BeritaInfo

Memasyarakatkan Guritan Banyumas

Purwokerto, 21 Juni 2026. Minggu pagi itu terasa berbeda, angina sejuk turun dari puncak gunung Slamet yang megah berhembus hingga di sebuah ruang pertemuan di kawasan Purwokerto Utara. Di ruangan itu, tidak ada panggung megah dan spanduk besar yang mencolok. Namun, meja-kursi disusun melingkar, dan terisi penuh. Obrolan hangat menguar di antara orang-orang yang sudah lama menggeluti budaya Banyumas, para pakar, praktisi, dan peneliti yang sedang belajar memahami sebuah produk budaya lisan bernama Guritan Banyumas.

Kegiatan bertajuk Focus Group Discussion (FGD) Guritan Banyumas: Sejarah, Dinamika, dan Antologi Karya ini diselenggarakan oleh Yayasan Kajian Nusantara Raya. Di balik meja panitia, terlihat Endah Kusumaningrum selaku Ketua Program dan Mukhammad Hamid Samiaji selaku Ketua Riset, dua akademisi yang menjadi motor penggerak forum ini. Focus Group Discussion (FGD) berlangsung kurang lebih enam jam dengan menghadirkan enam narasumber, semuanya nama-nama yang bukan asing di dunia budaya dan akademik Banyumas.

Dari Mana Kita Bicara

Sebelum berbicara soal guritan, peserta diajak memahami dulu tanah tempat guritan itu tumbuh. Bambang Wadoro, budayawan Banyumas, membuka diskusi dengan memaparkan akar sejarah bahasa Banyumasan. Dalam pandangannya, bahasa penginyongan bukan sekadar dialek pinggiran dari bahasa Jawa standar. Bahasa ini punya identitasnya sendiri, dengan ciri fonologis, leksikal, dan kultural yang khas. Kata Penginyongan sendiri berasal dari kata ‘Inyong,’ yang berarti ‘saya’ atau ‘aku’ dalam bahasa Jawa ngapak Banyumas, sebuah penanda diri yang sekaligus menjadi penanda komunitas.

Budayawan yang akrab disapa Pak Bador ini juga mengingatkan bahwa semangat untuk merawat dan mengakui keberadaan bahasa penginyongan sebenarnya pernah mendapat momentum besar. Pada tahun 2016, Kongres Pertama Basa Penginyongan diselenggarakan di Kabupaten Banyumas, menghadirkan budayawan, akademisi, dan praktisi dari berbagai kabupaten yang memiliki akar budaya Banyumasan seperti Banjarnegara, Purbalingga, Kebumen, Cilacap, serta sebagian Brebes dan Wonosobo. Kongres tersebut menegaskan bahwa marwah bahasa penginyongan berpusat di Kabupaten Banyumas, dan keberlangsungannya bergantung pada upaya bersama dari seluruh pemangku kepentingan. Sepuluh tahun setelah kongres itu, forum hari ini boleh dikatakan sebagai bagian dari anak tangga yang sama.

Guritan dan Kebudayaan Banyumas

Teguh Trianton, akademisi dan peneliti budaya, mengambil giliran untuk mengantar peserta pada pemahaman tentang kebudayaan Banyumas sebagai fondasi tempat guritan berdiri. Dalam paparannya, kebudayaan Banyumas memiliki karakter yang terbuka, egaliter, dan penuh ekspresi. Karakter inilah yang kemudian meresap ke dalam bentuk-bentuk sastra lisannya, termasuk guritan.

Lalu apa itu guritan? Secara sederhana, guritan adalah coretan, semacam puisi atau sajak dalam bahasa Banyumasan. Namun menyebutnya sekadar puisi tentu terlalu ringkas. Achmad Sultoni, akademisi dan peneliti budaya lainnya, menggarisbawahi bahwa guritan menyimpan nilai-nilai yang dalam. Ada nilai kesetiakawanan, nilai kearifan hidup, nilai perlawanan terhadap kesewenang-wenangan, bahkan nilai spiritual yang tercermin dari pilihan diksi dan rima yang digunakan. Guritan bukan sekadar permainan kata, melainkan cermin dari cara pandang masyarakat Banyumas terhadap dunia.

Dari Teks ke Panggung

Salah satu sesi yang paling hidup adalah ketika Wanto Tirta, yang menyandang predikat Presiden Geguritan Banyumas, berbicara tentang perjalanan guritan dari halaman kertas menuju panggung pertunjukan. Dalam penjelasannya, proses itu tidak sesederhana sekadar membaca puisi di depan orang banyak. Ada penafsiran, ada gerak, ada intonasi, ada ruang antara teks dan penampil yang perlu dijembatani dengan kepekaan seni.

Riswo Mulyadi, praktisi geguritan yang sudah bertahun-tahun bergelut langsung dengan dunia pementasan, melengkapi paparan tersebut dari sisi teknis. Bagi Riswo, pementasan guritan adalah medium untuk menjangkau penonton yang mungkin tidak pernah membaca teks guritan seumur hidupnya. Panggung adalah cara guritan berbicara kepada orang banyak, termasuk kepada generasi muda yang lebih akrab dengan layar gawai daripada buku antologi.

Arsip yang Tercecer

Jefrianto, akademisi sekaligus praktisi geguritan, mengangkat persoalan yang mungkin paling mendesak dari semua yang dibahas hari itu, yaitu soal dokumentasi dan arsip. Banyak guritan yang pernah hidup di mulut para seniman tua kini terancam hilang begitu saja tanpa pernah dicatat, direkam, atau diterbitkan. Jefrianto mendorong agar ada gerakan arsipatoris yang terstruktur, mulai dari pendataan guritan yang sudah ada, perekaman penampilan, hingga penerbitan yang bisa menjangkau pembaca di luar komunitas Banyumas.

Menuju Pemasyarakatan Guritan Banyumas

Dari seluruh rangkaian diskusi itu, satu kesepahaman muncul dengan jelas: guritan Banyumas butuh satu sumber acuan yang komprehensif. Bukan hanya kumpulan teks, melainkan sebuah buku atau ensiklopedi yang memuat definisi, sejarah, perkembangan, nilai-nilai, cara pementasan, hingga contoh-contoh guritan yang ditulis langsung oleh para pakar dan praktisi di bidangnya. Buku itu nantinya diharapkan menjadi pintu masuk bagi siapa saja yang ingin mengenal guritan Banyumas, baik sebagai kajian akademis maupun sebagai seni yang bisa langsung dipraktikkan.

Forum ini bukan sekadar diskusi , ada semangat yang palpable di antara peserta, panitia, dan para pakar: bahwa guritan Banyumas layak mendapat perhatian yang lebih serius, layak didokumentasikan dengan baik, dan layak diwariskan kepada generasi berikutnya. Bukan sebagai artefak museum, melainkan sebagai seni yang terus hidup dan relevan.

About author

Articles

Mengalirkan arus kata.
Avatar photo
Related posts
BeritaEventInfo

Sokaraja Art Summit: Evoluasi, Lahan Pertanian, dan Pertunjukkan Seni yang Memukau

Read more
EventInfo

Babad Sokaraja: Membaca Ulang Lukisan Tradisional Khas Sokaraja

Read more
BeritaInfo

ART HEY 6 Hadirkan Puluhan Seniman dalam Pameran Seni Rupa Bertema “Alir” di Purwokerto

Read more
KABAR LOGAWA
Mari Mengalir Bersama

Dapatkan kurasi tulisan sastra pilihan, wawasan budaya Penginyongan, dan informasi agenda terbaru langsung di kotak masuk surel Anda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *