CerpenSastra

Badar

Menjelang subuh pengeras suara masjid di tengah kampung mengabarkan satu kematian.

Kematian Badar diumumkan terlambat untuk seseorang yang semalam suntuk terkunci di dalam kamar. Dia ditemukan terbaring tidak bernyawa di ranjang reyot berukuran 120 x 200 cm. Tubuhnya yang kurus mengeluarkan bau tidak sedap dari campuran obat lama dan tahi manusia yang berserakan di sekitar ranjang.

Bekas popok teronggok menumpuk di sudut kamar, agas mengerumuni piring kotor berisi sisa nasi yang mengeras, sementara dengung nyamuk terdengar memenuhi udara. Wajah pucat Badar menghadap langit-langit kamar yang lapuk oleh bocoran air. Jemarinya mengepal kaku di sisi tubuh. Tidak ada tanda kamar itu pernah benar-benar dirawat, selain debu yang menebal di lantai dan menempel di telapak kaki siapa pun yang masuk.

Kabar kematian itu segera meramaikan kembali rumah Badar yang lama sepi. Sandal-sandal mulai memenuhi halaman. Kain putih telah terpasang di tiang tenda. Orang-orang datang dengan wajah yang lebih ingin tahu daripada berduka. Radin, modin kampung datang saat matahari naik, berbicara pelan dengan beberapa lelaki agar pemakaman segera disiapkan.

Radin bergegas masuk ke kamar, beberapa orang mengikuti dari belakang. Ada lima orang di dalam kamar itu: satu modin yang bertugas memulasarakan jenazah; satu marbot yang membantu fasilitas dan perlengkapan pemandian jenazah; dan tiga orang tetangga sebelah Badar yang datang hampir bersamaan, masih dengan sarung yang dilipat seadanya bahkan salah satunya belum sempat melepas peci, miring sedikit seperti dipasang sambil berjalan.

Mata Radin menyapu sudut-sudut ruangan yang kotor sebelum berhenti pada simbol salib yang terpajang di dinding. Dia mendekat ke sisi tubuh Badar, dilihatnya pula seutas tasbih menggantung diam di ujung tiang ranjang. Di sisi lainnya, sebuah buku bersampul hitam (KEJADIAN) bersandar terbuka pada bantal dengan bekas lipatan di salah satu halamannya.

“Badar oh Badar… ayamku tadi pagi berisik sekali, entah kenapa. Ternyata…” kata Kandar.

Kandar selain tetangga sebelah Badar, dia juga juragan ayam petelur dan pemilik toko kelontong. Dia orang yang kelihatannya biasa saja, tetapi jadi tulang punggung diam-diam di lingkungan. Semua orang kenal, tahu gosip, dan tahu kebiasaan tetangga. Nahasnya dia orang pertama yang sadar suasana rumah ini tidak biasa.

“Terakhir beli rokok dia,” kata Kandar, sambil menggulung ulang sarungnya yang mulai merosot.

Radin dengan hati-hati menutup mata Badar yang masih terbuka. Jemari yang semula mengepal dibukanya perlahan, diluruskan, dan disilangkan di atas dada. Bibirnya bergerak lirih, komat-kamit membaca doa.

Kandar yang menyaksikan itu turut berkomentar, “kok ditalkin?”

“Siapa tahu masih Islam,” jawab Radin tanpa menoleh.

Kandar menggeser berdirinya, mencoba masuk lebih jelas ke dalam kamar. “Lah itu, simbol apa? Jelas begitu,” katanya, sambil menunjuk krusifiks di dinding kamar. Beberapa pasang mata ikut menoleh ke arah yang sama. Ruangan itu mendadak terasa tidak sekadar kotor, tetapi juga membingungkan.

Kandar terdiam sejenak. Dia teringat perjumpaannya dengan Badar. Lelaki itu dulu pernah menyebut sesuatu yang asing di telinganya apalagi suara Badar terdengar pelan nyaris seperti gumaman. Kandar tidak yakin, tapi dia juga tidak pernah benar-benar lupa.

Dia juga ingat satu sore ketika Badar datang ke toko kelontongnya untuk membeli rokok. Lelaki itu berjalan gontai dengan tongkat kayu panjang yang menyangga tubuhnya, berdiri di depan etalase agak lama, seperti lupa apa yang ingin dibeli.

Setelah menerima kembalian, dia tidak langsung pergi. “Lemas,” kata Badar waktu itu.

“Kenapa-kenapa?” tanya Kandar.

“Habis operasi… langsung balik,” katanya pelan. “Di perantauan cuma numpang repot,” lanjutnya sembari menyelipkan rokok ke saku, lalu pergi tanpa menunggu respons.

Sejak itu Kandar tak pernah benar-benar melihatnya lagi.

Di kamar itu, Kandar kembali bicara pelan, “kalau ternyata dia bukan Islam, bagaimana?”

Tidak ada yang langsung menanggapi. Kematian Badar jadi persoalan jarang untuk Radin, karena sebetulnya seorang modin memiliki pegangan khusus. Salah satunya adalah tidak ada pembedaan, selama si fulan belum murtad, mesti dilayani secara Islam. Radin menimpali, “kita urus sebagaimana yang kita kenal dulu.”

“Tapi tanda-tandanya…”

“Bisa menipu,” potong Radin cepat. “Jangan mendahului yang kita tidak pasti. Mengurus jenazah hukumnya fardhu kifayah kalau tidak dilayani secara Islam kamu pun kena dosanya.”

Kandar terdiam. “Kalau kita salah?” tanyanya lagi.

Modin kampung itu memijat pangkal hidungnya. “Itu urusan nanti. Tapi kalau kita sengaja meninggalkan kewajiban karena ragu, itu urusan sekarang.”

Pertanyaan Kandar tak menemukan tempat di ruangan itu. Dia kembali diam. Orang-orang yang menyaksikan perdebatan itu juga diam. Dari luar kamar terdengar suara menginterupsi, “Pak Modin, pemandian sudah siap.”

Radin mengangguk. Tidak ada lagi yang mempersoalkan krusifiks di dinding. Setidaknya untuk saat itu. Lalu, beberapa lelaki yang ada di kamar mulai bergerak, membantu mengangkat tubuh Badar. Ranjang reyot itu berderit pelan saat beban di atasnya berkurang. Tubuh itu terasa ringan seperti tidak lagi menyisakan apa pun selain kulit dan tulang. Ketika selimut dibuka, bau yang sempat tertahan kembali menyeruak. Salah satu dari mereka mendengkus keras, lainnya memalingkan wajah.

Sebelum tubuh itu diangkat sepenuhnya, seorang perempuan terlihat berdiri mencolok di ambang pintu. Dia tidak masuk apalagi mendekat, anak kecil di sampingnya menarik ujung bajunya pelan. Mata anak itu samar-samar terlihat berkaca-kaca, bibirnya mengatup kuat-kuat, dan tangan lainnya memegang ciki-ciki yang tidak selesai dimakan.

Perempuan itu menatap ke dalam kamar lama sekali, dia mengenali setiap sudutnya. Sebab dulu dirinya yang membersihkan ruangan itu. Merawat, mengganti popok, memandikan, sampai menemani sepanjang hari. Bau yang sekarang menguar itu bukan hal asing baginya.

Namun dia tidak bicara, tidak menjadi bagian dari keputusan apa pun.

Di tempat pemandian, ember-ember air telah disiapkan. Wangi aroma kapur barus bercampur bidara mulai menutup bau lain di udara, kain penutup dibentangkan perlahan, menjaga apa yang masih harus dijaga.

“Pelan-pelan,” ujar Radin.

“Pangku saja ya Pak Modin biar lebih mudah memandikannya,” ucap Rais, marbot kampung situ, sambil mencondongkan tubuh ke depan, bersiap memulai prosesi.

“Bukan anjuran, itu ada dipan, sudah disiapkan,” jawab Radin.

Beberapa dari mereka mengangguk takzim lalu dengan cekatan mengambil gayung. Mereka menempatkan diri mengelilingi jenazah. Tangan-tangan yang memandikan bergerak hati-hati, seolah memperlakukan sesuatu yang telah pergi dengan tuma’ninah.

Air pertama disiramkan dari kepala, mengalir pelan melewati wajah, turun ke tubuh yang sudah tidak menolak apa pun. Air berikutnya menyusul, membasuh anggota wudu, membersihkan gigi, sela-sela jari, kuku, dan kulit yang menipis. Perutnya ditekan perlahan, lalu diusap hati-hati, seolah mengurus jabang bayi yang ringkih.

Dari luar pemandian, bisik-bisik mulai terdengar.

“Puspita sama anaknya datang.”

“Ikut mandiin?”

“Enggak.”

“Berarti bener rumor cerai itu ya?”

“Ya kan sudah bukan siapa-siapa.”

“Padahal dia yang paling tahu.”

Kalimat terakhir tidak ditanggapi.

Tidak ada yang benar-benar tahu apa yang sedang mereka lakukan selain mengikuti apa yang sudah biasa dilakukan. Lalu semuanya selesai begitu saja.[]

About author

Articles

Penulis lepas dari Banjarnegara, Jawa Tengah
Avatar photo
Related posts
CerpenSastraSusukan

Kekasihku, Sari

Read more
PuisiSastra

Juni Tak Ada Puisi dan Puisi-puisi Lainnya

Read more
CerpenSusukan

Saat Dunia Tidak Sejalan dengan Mimpi

Read more
KABAR LOGAWA
Mari Mengalir Bersama

Dapatkan kurasi tulisan sastra pilihan, wawasan budaya Penginyongan, dan informasi agenda terbaru langsung di kotak masuk surel Anda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *