CerpenSastraSusukan

Kekasihku, Sari

Di pasar Cikapundung, siang seolah bergerak mengikuti panjang bayangan gerobak di seberang jalan dan seberapa sering pedagang gorengan mengipas dagangannya. Kendaraan saling menyahut dari jalan raya, meninggalkan bunyi putus-sambung dan sesekali ditelan klakson angkot. Di seberang pertokoan, penjual minuman merapikan botol-botol teh ke dalam peti plastik dan pedagang rokok eceran sibuk menghitung recehan di atas bangku pendeknya.

 Orang-orang datang silih berganti. Beberapa singgah hanya sepanjang sebatang rokok terbakar, beberapa betah untuk berlama-lama di depan etalase sambil menunjuk benda-benda yang tak lagi mereka kenali, beberapa hanya berdiri dan mengamati.

Di antara lalu lalang siang hari, sebuah vespa kuning berhenti di ujung lorong yang sepi. Mesinnya padam tepat ketika seseorang menyesap tegukan terakhir kopinya di seberang jalan. Rangga melepas helm, menyibakkan rambut kusut setelah perjalanan dari kampus, lalu mengangkat ranselnya ketika hiruk jalan raya mulai terdengar jauh dan penat perlahan larut.

Bel kecil di atas pintu berdenting pelan ketika Rangga melangkah masuk. Udara di dalam toko sedikit pengap, dipenuhi aroma kayu tua, logam, dan kertas usang.

Rak-rak kayu memenuhi dinding. Di atasnya berdiam kamera analog tahun 1950-an, dan lampu teplok dengan kaca menguning, dan kotak rokok perak. Di etalase kaca, lembaran uang gulden ditata berdampingan dengan uang ORI.

Di sudut ruangan, ayahnya duduk di kursi kayu pendek di samping tumpukan piringan hitam. Sepasang kacamata bertengger di ujung hidungnya, dan jemarinya yang mulai keriput sibuk mengusap lensa kamera analog dengan kain flannel.

“Sudah pulang? Tumben nggak nongkrong dulu.”

“Lagi pada sibuk. Anak-anak Hima pada ngurus acara.”

Rangga melepaskan ranselnya dari pundak, lalu melemparkannya ke kursi di balik meja pembayaran. Tas itu jatuh dengan bunyi pelan, nyaris tenggelam di antara tumpukan kardus dan koran bekas pembukus barang antik.

“Kamu nggak ada kesibukan?”

“Males, deh.”

Ayahnya menggeleng pelan, masih sibuk dengan lensa kamera di tangan.

 “Coba sana cari kesibukan. Ikut organisasi, kalau nggak, cari kegiatan di luar kampus. Mumpung masih kuliah, dicobain semuanya. Biar tua nanti punya banyak cerita.”

Rangga mengabaikan ucapan ayahnya. Pandangannya berkelana ke penjuru toko. Tempat itu masih sama, dan Rangga hafal letak hampir setiap benda di dalamnya. Langkahnya mendekat pada etalase kaca. Jemarinya menyusuri permukaan yang berdebu sebelum matanya jatuh pada sekeping uang logam.

“Ayah, ini baru?”

“Iya. Tadi pagi ayah ambil dari tokonya pak Herman. Dijual murah sama dia.”

Rangga mengambil logam itu. Warnanya usang menguning dan ukirannya terlihat asing.

“Kecil begini buat apa? Emang masih ada yang nyari, Yah?”

“Jangan salah, banyak. Itu duit VOC. Dulu dibuat supaya orang-orang di pelabuhan dan daerah kekuasan VOC pakai alat tukar yang sama. Sekeping begitu pernah akrab sama orang-orang pribumi. Buat beli sirih, tembakau, sama kebutuhan kecil.”

Sekeping logam itu kembali diletakkan pada etalase kaca. Debu tipis masih menempel di ujung jemari Rangga ketika langkahnya bergerak pelan menyusuri rak demi rak yang dihafalnya di luar kepala. Ia tahu di mana lampu teplok digantung, di mana radio tua diletakkan, di mana debu biasanya lebih cepat mengendap.

Pandangan Rangga terus bergerak, singgah dari satu benda ke benda lain di atas rak yang minim jarak. Tepat di samping gramofon tua, bingkai foto bersandar pada tumpukan piringan hitam.

Langkahnya berhenti sesaat. Toko ini nyaris sekali tidak pernah berubah dan benda baru selalu dengan mudah tertangkap matanya.

Rangga mengambil bingkai itu. Foto di dalamnya kusam putih abu-abu. Seorang perempuan bersanggul menatap lurus dengan tubuhnya yang sedikit kurus. Parasnya serayu dan sedikit lugu. Kemben yang dikenakannya tampak lebih mewah daripada pakaian perempuan pribumi yang biasa Rangga lihat dalam foto-foto lama.

“Ayah, ini siapa?”

Ayahnya menghentikan gerakan tangannya. Lensa kamera yang dibersihkan diletakkan perlahan di atas pangkuan, dan pandangannya beralih pada bingkai foto di tangan Rangga.

“Itu nenek buyutmu.”

“Nenek buyut? Kok baru liat, dapet dari mana, Yah?”

Lelaki tua itu mengambil lensa lain dari sampingnya, lalu mulai mengusap permukaannya dengan kain flanel.

“Kemarin ayah nemu di loteng. Nyelip di kardus lama waktu ayah dan ibumu lagi bongkar barang.”

“Kok kembennya bagus? Nggak kelihatan kayak orang susah. Bukannya kata nenek, keluarga kita dulu miskin sebelum nenek nikah sama kakek?”

“Memang miskin. Makanya, nenek buyutmu dijadikan nyai.”

“Nyai?”

Bingkai foto itu masih berada di tangannya ketika Rangga menarik kursi kayu di depan ayahnya. Bunyi gesek kakinya terdengar pelan di lantai.

“Dulu banyak keluarga pribumi yang hidupnya susah. Kalau ada orang Belanda yang mau mengambil anak perempuannya, ya, mereka mikirnya itu jalan keluar.”

Alis Rangga bertaut.

“Diambil gimana, Yah, maksudnya?”

Lelaki tua itu menggeleng pelan, seolah heran. Anaknya tahu banyak perihal mesin dan segala sesuatu yang bergerak di atas roda, tapi perkara sejarah dan cerita lama sering kali melintas begitu saja di kepalanya.

“Dibawa ke rumah orang Belanda. Dikasih pakaian bagus, kalau beruntung diajari sedikit bahasa Belanda, diurus kebutuhan hidupnya. Tapi, ya, statusnya bukan istri. Makanya orang dulu nyebutnya Nyai.”

Untuk beberapa saat, sepi di antara keduanya mengudara. Dari seberang jalan terdengar bunyi spatula yang membentur wajan, disusul bunyi angkot yang melintas pelan sebelum semuanya kembali ditelan gumam para pedagang dalam tawar-menawar.

“Kalau sudah dibawa, hidupnya ikut tuannya. Orang-orang dulu juga nyebutnya ‘buka kelambu’.”

“Buka kelambu? Apa lagi itu?”

“Malam pertama perempuan itu tinggal di rumah tuannya. ‘Kelambunya’ dibuka, lalu setelah malam pertama, perempuan itu nggak lagi dipandang gadis sama orang-orang. Sudah milik lelaki Belanda, tapi nggak ada pernikahan dan status istri.”

Bayangan pertokoan mulai memanjang. Embusan angin menyusuri lorong pasar Cikapundung, menyeret beberapa lembar koran bekas pembungkus dan membuat papan nama tua di ujung deretan ruko berderit pelan.

“Nenek buyut juga begitu?”

“Kata nenekmu, iya.”

“Dibawa paksa?”

Ia menggeleng pelan. “Nggak ada yang tau. Tapi keluarga mereka emang lagi susah. Orang tuanya mengira kalau anaknya di bawa tuan Belanda, pasti hidupnya bakal lebih baik.”

“Berarti nenek buyut nggak bahagia?”

Lelaki tua itu membiarkan pertanyaan Rangga duduk di antara mereka.

“Katanya, dia nggak pernah cerita banyak tentang itu. Nggak pernah belajar bahasa Belanda, nggak pernah cerita soal lelaki itu juga. Tapi kalau ditanya bahagia atau nggak, ayah rasa nggak.”

Denting kecil dari bel di atas pintu memecah diam di antara mereka. Seorang pemuda berdiri di ambang toko dengan tas selempang yang menggantung di pundaknya.

“Om Damar. Kamera yang bapak saya pesen, udah siap?”

Wajah Damar seketika melunak dan bangkit dari kursi.

“Tumben kamu yang ngambil, Raka. Bapakmu mana?”

“Lagi jaga toko. Katanya suruh saya yang ke sini.”

Percakapan mereka terus berlanjut, berbaur dengan riuh pasar Cikapundung di luar sana.

Bingkai foto itu masih berada di tangan Rangga. Ia membaliknya perlahan. Bagian belakang bingkai tampak lebih kusam daripada bagian depan, dan penutupnya sedikit renggang di salah satu sudut kanan.

Rangga menyelipkan kuku ibu jarinya pada celah kecil itu dan membukanya perlahan.

Foto kusam di dalamnya sedikit bergeser.

Pada bagian belakang foto, tulisan pudar membuat ibu jari Rangga mengusapnya dengan sedikit kasar.

Tangannya merogoh saku celana, mengambil ponselnya yang berdiam di sana. Beberapa kali ibu jarinya mengetuk layar sebelum aplikasi penerjemah terbuka.

Ponsel itu diangkat mendekati tulisan. Dari luar, seseorang tertawa dan disusul suara motor yang menyala di ujung lorong, dan kalimat muncul di layar tanpa samar.

Kekasihku, Sari.

About author

Articles

Anggun Meilani, menggemari cerita-cerita sekaligus sesekali mencoba menulis cerita pendek. Saat ini menjadi mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa & Sastra Indonesia, Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Dapat dihubungi via surel anggunmeilani0813@gmail.com.
Avatar photo
Related posts
BudayaEsaiSusukan

Cetak Biru dari Danawarih: Bagaimana Ki Gede Sebayu Mengubah Tegal dari Lahan Gersang Menjadi “Jepang-Nya Indonesia”

Read more
PuisiSastra

Juni Tak Ada Puisi dan Puisi-puisi Lainnya

Read more
CerpenSusukan

Saat Dunia Tidak Sejalan dengan Mimpi

Read more
KABAR LOGAWA
Mari Mengalir Bersama

Dapatkan kurasi tulisan sastra pilihan, wawasan budaya Penginyongan, dan informasi agenda terbaru langsung di kotak masuk surel Anda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *