CerpenSastra

Merestorasi Memori yang Retak

Aroma tajam pelumas roda gigi, karat, dan debu kertas selalu menjadi pelarian terbaik bagi Nara. Di dalam bengkel restorasi barang antik berukuran empat kali empat meter miliknya, waktu seolah tunduk. Jemarinya yang kurus begitu cekatan menghidupkan kembali detak jam dinding kuno atau menyatukan serpihan keramik retak dengan perekat emas.

Bagi para pelanggan, Nara adalah seorang penyembuh benda mati. Namun, tidak ada satu pun dari mereka yang tahu bahwa Nara tidak pernah punya penawar untuk mengobati hatinya sendiri. Hati yang telah hancur menjadi serpihan tajam sejak lima belas tahun lalu saat ayahnya pergi tanpa pamit, meninggalkan sepiring nasi yang belum sempat dihabiskan dan sepasang sepatu yang raib dari rak.

Siang itu, hujan turun membasahi kaca jendela bengkel. Nara sedang memegang obeng mikro ketika lonceng di atas pintu berdenting. Seorang petugas pos paruh baya masuk dengan jas hujan yang basah kuyup.

“Mbak Nara?” tanya petugas itu, napasnya agak terengah.

“Ya, saya sendiri,” jawab Nara tanpa mengalihkan pandangan dari roda gigi di mejanya.

“Ada surat untuk Anda. Sebenarnya… ini memalukan. Ini surat lama yang terselip di gudang pusat belasan tahun lalu saat renovasi, dan baru ditemukan kemarin saat pembongkaran rak tua.” Petugas itu menyodorkan sebuah amplop cokelat kusam.

Nara mengerutkan kening. Ia menerima amplop itu. Sudutnya sudah sedikit lapuk, berstempel resmi kantor pos tahun 2011. Begitu petugas pos pamit, Nara membalik amplop tersebut. Jantungnya mendadak berhenti berdetak sesaat ketika melihat coretan tangan di bagian pengirim. Ayah.

Benteng pertahanan dingin yang dibangun Nara selama belasan tahun seketika runtuh. Dengan tangan gemetar, ia merobek amplop itu. Di dalamnya, tidak ada surat permintaan maaf yang panjang. Hanya ada sebuah kunci besi kuno yang mulai berkarat dan selembar kertas tebal berisi sebaris kalimat dengan tulisan tangan yang sangat ia kenali:

Carilah melodi kita yang hilang di tempat gerbong-gerbong tua beristirahat, loker nomor 26.

Nara mencengkeram kertas itu hingga lecek. Rasa penasaran yang hebat bergesekan dengan amarah lama yang kembali mendidih di dadanya. “Setelah lima belas tahun, hanya ini?” bisiknya ketir pada kesunyian ruang kerjanya.

Didorong oleh rasa dongkol dan kekosongan yang menuntut jawaban, Nara mengunci bengkelnya. Ia melangkah membelah rintik hujan yang kian menderu, menuju stasiun kereta pinggiran kota yang sudah lama terbengkalai. Tempat itu kini tak lebih dari kuburan besi tua; gerbong-gerbong tak terpakai berjejer kaku diselimuti tanaman merambat.

Langkah sepatu bot Nara menggema di koridor stasiun yang sepi dan lembap. Di sudut ruang tunggu yang langit-langitnya sudah jebol, ia menemukan deretan loker besi yang berkarat. Matanya menyusuri nomor-nomor yang memudar hingga tertuju pada satu angka: 26.

Nara memasukkan kunci besi dari amplop itu ke lubangnya. Sedikit keras. Ia memaksanya berputar hingga terdengar bunyi klik yang nyaring, disusul derit pintu besi yang enggan terbuka.

Uhuk! Nara terbatuk saat kepulan debu tebal menumpahi wajahnya.

Begitu pandangannya menyapu bagian dalam loker, matanya membelalak. Di sana duduk sebuah kotak musik kayu berbentuk komidi putar benda masa kecilnya yang dulu sering dimainkan sang ayah untuk mengantarnya tidur. Namun, yang membuat jantung Nara berdebar lebih kencang adalah seberkas map kertas usang berlambang sebuah rumah sakit kanker otak terkenal di ibu kota.

Dengan tangan yang kian gemetar di bawah temaram cahaya stasiun yang bocor oleh air hujan, Nara membuka lembar diagnosis medis bertanggal beberapa hari sebelum ayahnya menghilang.

Glioblastoma Multiforme. Stadium Akhir.

Di lembar berikutnya, ada secarik surat pribadi dari dokter yang merawat, ditujukan kepada ayahnya, lengkap dengan rincian estimasi biaya operasi dan kemoterapi yang fana, angka yang luar biasa besar, yang bahkan jika rumah mereka dijual pun tak akan pernah cukup. Di balik lembar itu, ada coretan tangan terakhir ayahnya yang gemetar:

Nara sayang, maafkan Ayah yang pengecut. Ayah tidak ingin kamu mengingat Ayah sebagai laki-laki ringkih yang habis digerogoti penyakit. Ayah juga tidak mau membiarkan masa depanmu hancur dan terjerat utang rumah sakit yang mustahil kita bayar. Biarlah Ayah pergi ke tempat yang tenang. Ingatlah Ayah lewat melodi kita, bukan lewat rasa sakit ini.

Air mata Nara luruh tanpa bisa ditahan lagi. Surat itu basah oleh tetesan air yang jatuh dari pelupuk matanya. Pertahanan diri yang ia agungkan selama belasan tahun sebagai tameng rasa benci runtuh total di depan loker tua itu. Bahunya terguncang hebat.

“Kenapa… kenapa Ayah harus menanggungnya sendirian?” tangis Nara pecah, menyatu dengan suara deru hujan di luar stasiun. Rasa benci yang selama ini salah alamat, kini terkikis habis, menyisakan sebuah kenyataan memilukan: kepergian sang ayah adalah bentuk pengorbanan paling sunyi dan suci demi melindungi memori indah di kepala putri kecilnya.

Beberapa hari kemudian.

Suasana di bengkel kerja Nara terasa jauh lebih hangat. Sinar matahari pagi menerobos masuk dari sela-sela tirai, menyinari meja kerjanya yang biasanya suram. Nara duduk dengan tenang, memegang obeng mikro dan pinset. Di depannya, komponen-komponen kotak musik komidi putar peninggalan ayahnya sudah dibersihkan dari karat.

Seorang sahabat karibnya, tumpuan Nara berbagi cerita selama ini, melangkah masuk ke dalam bengkel sembari membawa dua cangkir kopi hangat.

“Bagaimana, Nara? Bisa diperbaiki?” tanya sahabatnya pelan, takut merusak ketenangan yang jarang terlihat di wajah Nara.

Nara menatap sahabatnya, lalu tersenyum tipis sebuah senyuman tulus yang sudah belasan tahun absen dari wajahnya. “Roda giginya sempat macet karena karat dan debu tebal. Tapi untungnya, struktur utamanya masih utuh.”

“Sama seperti hatimu?” goda sahabatnya lembut.

Nara terkekeh kecil, matanya sedikit berkaca-kaca namun memancarkan kedamaian. “Ya. Kurasa begitu.”

Nara memasang sekrup terakhir, lalu perlahan memutar tuas di bagian bawah kotak musik kayu itu. Ketika ia melepaskannya, komidi putar kecil itu mulai berputar lambat. Melodi klasik yang sangat lembut dan familier kembali berdenting jernih, memenuhi seluruh sudut ruangan bengkel yang sunyi.

Sahabatnya tertegun mendengarkan alunan nada yang begitu indah dan menenangkan.

“Melodi yang cantik sekali.”

“Ini melodi kami,” bisik Nara lembut, jarinya mengusap permukaan kayu kotak musik yang kini telah bersih dan mengilat.

Hari ini, di balik meja kerja tuanya, Nara tahu bahwa ia tidak hanya berhasil menyelamatkan sebuah barang antik yang berdebu. Jauh di dalam dadanya, tirai hitam telah tersingkap. Ia telah berhasil merestorasi seluruh luka di hatinya, menyatukan kembali memori yang sempat retak menjadi sebuah karya yang utuh dan abadi.

About author

Articles

Alfin Najmi Saba’ah, lahir di Banyumas, 26 Februari 2007. Saat ini, ia tengah menempuh perjalanan akademik sebagai mahasiswa pada program studi Pendidikan Agama Islam di Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto. Pencapaian yang pernah diraihnya adalah terpilih sebagai penerima Beasiswa Anak Berprestasi dari Koperasi MAN Banyumas tahun 2025. Di luar bidang akademik, ia memiliki keterampilan khusus dalam tata busana. Alamat: Desa Pekaja, Kedung Garut, RT 07/03, Kalibagor, Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah.
Avatar photo
Related posts
CerpenSastra

Nak Dalang

Read more
CerpenSastraSusukan

Kekasihku, Sari

Read more
PuisiSastra

Juni Tak Ada Puisi dan Puisi-puisi Lainnya

Read more
KABAR LOGAWA
Mari Mengalir Bersama

Dapatkan kurasi tulisan sastra pilihan, wawasan budaya Penginyongan, dan informasi agenda terbaru langsung di kotak masuk surel Anda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *