Di dalam bus yang penuh sesak, Enggar melihat pertunjukan hebat. Tangan-tangan terampil dua orang pencopet beraksi. Satu orang memepet bapak tua di depannya, dan satu lagi mengambil dompet yang terselip di saku celana. Berhasil! Dua pencopet itu melancarkan atraksi dengan mulus. Mereka berangsur menjauh, dan menghentikan bus. Seorang dari mereka yang sempat menangkap kekaguman di mata Enggar, masih sempat memamerkan senyum bangga. Harusnya Enggar segera berteriak agar para pencopet itu tertangkap, ini justru terpesona. Bodohnya!
Enggar memandang amplop besar di tangannya, berkas-berkas di dalamnya belum juga membuahkan hasil. Padahal ia sudah lebih dari sebulan keluar masuk beberapa kantor. Ternyata mencari pekerjaan tidak semudah seperti yang ia bayangkan saat duduk di bangku sekolah. Kenyataan pedih bahwa nilai mentereng tidak begitu berpengaruh daripada relasi dan uang memang benar adanya.
Enggar iri melihat dua pencopet tadi, dengan gampangnya mereka menyelesaikan satu pekerjaan hari ini. Mungkin saat ini mereka sedang memesan lauk enak di salah satu warung makan, merayakan keberhasilan. Sementara dirinya sudah tidak punya cukup uang untuk makan layak, makan siangnya saja harus dibagi dua untuk malam nanti, apalagi untuk membayar kos, ia harus cepat-cepat hengkang dari kamar kecilnya. Tak terbayang malunya jika Enggar harus pulang ke kampung dengan sebuah kekalahan. Ia nelangsa membayangkan adik-adiknya harus putus sekolah karena tak bisa membayar uang gedung, padahal dirinya berhasil tamat SMA.
Sekelebat ide menarik terbesit di kepala Enggar, namun ia cepat-cepat menepis kegilaan itu. Astaghfirullah, eling Nggar!
…
“Sudah dapat pekerjaan atau belum, nang?” Ibu masuk ke pertanyaan inti dari telepon malam ini. Enggar mafhum bagaimana keadaan keluarganya di kampung. Harusnya Enggar sudah mulai mengirimkan uang bulanan, namun sampai saat ini ia masih luntang-lantung tidak jelas.
“Belum, maaf nggih Bu.”
“Gapapa nang, maaf ya Ibu sama Bapak nggak bisa bantu apapun.”
“Mas, jangan lupa mobil-mobilanku yang pakai remot ya.” Suara adik kecilnya membuat Enggar semakin pilu. Ia tetap mengiyakan permintaan itu dengan semangat. Di belakang sana ibunya terdengar mengingatkan sang adik untuk tidak meminta yang aneh-aneh pada masnya.
“Sudah salat, Nggar?” Suara Bapak ikut menimbrung percakapan. Sosok yang tak pernah lupa mengingatkan pada kebaikan.
“Sudah, Pak.”
“Bapak sama Ibu cuma bisa bantu doa dari sini. Tetep eling Gusti Allah, nang. Jadikan sabar dan salatmu sebagai penolong di sana.”
Selepas menutup sambungan telepon dari kampung, Enggar kembali sibuk dengan isi kepalanya. Atraksi para pencopet siang tadi kembali terngiang dalam ingatan. Andai saja bisa melakukan hal serupa, mungkin ia tak perlu merisaukan hidupnya beberapa hari ke depan, dan bisa fokus mencari pekerjaan. Atau, coba saja? Sebab keadaan seperti menghimpit dirinya untuk tidak memiliki pilihan lain. Toh, Enggar tidak akan mengulangi perbuatan tercela seperti ini jika sudah mendapatkan pekerjaan.
…
Enggar memantapkan hatinya. Ia menunggu bus di depan gang tempatnya menyewa sepetak kamar. Ia sudah hafal, kapan bus yang biasa ditumpangi akan ramai penumpang. Targetnya adalah pekerja kantoran atau ibu-ibu yang hendak belanja ke pasar. Enggar juga sudah meneguhkan hatinya untuk hanya melirik mereka yang berpenampilan necis. Ia masih punya hati nurani untuk tidak mengambil dompet orang-orang yang sederajat dengannya, alias sengsara. Lagi pula untuk apa mencopet dari orang yang isi dompetnya recehan seperti dirinya.
Bus lumayan ramai hari ini, banyak penumpang yang terpaksa berdiri, Enggar memutuskan ikut berbaur di antara mereka. Ia mengamati isi bus yang terlihat sangat sibuk. Hatinya begitu tak karuan sedari tadi, tapi ia mencoba tetap fokus. Perhatian Enggar mengarah pada bapak paruh baya yang menyandang tas hitam di pundaknya. Setelan kantoran, berkacamata, dan memakai jam yang terlihat mahal, tepat! Enggar mengunci targetnya.
Rasa was-was terus mengintai dirinya. Jika berhasil, mungkin Enggar bisa makan cukup untuk beberapa hari ke depan, tapi jika gagal, alamat dia akan diamuk masa dan entah apa yang akan terjadi setelahnya. Enggar ngeri membayangkan dirinya dijadikan sasaran bogem banyak orang. Tidak. Jika Enggar melakukannya dengan hati-hati, ia pasti berhasil. Bismillah … aduh, setelah mengucapkan basmalah dalam hati, perasaan Enggar malah semakin tak karuan. Rasa bersalah ikut menghantui dirinya, bisa-bisanya membawa nama-Nya saat akan melakukan perbuatan tercela.
Enggar mencoba kembali fokus mengunci targetnya. Ia terus masuk dalam kerumunan penumpang. Mencari celah terbaik untuk mengambil dompet sasaran. Semakin dekat, Enggar mengamati kanan kirinya, mengira-ngira peluang keberhasilan. Saat Enggar hendak mengulurkan tangannya meraih dompet si bapak paruh baya, ternyata bapak itu menyetop bus dan segera turun dari sana. Enggar terpaku, tangannya kembali ia masukkan ke saku celana yang kosong.
…
Enggar kembali memilih bus untuk menjalankan misinya. Ia sengaja menunggu waktu sore untuk kembali menaiki bus, karena banyak pekerja kantoran yang pulang. Siapa tahu dia mendapati pekerja yang baru menerima gaji, wah, pasti tebal isi dompet mereka. Sungguh, idealisme dalam diri Enggar semakin terkikis. Padahal dulu ia begitu sebal dengan pencopet, bahkan tak jarang ikut memakinya. Manusia tak berperasaan, bisa-bisanya merebut rezeki orang lain yang kita tidak tahu seberapa butuhnya mereka dengan uang itu. Pikiran seperti itu akhirnya tergilas oleh keadaan susah yang ia rasakan saat ini.
Sebuah bus yang sesak berhenti di depannya. Enggar naik, dan segera berbaur dengan penumpang lain. Di beberapa pemberhentian berikutnya, Enggar masih belum beraksi, dia masih memilah-milah korban. Bus semakin sesak, tapi justru ini membuka peluang semakin lebar. Wajah-wajah lelah menyelimuti kepadatan penumpang. Enggar justru senang, karena kemungkinan para penumpang akan lengah dengan barang bawaan mereka. Enggar mengunci targetnya, wanita muda yang terlihat modis. Ia semakin mendekati target, sebelum suara teriakan ikut mengagetkan Enggar.
“Copeeeet!!!”
Enggar kalang kabut. Hebat betul penumpang bus ini, mampu mencium aroma pencopet yang baru mau menjalankan aksi. Enggar bersiap loncat dari pintu belakang bus. Ehh … tunggu dulu. Beberapa penumpang memburu ke arah depan, dan mulai mengeroyok seseorang. Ternyata ada pencopet lain yang ketahuan saat mengambil dompet target. Sopir segera menghentikan busnya ketika penumpang mulai ricuh. Mereka melayangkan pukulan-pukulan dengan sekuat tenaga, seperti meluapkan emosi yang didapat dari tempat kerja. Sopir dan beberapa penumpang menghentikan aksi masa sebelum pencopet itu benar-benar habis. Mereka mengawal pemuda yang wajahnya sudah babak belur keluar bus, menunggu jemputan polisi. Astaga! Enggar tidak percaya, pemuda itu adalah pencopet yang ia lihat tempo lalu. Bagaimana bisa pencopet itu tertangkap? Padahal saat Enggar melihatnya, atraksi mencopetnya begitu hebat. Lalu bagaimana dengan nasibnya yang masih amatiran? Atau lebih tepat disebut sebagai calon amatiran, karena ia belum berhasil sekalipun. Enggar bergidik ngeri, seketika lututnya lemas. Ia mengurungkan niat mencopetnya hari ini dan ikut menenangkan diri bersama sesaknya penumpang.
…
Terlambat. Enggar tertinggal bus yang membawa orang-orang kantor. Semalam kepalanya penuh memikirkan kemungkinan yang akan terjadi hari ini, hingga dirinya tak bisa tidur. Alhasil ketika pagi mulai beranjak, Enggar baru terlelap. Hari ini seperti hari penentuan baginya, jika dirinya tak berhasil mendapatkan uang sepeserpun, maka ia hanya bisa tinggal beberapa hari, lalu pulang, membawa perasaan malu dan bersalah ke hadapan keluarganya.
Enggar berusaha melambaikan tangan pada salah satu bus, meski niatnya tak sekeras sebelumnya, namun ia harus tetap melakukannya.
Bus mulai melaju. Kali ini jumlah penumpang tak begitu banyak, tapi dari perhitungan Enggar, situasi masih aman untuk melancarkan aksi. Ia mulai merapatkan diri ke dalam kerumunan, matanya langsung tertuju pada salah seorang wanita yang kerepotan dengan kantong belanja. Rejeki nomplok! Dompet wanita itu menyembul dari tas pundaknya. Enggar melirik kiri kanan, memastikan tidak ada yang memperhatikannya. Segera saja ia meraih dompet yang sedari tadi ia incar. Hap! Dompet hampir masuk genggaman, sebelum lelaki tua memukul tangannya dan segera menggamitnya keluar. Segera saja bus berhenti mendengar suara lelaki itu menggumam pada sopir.
Lelaki itu membawa Enggar menjauh dari jalan raya. Enggar masih berusaha mencerna apa yang tengah terjadi. Tunggu dulu! Jangan-jangan orang ini hendak membawanya ke kantor polisi? Gawat! Enggar berusaha melepaskan tangannya dari lelaki itu, namun cekalan tangannya justru semakin kuat. Enggar meronta meminta dilepaskan dan memohon ampun.
“Pak, tolong! Saya tidak bersalah Pak, saya tidak melakukan apa-apa.”
“Bohong kamu Nggar! Bapak lihat sendiri kamu mau mencopet, kan? Eling Nggar!” Bapak tua itu mulai meratap. Wajahnya mengingatkan Enggar pada seseorang. Tangan Enggar kembali ditarik agar tubuhnya mengikuti langkah bapak tua itu. Enggar masih mencoba melepaskan genggaman itu, namun entah mengapa lambat laun hatinya tenang. Ia merasakan hawa baik dari orang yang tengah bersamanya.
“Pak Rohim?” Ya Allah, Enggar akhirnya paham siapa orang ini. Beliau adalah guru ngaji Enggar di kampung dulu. Enggar lekas bersimpuh di hadapan bapak tua yang sedari tadi menggenggam tangannya. Ia benar-benar malu menampakkan wajah di hadapannya. Dulu Enggar yang melanjutkan perjuangan beliau mengajar ngaji anak-anak di kampung, sampai akhirnya ia memutuskan merantau.
“Tadi Bapak lihat kamu di bus, niatnya mau menyapa, tapi kok gerak-gerikmu mencurigakan, jadi Bapak ikuti dirimu.”
“Sekeras apapun hidupmu Nggar, harusnya kamu tidak menghalalkan semua cara untuk mendapatkan uang. Istighfar Nggar.” Pak Rohim ikut bersimpuh di depan Enggar, perih dalam hatinya amat terasa, ia gagal memberikan teladan yang baik bagi anak didiknya.
Enggar akhirnya menceritakan segala yang terjadi, termasuk niat jahatnya untuk menjadi pencopet. Kesadaran dalam diri Enggar lambat laun terbuka lagi, hatinya begitu perih menyadari dirinya terlampau jauh melangkah ke jalan yang salah. Tak terbendung tangis Enggar membayangkan bagaimana kecewanya bapak ibu jika tahu dirinya menjadi pencopet.
Pak Rohim mencoba menenangkan Enggar. Ia paham dengan kehidupan Enggar di kampung dulu. Andai saja kehidupan lebih berpihak padanya, mungkin ia bisa mengenyam bangku kuliah dengan mudah. Sayang, nasib berkata lain, ia harus memutuskan niatnya melanjutkan pendidikan, sebab masih ada adik-adiknya yang harus dipikirkan.
“Bapak bisa masukkan kamu sebagai karyawan. Siapa tahu bisa sekalian mengajar ngaji di mushola dekat rumah Bapak, Nggar.”
“Karyawan di mana Pak?” Tanya Enggar penasaran, dirinya seperti mendapat jawaban amat langka di kota besar ini, diterima bekerja!
“Bapak ada usaha kecil-kecilan bikin kerupuk di rumah Nggar. Kamu bisa jadi karyawan tetap Bapak, biar nggak usah repot cari bantuan tetangga kalau lagi banyak pesanan. Gimana?”
Enggar kembali menggamit tangan Pak Rohim, mencoba mencium tangannya dengan takdim sambil menggumamkan terima kasih terus menerus.
“He sudah Nggar, malu Bapak, nanti dikira lagi ada acara apa kok nangis terus.” Mereka berdua akhirnya larut dalam obrolan panjang di warung kopi terdekat, layaknya anak dan bapak yang lama tidak berjumpa.
…
”Mas, makasih ya mobil-mobilannya. Mas Elang juga sudah berangkat sekolah lagi, katanya sudah tidak malu. Ibu juga masak enak hari ini lhoo.” Suara adiknya terdengar bahagia dari sambungan telepon. ”Nggar, suwun ya nang.” Suara Ibu ikut menyahut di belakang sana, sebab adiknya bersikeras memegang telepon sendiri. Enggar tersenyum hangat, kehidupan yang diberikan padanya indah sekali, namun ia seringkali menistakannya.




