelayu yang digelar pada Desember 2023 di Banyumas, dengan karya-karya bercorak surealis yang mengangkat tema reflektif tentang kehidupan dan kematian. Selain berkarya di bidang seni rupa, ia juga aktif dalam dunia sastra dan penulisan, tercatat sebagai salah satu penyusun buku Biografi Sastrawan Banyumas, serta rutin menulis artikel opini keagamaan dan sosial yang dipublikasikan di platform media seperti LP Ma’arif NU Jawa Tengah dan Dunia Santri. Di bidang wirausaha kreatif, Rasman Maulana merupakan pendiri dan CEO Penerbit Mata Nusantara serta mengelola akun seni ilustrasi Mata Pijar.
.

