BudayaEsai

Dialektika Tubuh dan Tradisi: Fenomena Banyumas Ngibing 24 Jam sebagai Instrumen Resiliensi Budaya

Oleh: Muhammad Umar Ibnu Malik

Eksistensi kebudayaan lokal dalam konjungtur globalisasi sering kali dihadapkan pada ancaman marjinalisasi. Namun, fenomena “Banyumas Ngibing 24 Jam” muncul sebagai antitesis yang terkesan segar, sebuah perhelatan kolosal yang tidak hanya merayakan Hari Tari Sedunia, tetapi juga menegaskan vitalitas identitas masyarakat Banyumas melalui ketahanan fisik dan spiritual.1 Durasi 24 jam ini bukanlah sekadar upaya pemecahan rekor, melainkan sebuah metafora sosiologis tentang stamina kebudayaan yang terus berdenyut tanpa henti di tengah desakan modernitas.3


Secara historis, akar dari perhelatan ini berhulu pada tradisi Lengger yang telah menjadi ruh spiritual masyarakat agraris di lembah Sungai Serayu selama berabad-abad. Lengger secara etimologis sering dikaitkan dengan istilah “leng” (lubang/wanita) dan “jengger” (pria), yang mencerminkan praktik tari lintas gender atau transvesti yang semula bersifat ritualistik. Tarian ini awalnya ditarikan sebagai bentuk syukur kepada Dewi Sri, dewi kesuburan, untuk merayakan keberhasilan panen padi.
Transformasi Lengger dari ritual agraris menjadi seni pertunjukan rakyat yang profan menunjukkan kelenturan budaya Banyumas dalam merespons perubahan zaman. Menariknya, dalam catatan sejarah lisan, Lengger pernah difungsikan sebagai strategi telik sandi atau intelijen pada masa kolonial, di mana gerakan tari digunakan untuk mengirimkan pesan rahasia di antara para pejuang. Hal ini membuktikan bahwa estetika tubuh dalam budaya Banyumas tidak pernah terlepas dari konteks sosiopolitik masanya.
Untuk memahami Banyumas Ngibing, kita harus membedah identitas “Penginyongan” yang secara geografis berkembang di daerah yang jauh dari hegemoni keraton (Solo dan Yogyakarta). Masyarakat Banyumas tumbuh dalam lingkungan “perek watu adoh ratu” yang berarti dekat dengan alam namun jauh dari pusat kekuasaan raja. Kondisi ini melahirkan struktur sosial yang egaliter, bebas dari aturan protokoler feodalistik yang rumit, yang kemudian termanifestasi dalam perilaku Cablaka atau Blakasuta.
Filosofi Cablaka adalah determinan utama yang memberikan warna pada interaksi seni di Banyumas. Cablaka bukan sekadar bicara terus terang, tetapi mencerminkan kejujuran eksistensial dan penolakan terhadap sekat-sekat kelas sosial. Dalam panggung Banyumas Ngibing, nilai ini terlihat dari hilangnya jarak estetika antara penari dan penonton, di mana setiap orang memiliki hak yang sama untuk masuk ke ruang panggung dan mengekspresikan dirinya.


Di sinilah letak perbedaan mendasar antara konsep “menari” dan “ngibing” dalam kacamata sosiologis Banyumas. Jika menari sering dipandang sebagai pertunjukan satu arah yang kaku, “ngibing” adalah sebuah tindakan komunikatif yang spontan dan demokratis. Dalam sesi ngibing, penonton dapat berinteraksi langsung, meminta lagu tertentu, hingga memberikan apresiasi materiil (sawer) sebagai bentuk dukungan ekonomi terhadap kelangsungan seni tersebut.
Peran Rianto sebagai penggagas utama acara ini memberikan dimensi global pada tradisi lokal. Sebagai penari internasional yang mengelola Dewandaru Dance Company di Tokyo, Rianto melakukan dekonstruksi terhadap stigma negatif yang sempat melekat pada Lengger. Melalui Rumah Lengger, ia mengembalikan tari sebagai “jalan hidup” atau darma, di mana setiap gerakan seperti keweran dan pilesan adalah abstraksi dari kehidupan nyata manusia yang harus selaras dengan alam.
Visi Rianto dalam Banyumas Ngibing adalah menjadikan tubuh sebagai ruang belajar yang inklusif. Ia menekankan bahwa menari bukan sekadar menghafal koreografi, melainkan upaya menyadari kehadiran jiwa dalam setiap gerak. Dengan membawa penari dari Amerika Serikat, Belanda, hingga Kazakhstan, Rianto berhasil memposisikan Banyumas sebagai salah satu titik gravitasi dalam peta budaya internasional.
Pelaksanaan acara ini juga didahului dengan ritual “Tapa Bisu”, sebuah prosesi jalan sunyi yang dilakukan oleh para sesepuh. Ritual ini berfungsi sebagai penyeimbang spiritual, mengingatkan masyarakat bahwa di balik keriuhan perayaan, ada kedalaman batin yang harus dijaga.5 Tapa Bisu adalah bentuk introspeksi kolektif sebelum manusia merayakan kegembiraannya melalui gerak tubuh selama 24 jam penuh.5
Selain itu, inisiatif “Lengger Pasar” membawa seni tari langsung ke jantung aktivitas ekonomi rakyat. Dengan menari di pasar tradisional, tembok eksklusivitas seni diruntuhkan, menciptakan interaksi organik antara seniman dengan pedagang dan pembeli. Fenomena ini menegaskan bahwa kebudayaan Banyumas adalah kebudayaan yang “membumi” dan tidak berjarak dengan realitas harian masyarakatnya.4
Dari perspektif manajemen kegiatan, Banyumas Ngibing 24 Jam menuntut koordinasi yang sangat kompleks. Penggunaan beberapa titik seperti Alun-alun Banyumas, kawasan Kota Lama, dan Bale Adipati Mrapat bertujuan untuk merevitalisasi ruang-ruang publik bersejarah. Pengaturan waktu yang ketat memastikan momentum acara tetap terjaga meskipun melibatkan pergantian ratusan kelompok seni dalam waktu yang lama.2
Aspek kesehatan menjadi perhatian krusial mengingat beban fisik yang luar biasa pada para penari utama. Panitia menyiagakan tim medis yang melakukan pemeriksaan rutin setiap dua jam sekali untuk memantau kondisi vital seperti tekanan darah dan tingkat kelelahan. Hal ini menunjukkan adanya kesadaran profesional bahwa pelestarian tradisi harus berjalan beriringan dengan standar keselamatan manusia yang modern.
Salah satu langkah kebijakan yang progresif dalam acara ini adalah pemberian jaminan sosial melalui BPJS Ketenagakerjaan bagi para penari. Kebijakan ini merupakan bentuk pengakuan formal dari Pemerintah Kabupaten Banyumas terhadap profesi seniman tradisi.1 Langkah ini memberikan perlindungan nyata sekaligus meningkatkan martabat para pelaku seni di mata masyarakat umum.1
Partisipasi masif dari sekitar 1.000 penari yang berasal dari berbagai kota seperti Jakarta, Surabaya, dan Indramayu menunjukkan daya tarik magnetis acara ini.1 Keterlibatan komunitas seni lintas daerah memperkaya diskursus tari tradisional melalui akulturasi gerakan kontemporer dan modern. Hal ini menciptakan ekosistem seni yang dinamis, di mana tradisi tidak lagi dipandang sebagai artefak masa lalu yang statis.
Penting untuk dicatat adanya partisipasi lintas generasi, mulai dari penari maestro berusia 80 tahun, Sri Sejatiningsih, hingga penari-penari cilik dari tingkat TK.2 Kehadiran anak-anak di panggung besar adalah instrumen regenerasi yang sangat efektif. Bagi orang tua, melibatkan anak dalam seni tradisi adalah upaya konkret untuk membangun karakter dan kecintaan terhadap identitas lokal sejak dini.4
Dimensi metafisik tetap hadir melalui pertunjukan Ebeg atau Kuda Calung, di mana fenomena ndadi (kesurupan) menjadi puncak ketertarikan penonton. Kepercayaan terhadap Indhang atau roh pelindung dipandang sebagai sumber kekuatan supranatural yang memungkinkan penari melakukan atraksi di luar nalar manusia biasa. Hal ini mencerminkan lapisan kepercayaan masyarakat Banyumas yang masih menghormati kehadiran dimensi gaib dalam kehidupan sehari-hari.10
Secara ekonomi, Banyumas Ngibing menjadi stimulan bagi pertumbuhan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal. Kenaikan omzet pedagang di sekitar lokasi acara membuktikan bahwa festival budaya mampu menggerakkan roda ekonomi rakyat secara langsung.9 Namun, diperlukan strategi market-oriented agar dampak ekonomi ini bisa dirasakan lebih merata dan berkelanjutan bagi pelaku UMKM di seluruh wilayah.3
Penyelenggaraan acara ini juga selaras dengan implementasi Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2025 tentang Kepariwisataan. Regulasi ini menempatkan kebudayaan sebagai pilar utama dalam ekosistem pariwisata nasional.12 Dengan menjadikan Banyumas Ngibing sebagai agenda rutin, pemerintah daerah berupaya memperkuat citra daerah sebagai pusat budaya unggulan di Jawa Tengah.4
Sinergi akademik terlihat dari keterlibatan institusi seperti Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) dan SMK Negeri 3 Banyumas. Mahasiswa tidak hanya berperan sebagai penonton, tetapi juga sebagai relawan operasional dan tim publikasi melalui media kampus.1 Kolaborasi ini memastikan bahwa nilai-nilai kearifan lokal terus dikaji dan didokumentasikan dalam koridor intelektual yang memadai.1
Teknologi digital dimanfaatkan sebagai alat amplifikasi budaya, di mana media sosial menjadi sarana utama pendaftaran peserta dan promosi internasional.7 Live streaming memungkinkan masyarakat diaspora Banyumas untuk tetap terhubung dengan akar budayanya, menciptakan komunitas digital yang solid.15 Ini adalah bukti bahwa tradisi mampu bermigrasi ke ruang siber tanpa kehilangan esensinya.
Obsesi Rianto untuk membawa acara ini masuk ke dalam Kharisma Event Nusantara (KEN) menunjukkan ambisi profesional yang tinggi. Standar penilaian KEN yang meliputi keunikan, manajemen kegiatan, dan dampak sosial-budaya menjadi motivasi bagi panitia untuk terus meningkatkan kualitas penyelenggaraan. Hal ini akan membuka peluang bagi Banyumas untuk mendapatkan dukungan promosi yang lebih luas dari pemerintah pusat.
Secara psikososial, menari bersama selama 24 jam menciptakan katarsis kolektif bagi masyarakat. Di tengah tekanan kehidupan modern yang mekanistik, ruang-ruang ekspresi seperti ini memberikan kebahagiaan yang mampu meningkatkan kesejahteraan sosial secara keseluruhan.3 Senyuman dan sorak-sorai penonton adalah indikator keberhasilan sebuah perayaan budaya.16


Kehadiran mural 24 jam oleh 50 perupa lokal pada edisi 2026 memberikan nilai tambah estetika pada acara ini. Kolaborasi antara seni gerak dan seni rupa ini menciptakan suasana “Kota Lama yang Hidup”, di mana setiap sudut ruang publik menjadi kanvas bagi kreativitas warga. Hal ini memperkuat narasi pariwisata berbasis pengalaman yang sedang menjadi tren global.13
Dampak jangka panjang yang diharapkan adalah terciptanya kemandirian ekonomi kreatif melalui produk-produk turunan budaya, seperti kostum, alat musik calung, dan kuliner khas.11 Pemerintah perlu terus memfasilitasi pelatihan literasi digital bagi UMKM agar mereka mampu menangkap peluang pasar yang lebih luas pasca-acara.3 Transformasi dari sekadar tontonan menjadi industri kreatif adalah kunci keberlanjutan.
Aspek keamanan dan ketertiban juga menjadi pilar kesuksesan acara berskala besar ini. Sinergi antara aparat kepolisian dan komunitas lokal memastikan ribuan pengunjung dapat menikmati acara dengan nyaman hingga dini hari. Kondisi yang kondusif ini sangat penting untuk membangun kepercayaan wisatawan mancanegara terhadap destinasi wisata di Banyumas.7
Sebagai rangkuman, Banyumas Ngibing 24 Jam adalah manifestasi dari ketangguhan identitas “Penginyongan” yang jujur dan egaliter. Ia adalah bukti bahwa kearifan lokal bisa menjadi kekuatan penggerak di era global jika dikelola dengan visi yang jelas dan kolaborasi yang kuat.2 Melalui langkah-langkah kaki para penari, Banyumas sedang menulis ulang narasinya sendiri sebagai kota budaya yang dinamis.4
Strategi pelestarian yang inklusif, yang melibatkan anak-anak hingga maestro, memastikan bahwa estafet kebudayaan ini tidak akan terhenti.3 Tradisi tidak lagi dianggap sebagai beban masa lalu, melainkan sebagai aset masa depan yang membanggakan.2 Setiap ketukan calung selama 24 jam itu adalah detak jantung masyarakat yang menolak untuk menyerah pada penyeragaman budaya.3
Pemerintah daerah dan masyarakat harus terus menjaga semangat Cablaka sebagai landasan dalam setiap pengembangan budaya. Kejujuran dan keterbukaan adalah modal sosial yang tidak ternilai harganya dalam membangun komunitas yang tangguh. Banyumas telah menunjukkan bahwa kekuatan sebuah daerah justru terletak pada keberaniannya untuk tetap menjadi dirinya sendiri.15
Akhirnya, perhelatan ini adalah sebuah doa visual bagi harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Ia mengajarkan kita bahwa dalam keberagaman, ada jiwa-jiwa yang bisa menyatu melalui ritme yang sama. Banyumas Ngibing adalah persembahan bagi kemanusiaan yang merayakan kehidupan dengan penuh sukacita.3
Masa depan kebudayaan Banyumas kini berada di tangan generasi yang tidak malu untuk terus “ngibing” sambil melangkah maju menyongsong perubahan. Dengan komitmen kolektif, Banyumas Ngibing 24 Jam akan terus menjadi mercusuar bagi kebangkitan seni tradisi di nusantara.4 Mari kita pastikan bahwa gamelan calung ini tidak akan pernah berhenti berbunyi.5
Works cited

  1. Banyumas Ngibing 24 Jam Menari, Bentuk Mencintai Budaya Lokal – RRI.co.id, accessed May 2, 2026, https://rri.co.id/daerah/1495987/banyumas-ngibing-24-jam-menari-bentuk-mencintai-budaya-lokal
  2. reproduksi budaya dan tradisi keagamaan masyarakat migran banyumasan – Repository UIN Saizu, accessed May 2, 2026, https://repository.uinsaizu.ac.id/18726/1/buku%20gabung.pdf
  3. Banyumas Ngibing 24 Jam Menari Menghidupkan Jati Diri – osc.medcom.id, accessed May 2, 2026, https://osc.medcom.id/community/banyumas-ngibing-24-jam-menari-menghidupkan-jati-diri-7383
  4. Tarian Tak Henti, Semangat Tak Padam: Banyumas Ngibing 24 Jam Gaungkan Pelestarian Budaya Lokal, accessed May 2, 2026, https://indiebanyumas.com/tarian-tak-henti-semangat-tak-padam-banyumas-ngibing-24-jam-gaungkan-pelestarian-budaya-lokal/
  5. Banyumas Ngibing 2026 Siap Guncang Kota Lama, 24 Jam Menari Nonstop Libatkan Seniman Mancanegara – Tribunbanyumas.com, accessed May 2, 2026, https://banyumas.tribunnews.com/better-banyumas/90804/banyumas-ngibing-2026-siap-guncang-kota-lama-24-jam-menari-nonstop-libatkan-seniman-mancanegara
  6. Prosesi Tapa Bisu Berjalan Hening dan Khidmat – Dinas Kominfo Wonosobo, accessed May 2, 2026, https://diskominfo.wonosobokab.go.id/detail/prosesi-tapa-bisu-berjalan-hening-dan-khidmat
  7. Rianto – Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas, accessed May 2, 2026, https://id.wikipedia.org/wiki/Rianto
  8. Banyumas Ngibing 2026 Digelar, Usung Tema Persatuan dalam Keberagaman – RRI.co.id, accessed May 2, 2026, https://rri.co.id/purwokerto/regional/2353039/banyumas-ngibing-2026-digelar-usung-tema-persatuan-dalam-keberagaman
  9. Perjalanan Hidup Rianto Manali Dan Lenggernya – beritaunsoed.com, accessed May 2, 2026, https://beritaunsoed.com/2023/02/28/perjalanan-hidup-rianto-manali-dan-lenggernya/
  10. REPRESENTASI INDHANG DALAM KESENIAN LENGGER DI …, accessed May 2, 2026, https://jurnal.uny.ac.id/index.php/imaji/article/download/6658/5718
  11. Antara Dominasi Ekonomi, Salah Arah Pendekatan, dan Peluang Market-Oriented Global UMKM Banyumas – PanturaNews, accessed May 2, 2026, https://panturanews.com/index.php/panturanews/baca/266861/26/04/2026/antara-dominasi-ekonomi-salah-arah-pendekatan-dan-peluang-market-oriented-global-umkm-banyumas
  12. CABLAKA SEBAGAI INTI MODEL KARAKTER MANUSIA BANYUMAS – Lumbung Pustaka UNY, accessed May 2, 2026, https://eprints.uny.ac.id/5051/1/Cablaka_sebagai_Inti_Model_Karakter_Manusia_Banyumas.pdf
  13. “Banyumas Ngibing” jadi penggerak wisata budaya – ANTARA …, accessed May 2, 2026, https://mataram.antaranews.com/berita/551837/banyumas-ngibing-jadi-penggerak-wisata-budaya
  14. 24 Jam Tanpa Henti, Banyumas Ngibing Gairahkan Budaya Tari Tradisional, accessed May 2, 2026, https://beritaunsoed.com/2025/05/03/24-jam-tanpa-henti-banyumas-ngibing-gairahkan-budaya-tari-tradisional/
  15. Banyumas Ngibing 24 Jam: Merayakan Budaya Tanpa Henti – YouTube, accessed May 2, 2026, https://www.youtube.com/watch?v=j1mu4LtW0hw
  16. Info Lur! Ada Banyumas Ngibing Awal Mei, Penari AS-Belanda Bakal Tampil – detikcom, accessed May 2, 2026, https://www.detik.com/jateng/budaya/d-8455045/info-lur-ada-banyumas-ngibing-awal-mei-penari-as-belanda-bakal-tampil

Related posts
EsaiPopuler

“Jika Kamu Salah, Aku belum Tentu Benar: Melihat Fundamental Moderasi Beragama”

Read more
EsaiPopuler

Krisis Karakter Peserta Didik di Indonesia: Antara Peringkat Pendidikan dan Realitas Lapangan

Read more
BudayaEsaiEsai KebanyumasanRicik-Ricik

Eksklusivitas dan Laku Adaptif: Jalan Sunyi Pelestarian Pakeong

Read more
KABAR LOGAWA
Mari Mengalir Bersama

Dapatkan kurasi tulisan sastra pilihan, wawasan budaya Penginyongan, dan informasi agenda terbaru langsung di kotak masuk surel Anda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *