BeritaInfo

Pagelaran Karya PBSI UMP 2026: Mencari Celah Tumbuh Kembangnya Sastra di Kampus Banyumas


Purwokerto — Kamis, 14 Mei 2026, di tengah adanya libur nasional, terdapat kegiatan di Universitas Muhammadiyah Purwokerto yang tidak seperti biasanya. Sejak pukul tujuh pagi, ada sesuatu yang berbeda di UMP Tower. Bukan demo, bukan wisuda, bukan pula rapat besar. Yang terjadi adalah sebuah pagelaran, ruang bagi mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) memamerkan apa yang telah mereka kerjakan selama setahun terakhir.

Pagelaran Karya Mahasiswa PBSI UMP 2026 berlangsung seharian penuh, dari pagi hingga malam. Agenda ini bukan yang pertama kali digelar. Setiap tahun, PBSI UMP menyiapkan ruang semacam ini, dan setiap tahun ada generasi mahasiswa baru yang untuk pertama kalinya berdiri di depan karya mereka sendiri dan membiarkan orang lain menilainya.

Arwa Dwi Ainun Nisa, selaku ketua panitia, menjelaskan bahwa acara ini memang dirancang sebagai wadah yang konsisten. “Ini adalah acara tahunan untuk mewadahi karya-karya mahasiswa PBSI UMP,” kata Arwa. Sederhana, tapi punya bobot. Kata “mewadahi” di sini bukan sekadar basa-basi. Artinya ada tempat yang sengaja dibuat, ada perhatian yang sengaja diberikan, supaya karya mahasiswa tidak hanya berakhir sebagai file di laptop atau lembaran yang tersimpan di laci.

Buku yang Menandai PBSI UMP sebagai Penggerak Arus Sastra di Kampus Banyumas

Pagelaran tidak dibuka dengan sambutan panjang. Pembukaan justru ditandai dengan sesuatu yang lebih berat dan lebih bermakna, yaitu peluncuran buku antologi berjudul (Menjelang) Kulminasi Sastra. Buku ini bukan kumpulan puisi atau cerpen biasa. Isinya adalah kritik sastra, sebuah genre yang tidak banyak diminati tetapi punya peran penting dalam ekosistem kesusastraan. Yang dikritisi di dalamnya adalah karya-karya para penulis yang pernah belajar dan mengabdikan diri di PBSI UMP. Nama-namanya tidak asing di dunia sastra Indonesia dan Daerah: Abdul Wachid B.S., Arif Hidayat, Irfan Nugroho, Teguh Trianto, Bayu Suta Wardianto, dan sejumlah nama lain yang karya-karyanya sudah beredar luas.

Bahwa karya para alumni dan civitas akademika PBSI UMP dikritisi secara serius dalam satu buku tersendiri adalah pernyataan yang kuat. Artinya, ada tradisi menulis yang cukup mapan di sini. Ada produk intelektual yang layak untuk dibedah, diperdebatkan, dan dibaca ulang. Buku ini bukan sekadar dokumentasi, melainkan pengakuan bahwa PBSI UMP telah melahirkan penulis-penulis yang karyanya patut diperhitungkan.

Bersamaan dengan peluncuran buku, berlangsung pula seminar yang menghadirkan Endah Kusumaningrum sebagai pembicara. Endah bukan nama yang asing dalam kepenulisan sastra di Banyumas, khususnya sastra anak. Endah Kusumaningrum juga merupakan dosen di UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto. Yang membuat kehadirannya hari itu terasa pas adalah satu latar belakang yang dimilikinya, yaitu Endah adalah lulusan PBSI UMP sendiri dan tulisannya ikut dibedah dalam buku yang diluncurkan.

Ada logika yang rapi di sini. Seseorang yang pernah duduk di bangku PBSI UMP, kemudian tumbuh menjadi penulis sekaligus akademisi, lalu kembali untuk berbicara di hadapan adik-adik angkatannya. Ini bukan sekadar kisah sukses alumni yang pulang kampung. Ini adalah bukti bahwa lintasan dari mahasiswa PBSI UMP menuju penulis yang diperhitungkan bukan sesuatu yang mustahil.

Keseluruhan sesi seminar dan peluncuran buku ini memberi sinyal yang jelas: PBSI UMP menempatkan dirinya sebagai arus utama dalam melahirkan dan mengembangkan penulis sastra dari kampus. Bukan klaim kosong, melainkan pernyataan yang ditopang oleh nama-nama nyata dan karya-karya yang bisa dibaca.

Lima Pintu Masuk ke Dalam Karya

Di luar sesi seminar, pagelaran membentangkan pameran karya mahasiswa yang mencakup lima bentuk ekspresi: puisi, cerpen, fotografi, gambar sketsa, dan pantun. Masing-masing punya cara bicaranya sendiri.

Puisi hadir dalam kepadatan kata yang menuntut pembaca untuk tidak terburu-buru. Cerpen meminta sedikit lebih banyak waktu, mengajak masuk ke dalam dunia yang dibangun kalimat per kalimat. Fotografi tidak memerlukan banyak penjelasan karena gambar memang bekerja dengan cara yang berbeda dari teks. Sketsa membawa kesegaran tersendiri karena di balik garis-garis pensil ada keputusan-keputusan kecil yang mencerminkan cara pandang pembuatnya. Pantun, yang sering dianggap sebagai bentuk lama, justru hadir dengan energi yang tidak kalah segar.

Kelima bentuk karya ini tidak muncul dalam satu malam. Ada proses panjang di belakangnya, jam-jam yang dihabiskan untuk menulis ulang, memotret berkali-kali, atau menarik garis yang terasa lebih jujur dari sebelumnya. Pameran ini adalah cara mahasiswa mengatakan bahwa proses itu nyata dan hasilnya layak untuk dilihat.

Senja yang Berbicara Lewat Tubuh dan Suara

Menuju senja tiba, pagelaran bergeser ke moda yang lebih hidup. Penampilan Apresiasi Sastra mengisi penghujung hari dengan rangkaian pertunjukan yang mengubah teks menjadi pengalaman langsung.

Musikalisasi puisi membawa bait-bait yang biasanya dibaca dalam diam ke dalam nada dan melodi. Monolog menghadirkan satu suara yang harus menanggung seluruh cerita sendirian. Penampilan nyanyian hadir di antara sela-sela pertunjukan, memberi jeda sekaligus kedalaman. Deklamasi puisi mengingatkan bahwa membacakan puisi dengan keras adalah keterampilan tersendiri yang tidak bisa dikerjakan asal-asalan. Teatrikal puisi menutup malam dengan mempertemukan kata, gerak, dan ruang dalam satu kesatuan yang tidak mudah dilupakan.

Bagi sebagian penonton, malam itu mungkin menjadi pertama kali mereka menyaksikan puisi yang bergerak dan bersuara. Bagi mahasiswa yang tampil, malam itu adalah momen ketika sesuatu yang lahir dalam kesendirian menjadi milik bersama.

Satu Hari yang Menggenapi Satu Tahun

Pagelaran Karya Mahasiswa PBSI UMP 2026 berlangsung satu hari, tapi berdiri di atas satu tahun kerja. Acara ini tidak mencoba menjadi lebih dari apa yang memang seharusnya: ruang yang jujur, tempat mahasiswa dan karya mereka bertemu langsung dengan publik kampus.

Tahun depan, pagelaran ini akan kembali. Dengan wajah panitia yang mungkin berbeda, dengan karya-karya yang tentu berbeda, dan dengan mahasiswa baru yang untuk pertama kalinya akan berdiri di depan sesuatu yang mereka buat sendiri. Dan itu, agaknya, sudah cukup menjadi alasan untuk terus mengadakannya.


About author

Articles

Mengalirkan arus kata.
Avatar photo
Related posts
BeritaInfo

Ritual Pakeong Kembali Digelar, Keberadaannya di Banyumas Dinilai Kian Terancam

Read more
EventInfo

Tadarus Sastra Ramadhan di Tipar Kidul: Menyatukan Spirit Religi dan Kreatifitas Seni

Read more
BeritaInfo

Mengibarkan Bendera Putih: Pertanda Kemenangan

Read more
KABAR LOGAWA
Mari Mengalir Bersama

Dapatkan kurasi tulisan sastra pilihan, wawasan budaya Penginyongan, dan informasi agenda terbaru langsung di kotak masuk surel Anda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *