Juni Tak Ada Puisi
Aku tahu ini bulan juni, An
tapi semua sudah, berjejal, dan belepotan
Derit-derit token menggantung di langit-langit rumah
sambil mamainkan nada-nada azan subuh itu
di kalender angka sudah berbaris rapih
dan menyatakan bahwa hari ini aku akan digantung di penggantangan!
Sementara warga dan sanak saudara sudah mulai memasang pagar
untuk terus-menerus berdoa.
Kau juga perlu tahu, An
M-bangking hari ini begitu sibuk
Ia mati berkali-kali ditembak harga
tak sempat berkata-kata apalagi membuat puisi macam Sapardi
Jadi, Juni ini tak ada puisi
tapi ada aku
yang melukis mangenta, merah, dan biru di dinding rahimmu
dan menjadikannya anak-anak yang lucu.
Tangerang, 2026
Wahai Para Penyair
Dalam bulan Juni
yang tidak hujan tadi pagi
Aku meminta kata-kata
untuk mengurai rasa hari ini
Aku tak mau
mati dikoyak-koyak kebijakan
apalagi hidup seribu tahun lamanya menjadi WNI!
Mari, turun ke jalan!
Tangerang, 2026
Aku Dan Kamu Terbungkus Rapih Di Supermarket
Dari deret
popok, susu dan mesin ATM
yang macet
Aku dan kamu
terbungkus rapih di supermarket
yang begitu kedap
Dari rak yang berjejer
kopi, gula, dan mie instan
aku dan kamu
terdektesi lima tahun seterusnya
bahkan sampai kematian
yang begitu-begitu saja
Juga dalam antrean yang sesak
dipenuhi tikus dan kecoa
kau mengatakan,
“Itu basi, apak, dan melempem”
jangan lagi dikunyah
sebab cinta tak bisa diecer begitu saja
seperti supermarket yang begitu cepat lari
meninggalkan kelaparan di setiap pukul satu pagi
ia menyerupai tagihan-tagihan
dan sesekali terkena angin duduk
Maka sayang,
Gapitlah tubuh ini
agar tak kedaluwarsa di bungkus roti
Tangerang, 2026
Aduh
Sedikit puisi sudahlah muak
apalagi melulu tentang kau
Ibu berdoa
sudah sujud tiga ribu kali
Bapak lelap
meniduri keringatnya
Aku rindu
pada si Lara
yang larinya bersama anjing.
Aduh Juni
Semua harga naik!
Tangerang, 2026
Semoga Cinta Kita Diterima Zaman Ini
Sudah habis ucapanku
untuk mengatakan bahwa makan siang gratis itu berbayar
sedangkan sebagian percaya bahwa hidup dan mati hanya soal makan.
Lalu, kau bertanya, “Terus apa yang gratis menurutmu?”
“Yang gratis hanya dua! yaitu, menikahimu dan membaca buku”
Kalau Chairil
mau hidup seribu tahun lamanya,
Aku tidak!
Aku hanya mau sebentar saja di sini
itu juga karena kau
Kekasihku
Untungnya kau bukan laki-laki, apalagi oknum
kau kekasihku dan idolamu bukan seorang wakil
sebab ia tak bermakna dan bukan kata kerja.
ia objek yang dikenakan pekerjaan para subjek.
Cecintaku
Di penghujung sajak ini aku berdoa
semoga cinta kita diterima di zaman ini.
Aminnnnn.
Tangerang, 2026
Adalah Doa Untuk Umur Yang Panjang
Di manakah akan kutaruh umur ini?
sedangkan ia bisa dipotong sewaktu-waktu
bukan kematian yang ditakutkan
sebab sudah mati berkali-kali
berkalang asap, derit, dan tagihan
Sementara rumah-rumah sudah tidak aman lagi
para tetangga sibuk membuat pagar
dan aku masih kena macet
di samping polisi menjajakkan dagangan
yang begitu ramai pembelinya
nafsuku sudah habis
sebab aku gagah di barisan mobil listrik
yang menjadi daya tarik sebelum umur dipotong seperkian persen
Mungkin kau benar, kalau tak bisa ditaruh,
ia bisa dibawa, tetapi kemana?
sementara aku masih kena macet
dan menikmati bau, bising yang belingsatan
adalah doa untuk umur yang panjang.
Tangerang, 2026
Semua Sudah Serupa
Semua sudah serupa
pada lampu jalan raya
di mana rumah telah berpagar
serta minimarket sejajar dengan kelaparan
Aku juga serupa
dari deret gang
yang menjajakkan kepudaran
pada tembok-tembok yang berisik
disisa rebusan mie instannya
semua menikmati kematiannya
Lalu, adakah bangku panjang
untuk sekadar berbincang
tentang ketidakpastian
tetangga yang berubah hantu-hantu setiap minggunya,
negara yang makin begini makin begitu anunya
Selamat semuanya!
aku rasa hampir mati rasa
atau jangan-jangan sudah babak belur tertimpa tagihan.
Tangerang, 2026




