Hasil survei sistem pendidikan global tahun 2026 menempatkan Indonesia di peringkat ke-67 dari 203 negara. Survei itu menujukan mutu pendidikan di Indonesia mengalami peningkatan yang kemudian kerap dipandang sebagai indikator keberhasilan pendidikan nasional. Namun sepertinya kita tidak bisa menutup mata bahwa di balik angka tersebut masih terdapat persoalan mendasar yang belum terselesaikan, yaitu krisis karakter peserta didik.
Pada awal tahun 2026, publik dikejutkan oleh kasus pengeroyokan guru oleh siswa. Beberapa bulan kemudian, muncul kembali video viral siswa yang mengacungkan jari tengah dan berkata kasar kepada gurunya di dalam kelas. Di sisi lain, kasus perundungan di lingkungan pendidikan juga menunjukkan tren peningkatan dari waktu ke waktu.
Berbagai fenomena tadi menunjukkan bahwa keberhasilan pendidikan tidak dapat hanya diukur dari angka dan prestasi akademik yang rawan manipulasi. Ada aspek yang jauh lebih penting dan fundamental, yaitu pembentukan karakter peserta didik yang mencakup adab, empati, dan tanggung jawab sosial.
Sepuluh tahun sejak Pendidikan Karakter dicanangkan dalam kurikulum pada 2016, berbagai persoalan tersebut justru memunculkan banyak pertanyaan. Apa sebenarnya yang masih menjadi akar masalah? Apakah cukup dengan menambah aturan, memperbanyak materi moral, atau memperketat sanksi di sekolah? Atau justru ada hal yang lebih mendasar yang sering terabaikan, yaitu bagaimana nilai adab, disiplin, dan penghormatan benar-benar ditanamkan dalam kehidupan sehari-hari siswa?
Di titik ini, kurikulum yang tidak hanya berfokus pada aspek akademik, tetapi juga pada penguatan nilai agama, akhlak, kedisiplinan, serta materi akidah menjadi semakin relevan dan mendesak untuk diperhatikan kembali. Pendidikan karakter tidak cukup hanya dipahami secara teoritis, tetapi perlu diwujudkan melalui pembiasaan yang konsisten dan berkelanjutan.
lembaga pendidikan di Indonesia perlu menerapkan pendekatan pendidikan karakter dengan mengintegrasikan aspek akademik, nilai keagamaan, dan pembentukan karakter dalam sistem pembelajaran. Salah satu Lembaga Pendidikan yang terus konsisten melakukan itu ialah sokolah di bawah naungan LP Ma’arif NU.
Praktik Pendidikan Karakter di Sekolah
Penguatan karakter generasi umat Islam yang rahmatan lil alamin sebagai representasi karakter peserta didik seharusnya tercermin dalam berbagai aktivitas pembiasaan di lingkungan sekolah, khususnya sekolah berbasis Agama Islam. Penguatan akidah bisa dilakukan melalui kegiatan keagamaan seperti pembacaan Asmaul Husna, tadarus Al-Qur’an, doa bersama sebelum pembelajaran, serta shalat berjamaah yang dibiasakan secara rutin.
Selain pemupukan akidah program di atas juga membuat siswa lebih mengenal ajaran Islam secara perlahan. Dan jika kebiasaan itu menjadi budaya dan dirawat dengan disiplin maka nilai-nilai islam akan terserap dalam diri siswa dan keluar menjadi karakter.
Pada aspek akademik di sekolah-sekolah Ma’arif NU ada porsi tambahan dengan adanya mata pelajaran keislaman—Akidah Akhlaq, Al-Quran dan Hadits, Sejarang Peradaban Islam, Fiqh—yang peririsan dengan praktik pembangunan karakter siswa di sekolah.
Pada aspek sosial pembentukan karakter diperkuat melalui budaya 5S (senyum, salam, sapa, sopan, santun), kebiasaan bersalaman dengan guru, serta kegiatan infaq yang melatih kepedulian sosial dan tanggung jawab siswa. Mungkin ini terlihat sederhana, tatapi jika diwacanakan dengan baik dan tepat kepada siswa perlahan tumbuh menjadi karakter yang mengakar. Senyum menjadi sikap persuasif yang akan membaca efek domino ke aspek sosial siswa, salam dan sapa akan membuka pintu interaksi yang positif dan membentuk karakter yang sopan dan santun. Di balik kesederhaan lima karakter tersebut dewasa ini ternyata menjadi masalah pada karakter siswa.
Berdasarkan rangkaian pembahasan tersebut, terlihat bahwa kebutuhan utama pendidikan saat ini bukan hanya pada aspek akademik, melainkan pada pembentukan karakter yang nyata dalam kehidupan sehari-hari. Dari kebiasaan yang terus menerus ditanamkan maka akan terbentuk karakter yang tidak hanya baik tetapi juga tidak akan mudah tergeser oleh nilai-nilai lain. Slogan yang terlihat sederhana jika dipopulerkan dan menjadi mata rantai pendidikan karakter di sekolah maka akan berdampak besar.
Pada akhirnya pendidikan karakter tidak cukup berhenti sebagai konsep, tetapi harus diwujudkan melalui pembiasaan yang berkelanjutan. Dalam konteks ini, pendekatan pendidikan berbasis nilai keagamaan menjadi salah satu alternatif yang relevan karena mampu mengintegrasikan pembentukan akhlak, kedisiplinan, dan nilai moral secara langsung dalam aktivitas pendidikan. Dengan demikian, pembiasaan yang terstruktur dapat menjadi salah satu rujukan penting dalam memperkuat pendidikan karakter di masa kini.




