PuisiSastra

Balada Logawa dan Puisi-puisi Lainnya

BALADA LOGAWA

Di tepi Logawa, air berbisik dalam gelap,
mengalir bukan sekadar air
ia adalah nadi yang menahan jiwa-jiwa lama,
menyimpan bayangan para leluhur
di balik riak yang menanduk malam.

Bambu dan trembesi menunduk,
akar mereka mencengkeram tanah,
seakan menahan rahasia yang tak boleh lepas.
Perahu tua berderit di tepian,
membawa sesaji dan doa,
menggantung antara dunia yang tampak dan yang tersembunyi.

Anak-anak berlari di tepi sungai,
tangan mereka menyentuh air dingin,
dan sungai menatap kembali,
mengukur apakah hati mereka cukup berani
untuk menerima bisik-bisik roh.

Di malam tertentu, kabut turun pekat,
bulan menunduk seperti mata yang mengintai,
dan seruling sunyi terdengar dari hutan
para wali dan nenek moyang menyingkap tabir,
membisikkan mantra yang menembus tulang dan darah.

Riak air berubah menjadi bayangan manusia,
melangkah di atas permukaan,
menyalakan cahaya samar yang menari di daun-daun,
dan siapa pun yang menatap terlalu lama
akan melihat dirinya sendiri
terbelah antara doa dan takut.

Sesaji dilempar ke arus,
air menelan dan menahan dalam diamnya,
memberi tanda bahwa manusia dan bumi
pernah berdamai, meski sekejap.
Hantu leluhur muncul di pusaran gelap,
menyapa mereka yang lupa,
mengingatkan akan jalan yang telah dilalui,
dan yang belum berani dilangkahi.

Di tepian batu, orang tua membaca alur sungai,
menyusun doa seperti mantra yang mengikat waktu,
dan Logawa menjawab dengan riak yang lambat,
mengajarkan bahwa kehidupan
mengalir di antara bayangan dan cahaya,
antara doa dan langkah manusia,
antara dunia yang tampak dan yang tersembunyi.

Logawa bukan sekadar sungai
ia hidup, bernapas, dan menyimpan sejarah.
Bagi yang datang dengan hati terbuka,
ia menuntun;
bagi yang datang dengan ketakutan,
ia menelan dalam gelapnya.

Dan ketika fajar menyelinap,
kabut perlahan menghilang,
tetapi suara air, bayangan leluhur,
dan gema doa tetap tinggal,
menjadi saksi bagi mereka yang berani mengingat:

Logawa adalah nadi kampung,
penjaga rahasia, dan pengingat
bahwa air dapat menjadi hidup,
dan sejarah dapat berbisik lebih keras daripada manusia.
2025

BALADA SUNGAI SERAYU

Di hulu sunyi,
angin menyalakan desir yang tak tampak,
dan Serayu membuka kelopaknya
sebuah mata air yang menyimpan
jejak para pejalan yang dahulu
menyebut nama Tuhan
di batu-batu yang kini berlumut hikmah.

Malam turun perlahan,
seperti jubah hitam para darwis tua,
dan bulan menekuk wajahnya
untuk mendengar
doa-doa yang dibisikkan air
di sela bambu yang renta.
“Barang siapa datang kepadaku,”
kata Serayu lirih,
“akan kuingatkan
ke mana jiwanya harus kembali.”

Seorang pengembara
menuruni lereng dengan dada retak;
ia mencari bagian dirinya
yang hilang dalam perjalanan panjang.
Serayu melihatnya,
memanggilnya hanya dengan gemerisik
seperti tangan Tuhan
yang mengetuk batin
tanpa melukai tubuh.

“Duduklah di tepianku,”
bisik Serayu.
“Dengarkan yang sudah kau lupakan.”

Pengembara itu duduk.
Air tidak menyentuhnya,
namun suara Serayu
menyentuh seluruh riwayatnya.
Ia mendengar dengung jauh,
seperti rebana para malaikat
yang memanggil jiwa-jiwa
untuk pulang sejenak
ke sumber kedamaian.

Arus bergerak,
membawa kisah-kisah tua:
kuda-kuda dari perang yang memudar,
ibu-ibu yang menanak harapan,
anak-anak yang menunggu ayah
yang tidak kembali.
Semua itu menjadi kabut lembut
di atas permukaan air
bukan untuk menakutkan,
melainkan untuk mengingatkan
bahwa manusia selalu ditemani
oleh jejak sebelumnya.

Serayu berbisik,
“Setiap luka pernah menjadi doa
yang kau lupa kau panjatkan.”
Dan pengembara itu menunduk,
karena ia mendengar
suara ibunya yang telah tiada,
melantunkan restu
yang dulu tak ia pahami.

Lingkar-lingkar cahaya
menari di permukaan air,
seolah waktu melipat dirinya
menjadi sebutir zikir
di telapak Tuhan.
Di cermin itu,
pengembara melihat wajahnya sendiri
wajah seorang hamba
yang tak pernah ditinggalkan.

Angin berhenti sebentar,
daun-daun menggantung rapuh,
Serayu berkilau seperti perak hangat.
Dalam bening itu,
sungai berkata:

“Hidup adalah perjalanan pulang,
dan setiap arus
adalah petunjuk menuju Dia.”

Pengembara menghirup napas panjang;
dadanya yang berat luruh perlahan.
Ia bangkit,
menatap aliran air
yang terus bergerak
tanpa meminta apa pun.

Serayu mengantar langkahnya pergi,
bukan menelan,
bukan mengambil,
tetapi memberkati.
Dan malam mengalir kembali,
lirih,
seperti doa panjang
yang menjaga pejalan
di jalan yang sunyi.
2025

BALADA PASIR LUHUR

Di bukit Pasir Luhur,
angin membawa suara pasir,
seperti bisikan nenek moyang yang tersisa
dari jejak kaki ksatria dan pengembara.
Setiap butir pasir adalah huruf
yang menulis sejarah
tanpa tinta, tanpa catatan manusia.

Langkah pertama Syekh Makhdum Wali
terpatri di pasir yang bergetar lembut,
sarung sederhana membelai pinggangnya,
kitab di tangan seperti pedang cahaya.
Sunyi menyambutnya,
dan sunyi itu menjelma menjadi cahaya
yang menembus malam dan hati yang ragu.

Di kaki bukit, adipati menatapnya,
mata penuh heran,
tapi jiwa rindu akan arah baru.
Makhdum Wali bicara dengan angin,
dzikirnya jatuh di tanah kering
menjadi hujan kecil di hati manusia.
Pohon-pohon menunduk,
air di sungai kecil bergetar,
setiap tetesnya memantulkan doa yang tak diucapkan.

Malam di Pasir Luhur memanjang,
bulannya melayang di atas bukit,
memantulkan cahaya ke pasir yang berbisik.
Ksatria yang datang dari jauh
berlutut,
mencari arah yang hilang di medan perang batin,
mendengar bisik kitab dan angin yang menuntun.

Di tengah bukit, pasir berputar seperti pusaran doa,
angin mengangkat serbuknya
menjadi kabut tipis yang menutupi langkah manusia,
sementara suara tasbih Makhdum Wali
menjadi nadi yang menyalakan kembali cahaya
di hati yang lelah dan terlupa.

Matahari pagi menembus kabut,
menggambarkan wajah yang baru terbuka,
adipati tersenyum, rakyat menunduk,
dan tanah ini, Pasir Luhur,
menjadi saksi
bahwa langkah seorang wali,
meski sederhana,
dapat menulis sejarah
yang lebih lama dari catatan raja manapun.

Dan malam-malam berikutnya,
bila angin membawa aroma hujan dan tanah basah,
orang-orang melihat cahaya jatuh di pasir,
bukan dari bulan atau matahari,
tapi dari jejak doa dan langkah
yang terus hidup
di antara bisik pasir,
di antara gemuruh hati yang rela berubah,
menjadi cahaya yang tak lekang oleh waktu.
2025

BALADA SULUK SLAMET

Di kaki Slamet kabut merunduk pelan,
menjadi tirai tipis
yang menyembunyikan nama dunia.
Beringin tua menggigil dalam gelap,
akarnya menjulur seperti tasbih yang lupa hitungan,
terus bergumam pada tanah yang diam.
Daun-daunnya menampung rahasia peziarah
cawan yang pernah meminum cahaya
namun kini belajar ikhlas menjadi bening.

Burung hutan bersenandung pelan,
suara mereka ibarat huruf-huruf
yang gugur dari Kitab Sunyi.
Angin membalik halaman bumi,
menyingkap jejak para leluhur
yang berjalan seperti bayang
meninggalkan napas pada cadas:
laku mereka bukan pada pedang,
bukan pada langkah,
melainkan pada tunduk tanpa saksi
kepada Puncak yang tidak membutuhkan nama.

Dari lembah, Logawa mengalir
seperti doa yang belum selesai,
menarik manusia
pada keberanian yang tak berbunyi.
Rindu di nadi tanah
menyala seperti dzikir yang disembunyikan.
Baturraden bersiul sendu,
mengirim salam dari mereka
yang menempuh jalannya
tanpa berharap dilihat.

Slamet, hening, hadir
bukan gunung,
melainkan cermin besar
yang memantulkan niat
tanpa menilainya.
Bagi hati yang bersih,
ia adalah cahaya yang menuntun;
bagi hati yang gelap,
ia menjadi api
yang menyala tanpa bentuk.

Lebih tinggi, kabut menutup batu purba
seperti kain kafan yang lembut.
Wali-wali, para musafir,
dan Syaikh Rumaini
yang dahulu bersuluk di sini
meninggalkan denyut halus
di akar dan tanah.
Tapak mereka bukan langkah,
melainkan isyarat
yang hanya dipahami
oleh hati yang sedang tersesat
mencari asalnya.

Kijang, elang, dan hewan hutan
menjadi penjaga maqam;
mereka mengenali manusia yang datang
tanpa membawa dunia.
Angin yang membelah puncak
memberikan pesan lembut:
“Keberanian adalah fana
ketika engkau lenyap dari dirimu,
dan hanya Yang Kekal
yang tinggal menyebutmu.”

Malam menyelimuti Slamet
dengan bintang-bintang redup;
Serayu mengalirkan kerinduan bulan
yang mencari lautnya.
Manusia berdiri di ketinggian,
menunduk, mendengar:
gunung mengajar bukan dengan suara,
melainkan dengan getar
yang merembes
dalam tulang dan ruh.

Siapa pun yang naik
akan menemukan cahaya
yang tidak memiliki warna.
Di antara kabut dan batu,
antara doa yang patah dan peluh yang jujur,
ia akan melihat dirinya runtuh,
lalu terangkat
bukan oleh kekuatannya
melainkan oleh kasih
yang selalu menyelimuti
tanpa diminta.

Slamet, sunyi dan agung,
menanam benih kesucian
di hati pencari,
dan menyimpan rahasia
bagi mereka
yang rela hilang
agar dapat pulang.
2025

BALADA BATURADEN

Kabut menekuk malam di Baturaden,
menjadi jubah hitam yang dijahit angin.
Ranting trembesi menunduk, menadah rahasia,
dan burung-burung memecah sunyi
seperti drum yang memanggil bayangan.

Suta berlari, tangan menggenggam raden,
mata mereka menyalakan api yang menolak tebing larangan.
Setiap langkah adalah napas bumi,
setiap napas menantang istana.

Curug Pengantin menjeram,
tetes airnya memecah malam,
huruf-huruf rahasia menari di daun dan kabut,
mengabarkan cinta terlarang,
mengundang kegelapan untuk bersaksi.

Pasukan adipati mengejar
pedang berdesis, panah melintasi bayangan.
Angin menjerit di antara pohon,
bumi bergetar, tanah memeluk kaki pengejar,
dan malam menahan napas.

Di puncak tebing, tangan mereka bersatu,
api cinta berpendar sekejap,
batu purba bergetar, angin menulis nama mereka
di udara, di antara cahaya dan kegelapan.
Panah terakhir menembus, darah jatuh ke tanah,
dan suara mereka menjadi mantra terakhir,
mengikat malam, mengikat batu, mengikat sungai.

Air terjun memantulkan bayangan dua jiwa,
cahaya terlarang menari di dedaunan basah.
Bunga liar muncul di jalan mereka,
dan sungai menelan jejak langkah,
mengajarkan bahwa cinta sejati
lebih dalam daripada kematian.

Angin malam membawa aroma tanah basah,
dan kabut memanggil bisik mereka:
“Jangan takut larangan,
yang tulus bersinar meski dunia menutup mata,
meski ajal memisahkan,
meski bumi menahan napas.”

Baturaden tetap berdiri
kabut, batu, air, dan rahasia,
saksi bisu cinta dan keberanian,
yang terlarang, tragis, dan magis,
menyala di antara hutan dan air terjun,
menembus malam, menembus waktu.
2025

About author

Articles

Abdul Wachid B.S., lahir 7 Oktober 1966 di Bluluk, Lamongan, Jawa Timur. Wachid lulus Sarjana Sastra dan Magister Humaniora di UGM, kemudian lulus Doktor Pendidikan Bahasa Indonesia di Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta. Abdul Wachid B.S. menjadi Guru Besar Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri, Purwokerto. Buku terbarunya : Kumpulan Sajak Nun (2018), Bunga Rampai Esai Sastra Pencerahan (2019), Dimensi Profetik dalam Puisi Gus Mus: Keindahan Islam dan Keindonesiaan (2020), Kumpulan Sajak Biyanglala (2020), Kumpulan Sajak Jalan Malam (2021), Kumpulan Sajak Penyair Cinta (2022), Kumpulan Sajak Wasilah Sejoli (2022). Melalui buku Sastra Pencerahan, Abdul Wachid B.S. menerima penghargaan Majelis Sastrawan Asia Tenggara (Mastera) sebagai karya tulis terbaik kategori pemikiran sastra, pada 7 Oktober 2021 (tepat di ulang tahunnya yang ke-55).
Avatar photo
Related posts
CerpenSastra

Cara Terbaik untuk Menyakiti Diri Sendiri Menurut Penelitian Sanrowi

Read more
KABAR LOGAWA
Mari Mengalir Bersama

Dapatkan kurasi tulisan sastra pilihan, wawasan budaya Penginyongan, dan informasi agenda terbaru langsung di kotak masuk surel Anda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *