PuisiSastra

Sebelum Akad di Pesisir dan Puisi-puisi Lainnya

Sebelum Akad di Pesisir

Menikahlah denganku,
Sebelum cinta menjadi samar.

Sebab laut tak lagi menyimpan bau garam
Dan ikan tengiri anyir dalam rejangan kuali.

Janur yang menguning di pesisir, dua butir kelapa,
Sepasang tanduk kerbau

Dan bunga-bunga mengirim cerita
ke pangkuan seorang ibu
Di lautan.

Sebilah terumbu patah, terbawa arus ke pasir ini
Merayakan lagu perpisahan
Masa lajang.

Seorang penghulu datang
Membawa lamis daun-daun salam,

Siapa hendak kawin hari ini? Katanya.

Musim dan cuaca, telah berubah menjadi situs
yang tak kawin lagi di sura yang agung.

Sempatkah kita lakukan persetubuhan seperti ombak
Yang mengundang sekawanan sembilang
Di bibir pantai

Sedang kini bibirmu telah sunyi,
Terkubur perahu dan jaring-jaring nelayan
Yang memucat.

2026

Ritual Akad di Pesisir

hanya tersisa angka kalender, di hari sekarang
pada punggung alap-alap yang leleh

mercusuar yang diam, di ujung dermaga yang telah mati
menyimpan riuh kegembiraan anak-anak
mengejar kelomang

sebutir kelapa, jajanan pasar, sebungkus rokok, dan
sebungkus nasi yang kau bawa dari kukusan di rumah ibu,
meramaikan hati kau aku yang sempat sunyi.

tak perlu jidor, kenong atau seperangkat gamelan,
ombak tetap menari merayakan cinta
sekering terumbu patah

angin datang pada jamuan kecil ini, jelmaan ruh
yang menggigil karena dosa perasaan yang dipatahkan
di dahan pohon asem,

menyentuh kulit kita yang sewangi lendir kakap,
sebelum memaknai persetubuhan

lalu dimana aku makamkan
bulu mata kita yang jatuh sebelum ritual ini
benar-benar selesai, sedang waktu tak lagi

menghitung usia kita.

2026

Pada Sebuah Ruang

Kita memantik api di ruang semesta ini,
Membakar kesepian dalam wujud
Sepasang serigala
Yang berjubah
Putih.

Jiwa kita hanya pantulan
Dari nyala api yang telah kita bangkitkan.

Ranum buah ini sudikah kau garang,
Sayang?

Kau seduh kisah-kisah masa kecil,
Dan meletakan sesendok gula
di atas nyala api itu

ini terlalu manis, katamu.

Sebab telah berembus asap dari katup bibirmu,
Seperti letupan pada tungku gula yang diolah
Oleh tangan renta perempuan tua

Lalu kau nyalakan sekali lagi
Api kecil dari tungku muladhara.

2026

Anak-anak Hutan Payau

Setelah jauh merantau
Akhirnya mereka pulang,
Meneguk kembali bau lumpur dan mimpi
Yang bergantungan di dahan-dahan
Bercampur aroma laut
Dalam gilingan ombak.

Denyar mercusuar masih menyala
Pada gemuruh yang memanggili
Kepiting-kepiting raksasa
Dari cerita orang tua.

Tak ada musim lagi di sini
Asap dan limbah
Mengubur jerit nestapa seekor katak tua
Yang terkurung dalam batu-batu
Segalanya terasa mustahil
Untuk kembali menjadi hutan-hutan perawan

Migrasi seekor kupu-kupu,
memanggul tubuh berjelantah;
bahwa langit tak lagi agung,
dan bumi bukan lagi ibu,
bagi segalanya.

2026

Dongeng Sebelum Kita Menjadi Tua

(Untuk Irfan M. Nugraha)

/I/
apakah kata-kata yang keluar
dari bibir seorang penyair bisa menjadi sabda?
jika kau telah yakin, maka bacalah kisah ini:

di tebing jantung, seperti yang kau cemaskan pada
tiap embus yang menyimpan getar
aku mencatat angka penanggalan
yang patah pada tahun-tahun yang tertidur.

seorang penyihir mengubah tahun-tahun itu
menjadi kebun dan tumbuh  ranting-ranting
yang murung.

aku menemukanmu tenggelam di dalam bejana
yang lama menyimpan darah
dan terbakar oleh kesepian.

tubuhmu menjadi merah seperti secangkir wine
di ruang tamu seorang raja Baghdad
saat malam sajian, di bawah bintang-bintang
yang belajar merangkak.

/II/
kau tersenyum ketika menaiki komedi putar
kini tubuhmu tak lagi merah, sayap jibril
memanggil jiwa-jiwa dari telaga yang berdenyut
untuk memandikanmu


apa kau suka komedi putar? Katamu.

aku menggandeng tanganmu, menaiki perahu
yang telah kau aku ciptakan,
di atas cairan berwarna zamrud.
memantulkan wajah kau aku
seperti pualam yang menyimpan nestapa.
Apakah luka telah benar-benar kering?
sebab jalan pada jembatan penebusan mulai ringkih,
ditimpa suara lonceng kastil yang jatuh
pada gendang batinmu
setiap kau menjelang tidur.
jiwamu mulai berjalan ke gurun-gurun
yang tak kau kenal untuk merajang kesepianmu
seperti pengembara kehilangan peta
di tengah padang yang tandus.

/III/
kita bertukar mimpi, saling mengemas sisa luka
menjadi bingkisan yang lahir dari bibir juru kisah.
sedang aku menyalakan api
dari airmata ranggas agar sepasang matamu
menangkap jalan rekah di ujung dongeng ini.

di sana aku lepaskan ribuan kunang-kunang
yang lahir dari jiwa barumu.
kunang-kunang yang menyala
di tiap tepis dedaunan hijau.
untuk menemanimu
melawat hingga sampai ke dunia selanjutnya.

2026

About author

Articles

Laksmi Fidya Arini, lahir dan besar di Cilacap. Alumni Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Pengagum puisi-puisi Abdul Wachid BS. Bergiat di Komintas Baca Bendungan Serayu. Beberapa puisinya pernah dimuat di BWCF. Saat ini mengajar di SD Negeri Karangtalun 05 Cilacap.
Avatar photo
Related posts
CerpenSastraSusukan

Kehidupan untuk Enggar

Read more
PuisiSastra

Balada Logawa dan Puisi-puisi Lainnya

Read more
CerpenSastra

Cara Terbaik untuk Menyakiti Diri Sendiri Menurut Penelitian Sanrowi

Read more
KABAR LOGAWA
Mari Mengalir Bersama

Dapatkan kurasi tulisan sastra pilihan, wawasan budaya Penginyongan, dan informasi agenda terbaru langsung di kotak masuk surel Anda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *