Malam itu, suara gamelan dari ponsel tua berderak-derak. Daan duduk bersila di atas lantai semen ruang tamu yang dingin, matanya menatap lekat pada jajaran wayang kulit di depannya. Cahaya lampu belajar kuning pucat menyinari wajahnya. Di sebelahnya, Pak Sastro, ayahnya, sibuk mengikatkan tali plastik pada gagang gapit kayu wayang Gatotkaca yang sudah retak parah.
“Kalau begini terus, Da,” kata ayahnya pelan, “latihan bisa berhenti kapan saja. Biayanya makin mencekik. Untuk sekali latihan gamelan utuh, kita harus sewa ke desa seberang. Belum beli kayu, kulit kerbau, cat prada yang harganya makin tidak masuk akal…”
Daan mengangguk. Ia baru berusia empat belas tahun, namun tenggorokannya sudah mampu menirukan karakter Semar yang serak berwibawa, Gareng yang bindeng, hingga Arjuna yang lurus beralur halus. Tangannya bergerak lincah, meski panggungnya hanyalah sebuah kelir layar putih dari kain sprei bekas di ruang tamu.
“Ya tidak murah, Pak,” jawab Daan lirih. “Tapi kalau tidak berlatih, mau sampai kapan? Aku takut telingaku lupa pada tabuhan jendhing, lalu lidahku lupa pada lekuk suara tokoh-tokohnya.”
Pak Sastro diam. Di luar rumah jaring ojeknya sepi, digantikan suara jangkrik yang beradu nyaring dengan deru angin malam yang menyusup lewat celah dinding papan.
Sejak kecil, Daan jatuh cinta pada wayang dengan keras kepala. Pertama kali melihat pentas semalam suntuk di balai desa, matanya terpaku total. Lampu blencong berayun dramatis, menciptakan bayangan ksatria yang bergerak hidup di atas kelir. Suara sulukan sang dalang menggema magis, membuatnya tidak bisa tidur semalaman. Ia mulai menirukan suara-suara itu menggunakan panci bekas sebagai kendang dan kaleng susu sebagai gong. Ibunya yang berjualan sayur keliling di pasar hanya bisa tersenyum getir. “Anak ini bakal jadi dalang nanti,” bisiknya.
Namun, jalan menjadi dalang di era ini adalah sebuah kemewahan yang sarat luka ekonomi. Satu tokoh wayang kulit kualitas standar bisa menelan biaya ratusan ribu rupiah. Belum lagi kursus vokal sinden, pelajaran gamelan, hingga biaya transportasi lomba. Pak Sastro hanya tukang ojek pangkalan yang motornya sering turun mesin, sementara dagangan sayur ibunya kerap layu sebelum habis. Mereka tahu, mendukung mimpi Daan berarti harus siap mengencangkan ikat pinggang hingga batas paling perih.
Suatu sore, kabut tipis turun di Karangtalun saat Daan diajak gurunya, Ki Surya, duduk di emperan sanggar yang sepi. Ki Surya menepuk pundak bocah itu. “Kesempatanmu besar di lomba dalang cilik tingkat kabupaten bulan depan, Daan. Suaramu bagus, hafalan lakonmu kuat. Tapi ya… kamu harus siap keluar biaya sendiri. Panitia hanya menyediakan panggung kosong, tidak menyediakan iringan gamelan. Jadi, setiap peserta wajib membawa pengrawit dan tim gamelannya sendiri.”
Malamnya, Pak Sastro menghela napas panjang di depan tungku dapur. “Lomba macam apa yang semua biayanya dilemparkan ke peserta? Kalau menang sih lumayan, tapi kalau kalah? Semua uang sewa dan bayaran pengrawit hilang dalam semalam. Kita tidak punya tabungan sebanyak itu, Da.”
Daan menunduk dalam-dalam. Ia tahu ayahnya benar, tapi hatinya bergetar hebat. Ia ingin membuktikan di atas panggung resmi bahwa wayang belum mati di tangan generasi muda. Melihat mata anaknya yang berkaca-kaca, hati Pak Sastro melunak. Dua hari kemudian, ia menggadaikan BPKB motornya. Mereka menyewa seperangkat gamelan perunggu kecil dari desa tetangga beserta lima orang pengrawit tua yang bersedia dibayar murah. Biaya tiga hari latihan itu setara dengan pendapatan mengojek Pak Sastro selama dua minggu.
Ketika suara sabetan kendang pertama berbunyi di pekarangan rumah, dada Daan berdegup. Ia membuka lakon Bima Suci dengan mantap. Tangannya bergerak cekatan, sabetannya bersih, dan suaranya berubah-ubah dengan presisi: berat berwibawa untuk Bima, lalu mendadak halus suci untuk Dewa Ruci. Semua orang tua yang kebetulan lewat di depan gubuknya berhenti, terpaku menatap bocah itu.
Namun di sela istirahat latihan, seorang remaja sebaya yang mengendarai motor matic baru berhenti di depan pagar, melihat dengan dahi berkerut. “Hari gini masih belajar jadi dalang, Da? Penontonnya paling cuma simbah-simbah. Lebih enak bikin konten di YouTube atau main game, penontonnya bisa jutaan, duitnya mengalir cepat.”
Daan tertdiam. Ia menatap Gatotkaca di tangan, mencari jawaban yang tidak disediakan oleh kenyataan hidupnya.
Hari lomba akhirnya datang di gedung kesenian kabupaten yang megah. Aula itu riuh dan intimidatif. Daan melihat peserta dari kota datang dengan truk besar membawa tim pengrawit profesional berpakaian beskap sutra, sinden muda berparas jelita, serta kotak wayang jati berukir emas yang berkilau mewah. Sementara Daan hanya berdiri di sudut dengan sebuah kotak kayu tripleks usang berisi wayang pinjaman dan lima pengrawit sepuh berpakaian lurik pudar.
Ketika namanya dipanggil, Daan naik ke panggung dengan lutut gemetar. Pendingan udara gedung terasa membekukan darahnya. Namun begitu ia duduk di depan kelir dan lampu blencong dinyalakan, ketakutannya menguap. Wajah bocah itu berubah total. Matanya tajam, rahangnya kokoh. Ia seolah melompat masuk ke dunia kelir yang mistis. Suara-suara tokoh wayang mengalir deras dari tenggorokannya, dialognya hidup, penuh kritik jenaka yang segar. Penonton yang tadinya sibuk berbisik meremehkan, perlahan terdiam, lalu bertepuk tangan riuh setiap kali Daan melakukan sabetan cepat.
Sayangnya, penilaian kompetisi modern tidak melulu soal penjiwaan sang dalang. Di meja juri, lembar penilaian mencakup aspek mekanis: kemegahan panggung, kesempurnaan harmoni iringan instrumen, serta keseragaman tim. Gamelan sewaan Daan yang beberapa bilahnya sudah sumbang dan jumlah pengrawitnya yang timpang membuat nilainya jatuh bebas di bagian teknis pendukung. Daan dinyatakan kalah.
Di perjalanan pulang menggunakan bus umum yang pengap, Daan hanya menatap diam keluar jendela. “Sudah kubilang sejak awal, Nak,” kata Pak Sastro pelan, merangkul pundak kurus anaknya yang bergetar. Ayahnya mencoba menghibur, meski gurat cemas memikirkan cicilan pegadaian BPKB tak bisa disembunyikan. “Untuk jadi dalang sejati di zaman sekarang memang mahal. Bukan karena suaramu kurang bagus. Tapi karena tidak ada orang besar yang mau membiayai kesenian seperti ini lagi. Wayang itu terlalu berat dipikul sendirian.”
Air mata Daan jatuh tanpa suara, membasahi kain noken pembungkus wayang Arjuna di pangkuannya. Ia merasa suaranya, impiannya, dan seluruh latihan kerasnya hanyalah sebatas bayangan di kelir yang akan pudar total begitu lampu dimatikan.
Hari-hari berikutnya terasa berjalan lebih lambat. Di koran loak yang ia baca, dalang tingkat maestro pun kini mulai gulung tikar. Acara hajatan desa lebih suka menanggap organ tunggal dengan biduan. Pernikahan modern lebih memilih disc jockey. Wayang dianggap terlalu kuno, terlalu lama, dan terlampau mahal untuk isi dompet masyarakat modern.
Suatu malam, ia mendatangi rumah Ki Surya. Mereka duduk menghadap kebun kopi yang gelap. “Pak,” tanya Daan ragu, “Kalau semuanya kita paksa berubah… iringan musiknya memakai rekaman digital, lampu blencong diganti lampu LED, dan latarnya menggunakan sorotan proyektor… apa masih bisa disebut wayang?”
Ki Surya menatap muridnya itu dengan mata dalam. Ia mengisap rokok klobotnya sebelum menjawab. “Ya jelas bisa saja, Da. Zaman sekarang apa yang tidak bisa diakali oleh mesin? Tapi rasanya akan lain di dada. Wayang itu bukan sekadar tontonan, tapi urusan napas dan getaran jiwa. Suara gesekan kulit wayang bertemu kain kelir, asap minyak blencong, dan getaran fisik bumbung gong perunggu yang memukul dadamu saat duduk bersila. Kalau semuanya diganti piksel dan rekaman digital, aku takut roh yang dijaga leluhur ribuan tahun akan hilang.”
“Tapi kalau kita keras kepala menolak berubah, apa wayang ini bisa bertahan hidup melewati usiaku besok, Pak?” tanya Daan lagi. Pertanyaan itu menggantung tebal di udara, tak terjawab bahkan hingga rokok klobot Ki Surya mati menjadi arang hitam.
Seminggu kemudian, Daan memutuskan mencoba sebuah kegilaan kecil. Ia meminjam ponsel pintar milik temannya. Di dalam kamarnya yang sempit, berbekal selembar kain putih penutup jendela sebagai kelir mini, ia memainkan tokoh Karna dan Arjuna. Ia mengunduh aplikasi pengolah suara, memasukkan potongan rekaman tabuhan kendang dari internet, lalu mulai mendalang dengan menyaring inti lakon menjadi durasi pendek. Ia merekam pertunjukan ringkas itu menggunakan kamera ponsel, lalu mengunggahnya ke media sosial.
Tak disangka, dalam waktu tiga hari, video berdurasi tujuh menit itu meledak di internet. Potongan video dalang cilik itu ditonton puluhan ribu kali. Kolom komentar dipenuhi apresiasi: “Gila, ini dalang cilik keren banget suaranya!”, “Gue baru tahu cerita Karna sesedih ini, salut buat adiknya!”, “Akhirnya ada anak zaman sekarang yang tidak main game terus!”
Daan terkejut bukan main. Jemarinya gemetar saat membaca ratusan apresiasi digital yang masuk. Ia menyadari sesuatu yang baru. Mungkin inilah jalan keluar dari tembok tebal biaya yang selama ini mengurungnya. Bukan dengan meninggalkan wayang kulitnya, melainkan dengan memodifikasi cara dunia menikmatinya.
Bulan-bulan berikutnya, gubuk Pak Sastro berubah menjadi laboratorium seni digital yang sibuk. Daan mulai rutin memproduksi konten dalang pendek. Ia memotong lakon Baratayuda yang biasanya memakan waktu tujuh jam menjadi serial pendek berdurasi sepuluh menitan. Ia menambahkan efek suara buatan, menyisipkan terjemahan bahasa Indonesia agar anak kota paham, dan menyajikan falsafah kuno dengan analogi kehidupan remaja modern. Anak-anak di desanya kini tidak lagi mengejeknya. Mereka justru berkumpul di rumah Daan untuk ikut menonton proses rekaman, bahkan guru seni budaya di sekolah mulai memutar video Daan di depan kelas.
Meski begitu, jauh di lubuk hatinya, ada perasaan ganjil yang menggerogoti ketenangannya. Setiap kali menekan tombol upload, ada rasa bersalah yang menusuk. Ia tahu betul apa yang dilakukannya telah melompati pakem pedalangan Jawa yang suci. Ia ketakutan jika dicap sebagai perusak tradisi oleh para tetua adat.
Suatu sore, ia kembali menemui Ki Surya, menyerahkan ponsel yang menampilkan video terbarunya yang viral. “Pak, apa saya sudah berdosa karena mengacak-acak warisan leluhur demi penonton internet?”
Ki Surya melihat layar kecil itu lama sekali. Perlahan, senyum samar terukir di wajah keriput sang maestro tua. “Daan, dengarkan aku. Wayang ini bisa bertahan hidup ribuan tahun justru karena ia pintar menyesuaikan diri dengan ruang dan waktu. Jika ia kaku seperti batu, ia sudah lama hancur digilas zaman purba. Selama kamu tidak melacurkan ruhnya —selama nilai moral, kebenaran cerita, dan falsafah hidupnya tetap kamu jaga di dalam dadamu— aku rasa kamu tidak salah. Justru lewat jemarimu yang memegang ponsel itu, jalan kehidupan wayang ini diperpanjang.”
Waktu terus merambat maju. Daan kini tidak lagi dikenal sebatas dalang cilik Karangtalun. Profil digitalnya membuat ia mulai diundang oleh sekolah umum dan dinas kebudayaan kota untuk tampil di atas panggung fisik. Ia tampil membawa konsep baru. Perpaduan antara sabetan wayang kulit asli di atas panggung dengan iringan gamelan minimalis dan efek suara digital modern.
Namun, ia tidak buta pada kenyataan. Tembok besar bernama biaya itu tidak pernah benar-benar runtuh. Untuk membuat sebuah pagelaran kolosal yang megah, ia tetap memerlukan dana besar untuk merawat gamelan perunggu sejati, menghidupi para pengrawit sepuh yang pengetahuannya tak tergantikan oleh mesin. Suara-suara sumbang kadang masih terdengar: “Kesenian tradisi itu lambat laun akan mati, bukan karena tidak ada anak yang berbakat, melainkan karena negara dan zaman tidak lagi menyediakan anggaran untuk merawatnya.”
Tetapi di dalam dada Daan, sebuah keyakinan baru telah berakar kokoh. Selama masih ada sepasang mata bocah yang mau melotot menatap layar ponsel pintarnya demi melihat bayangan ksatria bertarung, atau selama masih ada satu telinga remaja kota yang terenyak mendengar sulukan bijak dari mulutnya, wayang kulit tidak akan pernah benar-benar mati.
Suatu malam, setelah selesai tampil di sebuah acara festival kota yang riuh, Daan duduk sendirian di belakang panggung yang mulai gelap. Di depan kotak tripleks tua milik ayahnya, tokoh-tokoh wayang itu tergolek pasrah. Kulit-kulit kerbaunya mulai kusam, cat prada emasnya ada yang mengelupas di bagian pundak, dan tangkai gapitnya penuh dengan lilitan tali plastik bekas sisa ikatan Pak Sastro. Daan membungkuk, mengusap lembut kelopak mata wayang Arjuna dengan ujung jarinya yang lelah. Ia berbisik lirih, sebuah janji sunyi kepada kegelapan malam.
“Aku tidak tahu sampai tikungan abad mana bisa bertahan memeluk kalian. Tapi aku berjanji, selama napasku belum habis, aku akan terus bersuara. Entah di bawah sorot minyak blencong atau kilat lampu neon, entah diiringi tabuhan perunggu asli atau aplikasi musik, kalian tidak akan pernah kubiarkan hilang menjadi dongeng yang mati.”
Di atas kelir putih yang mulai diturunkan, bayangan dari sisa lampu panggung membuat tubuh wayang di tangan Daan tampak bergerak perlahan, seakan-akan mengangguk takzim menerima janji setia dari sang dalang cilik yang menolak menyerah pada sepinya zaman.
Daan sadar sepenuhnya bahwa jalan yang dipilihnya adalah jalan sunyi yang panjang. Ia tidak hanya sedang bertarung melawan kemiskinan keluarganya, melainkan sedang bertaruh nyawa melawan lupa yang dibawa oleh arus deras modernitas dunia. Namun, dalam setiap tarikan napas dan sulukan yang ia lepaskan dari tenggorokannya, Daan telah memancangkan sebuah prasasti kecil: bahwa di sebuah sudut bumi yang kian bising dan dingin oleh mesin, pernah ada seorang anak manusia yang bertarung habis-habisan dengan seluruh darah dan jiwanya, agar bayangan kebenaran di atas kain putih itu tetap memiliki hak untuk hidup dan menari seumur dunia berjalan.
Banjarnegara, Juli 2026




