Banyumas — Sekitar 60 guru sekolah dasar yang tergabung dalam Kelompok Kerja Guru (KKG) Gugus Dwija Wiyata Korwilcam Dindik Kedungbanteng, Banyumas, mengikuti Workshop Kepenulisan Antologi Puisi yang diselenggarakan pada Kamis (4/6/2026) siang di SD Negeri 1 Beji. Kegiatan yang dimulai pukul 13.30 WIB tersebut menghadirkan Bayu Suta Wardianto, penulis, dosen UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto, sekaligus Direktur Logawa.id, sebagai narasumber.
Workshop ini menjadi salah satu upaya KKG Gugus Dwija Wiyata dalam mengembangkan kemampuan literasi para guru, khususnya dalam bidang penulisan karya sastra. Para peserta berasal dari berbagai sekolah dasar di wilayah Kedungbanteng dan tampak antusias mengikuti kegiatan sejak awal hingga akhir.
Dalam sambutannya, Pengawas Sekolah Dasar Korwilcam Dindik Kedungbanteng, Diah Indriyanti, S.Pd., menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan bentuk kreativitas sekaligus ikhtiar peningkatan kompetensi guru dalam bidang literasi.
Menurutnya, guru tidak hanya dituntut mampu mengajar di ruang kelas, tetapi juga perlu mengembangkan kemampuan menulis sebagai bagian dari penguatan budaya literasi di lingkungan sekolah.
“Melalui kegiatan ini, para guru dapat meningkatkan keterampilan menulis, khususnya menulis karya sastra. Literasi tidak hanya membaca, tetapi juga bagaimana seseorang mampu menuangkan gagasan dan pengalaman dalam bentuk tulisan yang bermakna,” ujarnya.
Senada dengan hal tersebut, Ketua Gugus Dwija Wiyata, Wiarso, S.Pd., mengungkapkan harapannya agar kegiatan ini mampu melahirkan karya-karya sastra dari para guru yang nantinya dapat dihimpun menjadi sebuah buku antologi puisi.
Menurutnya, karya sastra yang ditulis guru tidak hanya menjadi media ekspresi diri, tetapi juga dapat menjadi arsip penting yang menyimpan jejak pemikiran dan pengalaman para pendidik pada zamannya.
“Kami berharap para guru dapat menghasilkan puisi-puisi yang nantinya bisa dibukukan bersama. Buku tersebut akan menjadi pengingat yang berharga di masa yang akan datang, baik bagi penulisnya maupun bagi generasi berikutnya,” kata Wiarso.
Sementara itu, Ketua KKG Gugus Dwija Wiyata, Era Wahyuni, S.Pd., menjelaskan bahwa organisasinya terus berupaya menghadirkan berbagai program peningkatan kompetensi bagi guru-guru sekolah dasar yang tergabung di dalamnya.
Menurut Era, penguatan kapasitas guru tidak hanya dilakukan melalui kegiatan yang berkaitan langsung dengan pembelajaran, tetapi juga melalui pengembangan keterampilan pendukung, termasuk literasi dan kepenulisan.
“KKG Dwija Wiyata berkomitmen untuk terus belajar dan berkembang bersama. Selain pelatihan kepenulisan seperti hari ini, kami juga rutin menyelenggarakan IHT, seminar, dan berbagai pelatihan lain yang bertujuan meningkatkan kualitas guru,” ungkapnya.
Pada sesi materi, Bayu Suta Wardianto mengajak para peserta melihat puisi dari sudut pandang yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Menurutnya, puisi bukanlah sesuatu yang jauh dan rumit, melainkan lahir dari kemampuan seseorang membaca realitas yang ada di sekitarnya.
Ia menjelaskan bahwa berbagai peristiwa sederhana yang dilihat, didengar, dirasakan, maupun dialami dapat menjadi bahan utama dalam penciptaan puisi. Seorang penulis, kata Bayu, hanya perlu melatih kepekaan untuk menangkap makna yang tersembunyi di balik berbagai peristiwa tersebut.
“Menulis puisi pada dasarnya adalah menulis realitas sosial. Apa yang kita lihat, dengar, dan rasakan merupakan bagian dari semesta yang dapat dibaca lalu diterjemahkan ke dalam karya sastra,” jelasnya di hadapan para peserta.
Lebih lanjut, Bayu menyampaikan bahwa puisi tidak hanya berhubungan dengan perasaan, tetapi juga melibatkan proses berpikir yang logis dan terstruktur. Dalam proses menulis, seseorang dituntut untuk memilih kata, menyusun makna, dan membangun hubungan antaride secara cermat.
Karena itu, menurutnya, menulis puisi dapat menjadi sarana untuk melatih kemampuan berpikir sekaligus mengasah sensitivitas terhadap lingkungan sosial.
“Banyak orang menganggap puisi hanya soal perasaan. Padahal ketika menulis puisi, seseorang juga sedang melatih logika berpikirnya. Ada proses membaca realitas, memilih diksi, menyusun gagasan, hingga membangun makna yang utuh,” tambahnya.
Sepanjang workshop, para peserta tidak hanya mendapatkan materi mengenai konsep dasar penulisan puisi, tetapi juga diajak melakukan praktik menulis secara langsung. Berbagai pengalaman keseharian sebagai guru menjadi sumber inspirasi yang kemudian diolah menjadi larik-larik puisi.
Suasana pelatihan berlangsung hangat dan interaktif. Beberapa peserta bahkan membacakan hasil puisinya di hadapan peserta lain untuk mendapatkan masukan dan apresiasi bersama.
Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal lahirnya antologi puisi karya guru-guru sekolah dasar di wilayah Kedungbanteng. Lebih dari sekadar menghasilkan buku, workshop tersebut juga menjadi ruang belajar bersama untuk menumbuhkan budaya literasi yang lebih kuat di kalangan pendidik.
Di tengah tantangan pendidikan yang semakin kompleks, kemampuan menulis menjadi salah satu keterampilan penting yang perlu terus dikembangkan. Melalui tulisan, guru tidak hanya mentransformasikan pengetahuan, tetapi juga merekam pengalaman, menyampaikan gagasan, dan meninggalkan jejak pemikiran yang dapat diwariskan kepada generasi mendatang.
Workshop Kepenulisan Antologi Puisi yang digelar KKG Gugus Dwija Wiyata ini menjadi bukti bahwa semangat belajar dan berkarya di kalangan guru terus tumbuh. Dari ruang kelas hingga lembar puisi, para pendidik sedang menuliskan kisahnya sendiri tentang pendidikan, kehidupan, dan kemanusiaan.




