Pernahkah terpikir, Tuhan itu seperti influencer kekinian yang selalu up to date? Selalu mengikuti tren terbaru, tapi tetap mempertahankan esensi abadinya yang tak tergoyahkan. Bukan hanya “Maha Pengasih lagi Maha Penyayang” yang sering terdengar di khutbah Jumat atau doa-doa sehari-hari, tapi juga “Maha Trendy”. Di era media sosial di mana semua orang berebut membuat konten viral, bayangkan saja Tuhan sedang scroll TikTok sambil tertawa melihat dance challenge terbaru. Bukan bermaksud mengejek agama, tentu saja. Justru ini cara untuk merenungkan ulang: Tuhan begitu dekat, begitu relevan dengan kehidupan sehari-hari yang penuh filter Instagram dan hashtag Twitter (kini berubah nama menjadi X). Konsep ini bukan sekadar guyonan ringan, tapi undangan untuk melihat ketuhanan dari sudut pandang yang lebih segar, lebih manusiawi, dan lebih nyambung dengan denyut nadi zaman sekarang.
Bayangkan saja, di tengah hiruk-pikuk algoritma yang menentukan apa yang kita lihat setiap hari, Tuhan seolah ikut bermain dalam permainan itu. Bukan sebagai penguasa yang jauh di surga, tapi sebagai sahabat yang paham betul apa yang sedang hits. Ini mirip dengan bagaimana kita sering merasakan kehadiran-Nya di momen-momen kecil: saat lagu favorit tiba-tiba muncul di playlist Spotify tepat saat hati sedang pilu, atau saat quote bijak dari akun random muncul di feed tepat waktu. “Maha Trendy” bukan berarti Tuhan ikut-ikutan tren sementara seperti challenge es bucket atau dance ala K-pop, tapi lebih kepada kemampuan-Nya untuk selalu relevan, selalu menyentuh hati di mana pun kita berada. Ini adalah cara baru untuk tadabbur, perenungan yang dulu dilakukan di tepi pantai atau saat menonton wayang, kini berpindah ke layar ponsel pintar.
Akar dari Ide “Maha Asyik” Menuju “Maha Trendy”
Semua ini terinspirasi dari buku Tuhan Maha Asyik karya Sujiwo Tejo dan Buya MN Kamba, yang menjadi pembuka pintu bagi pemahaman ketuhanan yang lebih santai dan bebas. Buku itu menggambarkan Tuhan bukan sebagai sosok kaku yang duduk di singgasana awan, menunggu kita menunaikan salat lima waktu sambil mencatat dosa-dosa kecil. Tidak sama sekali. Di sana, Tuhan digambarkan asyik, playful, suka “bermain-main” melalui dialog-dialog polos dari anak-anak yang belum ternoda dogma kaku. Anak-anak bertanya hal-hal sederhana seperti “Kenapa Tuhan suka bercanda?” atau “Apa Tuhan juga capek bikin alam semesta?”, dan jawabannya selalu mengalir ringan, penuh hikmah tapi tanpa beban berat teologi formal.
Nah, jika Tuhan Maha Asyik adalah versi dasar, maka “Tuhan Maha Trendy” adalah upgrade-nya untuk era digital. Di buku itu, Sujiwo dan Buya menggunakan bahasa budayawan yang indah, mengkritik pemahaman agama yang terlalu kaku dan ritualistik semata. Mereka mengajak pembaca untuk tadabbur alam, merenungkan kebesaran Tuhan melalui wayang sebagai metafor dalang yang menggerakkan boneka manusia. Kini, di zaman now, tadabbur itu berevolusi. Dulu orang duduk di balkon sambil lihat bintang, sekarang scroll reels Instagram yang menampilkan time-lapse langit malam dengan backsound nasyid remix. Tuhan paham dinamika ini. Saat kita stres gara-gara deadline kerja, tiba-tiba muncul notifikasi meme lucu di grup WhatsApp yang membuat hari cerah kembali. Atau saat galau mencari jodoh, swipe right di aplikasi dating sambil teringat, “Eh, dalangnya pasti sudah mengatur skenario terbaik.”
Ritual Budaya Bertemu Tren Digital
Konsep ini bukan barang baru sepenuhnya. Dalam tradisi Islam Indonesia, ada pepatah lama seperti “Allah Maha Mengetahui” yang sering dihubungkan dengan kehadiran-Nya di setiap detail kehidupan. Tapi “Maha Trendy” menambahkan lapisan modern: Tuhan bukan hanya tahu, tapi juga ikut beradaptasi dengan tren tanpa kehilangan hakikat-Nya. Bayangkan Nabi Ibrahim yang dulu debat dengan Raja Namrud menggunakan logika api tak membakar. Kalau zaman sekarang, mungkin dia bikin thread Twitter dengan infografis “5 Alasan Mengapa Api Tak Bisa Bakar Orang Beriman”, yang viral dan dibagikan ribuan kali. Atau Nabi Yusuf, yang tafsir mimpi lewat algoritma AI modern. Ini bukan merendahkan nabi-nabi, tapi menunjukkan bahwa pesan ilahi selalu timeless, selalu trendy di konteksnya masing-masing.
Hidup di Indonesia membuat konsep ini semakin pas. Negeri ini kaya ritual budaya seperti Rambu Solo di Sulawesi, di mana masyarakat Toraja menggelar upacara pemakaman megah yang melibatkan pengorbanan kerbau dan pesta berhari-hari. Ritual itu cara orang dulu connect dengan Tuhan, menghormati leluhur sambil memohon berkah. Di Jawa, ada selamatan atau tahlilan yang penuh doa dan makanan communal. Tapi sekarang? Ritual-ritual itu pun ikut trendy. Pernah lihat live streaming Rambu Solo di Instagram? Ribuan orang nonton dari rumah, komentar “Mantap mbak, kerbaunya gede!”, sambil like dan share. Tuhan tidak protes; malah seolah ikut bergabung di balik layar, memastikan pesan spiritual tetap sampai meski lewat WiFi.
Podcast spiritual seperti yang dibawakan ustaz-ustaz muda di Spotify adalah contoh lain. Dulu pengajian di masjid atau pondok pesantren, kini bisa didengar sambil jogging atau nunggu ojek online. Tuhan ada di balik algoritma yang merekomendasikan episode “Cara Sabar di Zaman FOMO” tepat saat kita butuh. Bukan berarti agama jadi superficial atau hanya konten konsumsi cepat. Justru sebaliknya: ini membuat iman lebih hidup, lebih integrated dengan daily life. Di tengah budaya cancel culture, Tuhan “Maha Trendy” mengajarkan forgiveness yang viral, seperti story Instagram ustaz yang memaafkan haters-nya secara publik.
Pikirkan juga tentang seni dan budaya. Wayang kulit, yang dulu jadi media dakwah, kini punya versi digital di YouTube dengan subtitle bahasa Inggris untuk jangkauan global. Sujiwo Tejo sendiri sering tampil di podcast atau TV talkshow, membawa esensi Tuhan Maha Asyik ke audiens millennial. Ini menunjukkan Tuhan dinamis: Dia tidak terikat satu bentuk ritual, tapi mengalir melalui apa pun yang sedang tren. Di Bali, upacara Ngaben kini difoto drone untuk konten aesthetic, tapi maknanya tetap dalam—pelepasan roh menuju Tuhan. Tapi, ada tantangannya juga. Di zaman trendy ini, ada risiko agama jadi konten doang. Banyak yang posting ayat suci hanya untuk engagement, tanpa makna dalam. “Maha Trendy” bukan endorsement untuk itu. Ini reminder agar kita tidak membuat Tuhan jadi barang antik di lemari museum agama. Dia dinamis, selalu nyambung dengan tren apa pun—entah K-pop concert yang bikin fan demam, kripto yang naik-turun, atau drama kantor yang bikin stres. Next time scroll feed, coba senyum saja. Siapa tahu itu pesan dari Sang Trendsetter Abadi. Chill aja, Tuhan sudah on trend duluan.
Masalah lain adalah polarisasi. Di medsos, agama sering jadi alat debat panas: Sunni vs Syiah, tradisional vs modern. Tuhan “Maha Trendy” mengajak kita keluar dari echo chamber itu. Dia ada di kedua sisi, seperti dalang wayang yang gerakkan semua karakter. Contohnya, saat pandemi COVID-19, masjid tutup tapi doa online booming. Tren zoom pengajian jadi berkah, orang tetua belajar pakai gadget demi ikut. Tuhan trendy banget, adaptasi cepat demi umat-Nya tetap connect.
Secara psikologis, konsep ini membantu mental health. Di era anxiety tinggi gara-gara FOMO (fear of missing out), percaya Tuhan Maha Trendy bikin tenang. Dia tahu tren terapi mindfulness, tahu kenapa journaling lagi hits. Buku seperti The Power of Now ala Eckhart Tolle punya vibe mirip: hadir di saat ini, yang juga ajaran Islam soal “barzakh” atau hidup sekarang. Gabungan ini bikin spiritualitas hybrid yang sehat.
Ekspansi ke Cerita Nabi Zaman Now: Integrasi dengan Budaya dan Teknologi
Bayangkan nabi-nabi di era digital. Nabi Musa? Bukan tongkat jadi ular, tapi live YouTube “Challenge Belah Laut Merah” dengan 1 juta viewer real-time. Firaun komentar “Fake!”, tapi Musa reply dengan miracle verified. Nabi Nuh? Bikin ark dari kontainer shipping, crowdfunding via Kitabisa dengan tagline “Save Humanity from Banjir Global”. Noah’s Ark jadi meme template: “Me avoiding drama while building my boat”.
Nabi Isa? Healing session via TikTok, touch screen untuk obati pasien remote. “Like if you believe, share for miracle”. Nabi Muhammad saw.? Thread panjang soal akhlak di Twitter, battle haters dengan sabar dan wisdom. Setiap wahyu jadi podcast episode: “Surah Al-Fatihah: The Ultimate Life Hack”.
Ini bukan blasphemy, tapi cara fun untuk ingat pesan mereka tetap relevan. Tren storytelling modern bikin ajaran lama fresh lagi. Di Indonesia, komik webtoon Islami atau animasi sinetron ramadhan adaptasi kisah nabi, bukti Tuhan ikut evolve media dakwah.
Budaya pop penuh contoh. Lagu rohani remix EDM hits di club malam, tapi liriknya tetap zikir. Film superhero Hollywood punya tema messianic, mirip kisah nabi. Tuhan Maha Trendy ada di sana, inspirasi kreator tanpa mereka sadari. Tech seperti VR? Bayangin haji virtual untuk yang tak mampu, tadabbur Ka’bah 360 derajat dari rumah.
AI seperti ChatGPT? Bisa bantu hafal Quran atau jelasin tafsir, tapi ingat: tool ini ciptaan Tuhan. Algoritma-Nya lebih advanced, prediksikan hidup kita better dari Netflix recommendation.Di edukasi, konsep ini gold untuk guru seperti di Semarang atau Jawa Tengah. Ajarkan agama via gamification, app quiz Al-Quran dengan streak harian. Anak-anak hooked, iman tumbuh organik.
“Tuhan Maha Trendy” ajak kita hidup autentik. Jangan takut ikut tren asal hati benar. Post konten baik, spread positivity. Chill dengan Tuhan sebagai bestie ultimate.




