Matahari sudah naik sepenggalah, 30 peserta yang terdiri atas penulis-penulis muda Banyumas dan beberapa penulis mulai memasuki Gedung Kesenian Soetedja di Purwokerto Selatan, Banyumas. Meja registrasi penuh–sesak antrian mengisi presensi. Panitia gesit–rapih menyiapkan acara.
Dua hari (8–9 Agustus 2026) menjadi arena belajar kegiatan workshop Penulisan Sastra Bermuatan Budaya Banyumas. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Dinporabudpar) Kabupaten Banyumas berkolaborasi dengan Relawan Literasi Rumah Kreatif Wadas Kelir sebagai panitia teknis.
Kopi dan teh panas mengepul, bersama kudapan menguarkan obrolan hangat para pakar sastra Banyumasan, peserta, dan panitia. Dalam sambutannya, Plt. Dinporabudpar Kabupaten Banyumas Ir. Junaidi, M.T. menyambut baik acara ini dan menyampaikan arah kebijakan tentang pengembangan sastra dan bahasa Penginyongan. Muhammad Farij atau yang populer disapa Mufar menambahkaj bahwasanya ruang-ruang budaya seperti Gedung Soeteja harus dimanfaatkan untuk keberlangsungan kesenian dan kebudayaan Banyumas, salah satunya melalui kegiatan penulisan sastra Penginyongan ini.
Di hari pertama, pematerian diisi oleh Jarot C. Setyoko dari Dewan Kesenian Kabupaten Banyumas (DKKB) dan Achmad Sultoni dari Telkom University Purwokerto. Jarot menyampaikan tentang “Selayang Pandang Sastra Penginyongan.” Dialektika mengalir dengan tenang. Dalam paparannya, Jarot C. Setyoko mengatakan bahwasanya bahasa Jawa dialek Penyingongan tidak bisa terlepas dari bahasa Jawa Baku.

Selanjutnya, pematerian oleh Achmad Sultoni menyampaikan tentang “Dasar-dasar Penulisan Sastra Penginyongan.” Dalam paparannya, Sultoni mengatakan bahwasanya menulis sastra Penginyongan bukan hanya sekadar nguri-uri budaya, melainkan kembali merawat Identitas. “Karena di dalam karya sastra Penginyongan muncul beragam unsur kebudayaan, mulai dari bahasa, kepercayaan, kuliner, hingga memori kolektif,” sambungnya.

Hari kedua, pematerian dilanjut oleh Bambang Wadoro (Pak Bador), Budayawan Banyumas dan Wanto Tirta, Presiden Geguritan Banyumas. Kang Wanto menyampaikan tentang “Nlusuri Oyod Budaya, Ngrumat Basa, Nguri-uri Budaya Banyumasan Lumantar Guritan” yang menjelaskan dengan bernas bagaimana menulis Guritan Banyumasan.

Dilanjut pematerian tentang pendalaman Menulis Cerkak (Cerita Cekak) yang disampaikan oleh Pak Bador. Dalam penyampaiannya, Pak Bador menerangkan bahwasanya Bahasa Penginyongan menjadi medium sastra yang dapat menjadi perantara pengenalan budaya dan masyarakat Banyumas.

Angin semilir mengakhiri kegiatan dua hari yang padat ini. Semua pihak berharap agar kegiatan ini tidak hanya menjadi seremonial, tetapi menjadi pemantik dan penanda bahwasanya sastra Penginyongan tetap tumbuh dan berkembang di tanahnya sendiri. Ke depannya, karya-karya hasil workhsop ini menjadi bahan bacaan dan belajar agar masyarakat umum kembali mengingat identitas dan sejarah budaya asalnya.




