Bukan tinggal di Indonesia namanya bila tanpa masalah. Bukan pula masalah namanya bila tidak berada di Indonesia. Sebab kalau di Inggris, namanya problem.
Ya begitulah kiranya kita memulai hari di negeri (yang katanya) gemah ripah loh jinawi ini. Loh, memang harusnya begitu, kan?
Selaiknya tulisan ini, menyongsong hari di Indonesia pun harus dimulai dengan humor. Sekalipun receh, ya. Sebab humor itu memang murah. Cukup dengan yang receh-receh, orang sudah bisa tertawa. Tidak seperti Pertamax. Pertamax tidak bisa dibeli dengan receh. Kecuali recehnya berjumlah Rp16.250 (kini Rp15.950 per liter).
Maksud saya begini. Tinggal di Indonesia berarti berkarib dengan masalah. Dan berkarib dengan masalah berarti paham dengan karakteristiknya.
Nah, sebab sudah paham dengan karakteristiknya, maka modal berkarib dengan masalah di Indonesia adalah memiliki rasa humor. Apalagi? wong masalahnya tak kunjung pamit, tinggal kita tertawa saja bersama masalah itu.
Ya, sebenarnya tidak ada yang lucu juga, sih. Mana ada kebijakan yang tidak bijak itu lucu? Mana ada harga kebutuhan naik itu lucu? Tidak ada.
Tapi setidaknya dengan humor tadi, kita tidak luntang-lantung tanpa busana. Tak lain, berusaha tetap waras di Indonesia adalah senjata terakhir yang bisa kita kokang. Daripada gila, bos! Eh, atau kita sekarang sedang pura-pura waras saja?
Perihal humor masyarakat Indonesia
Agaknya menjadi perlu bagi kita, merubah pandang pada sifat manusia Indonesia. Setidaknya di beberapa tahun kebelakang. Manusia Indonesia harusnya sudah menyandang sifat baru sebagai manusia yang teramat humoris.
Kenapa humoris, karena lawakan adalah paru-paru kita. Dan oksigennya, adalah bejibun masalah yang ada.
Bayangkan saja, di kondisi yang sedemikian warwerwor, andai bukan karena sifat itu niscaya manusia Indonesia sudah begitu murung dibuatnya. Yang menjadi janggal adalah mengapa manusia Indonesia tetap hahahihi saja? Setidaknya bisa dilihat dari penamkapannya. Entah memang hahahihi dalam arti yang sesungguhnya atau hanya sebatas rekaan belaka, tapi melihat konten lawakan yang bersandingan dengan konten kritik terhadap pemerintah setidaknya adalah bukti konkret bahwa manusia Indonesia memiliki mekanisme psikologis yang patut diacungi jempol.
Sulit betul loh untuk tetap menertawakan hal yang sebetulnya kita sendiri perih merasakannya. Contohnya hidup di Indonesia. Hidup di Indonesia adalah suatu tragedi tapi banyak orang masih bisa mengolahnya menjadi sebuah komedi.
Seberapa pentingkah selera humor di Indonesia?
Semisal saja ada kata lain selain “penting”, mungkin kata itu yang akan digunakan. Namun untuk sementara, “penting” masih cukup mewakili, sekalipun tidak sepenuhnya memadai.
Adalah benar bahwa memiliki humor di Indonesia itu penting. Bukan hanya dalam pengertian sehari-hari, tetapi juga sebagai bagian dari cara masyarakat mengelola tekanan realitas yang terus bergerak dan tidak selalu dapat diprediksi.
Sederhana saja, kiranya lebih masuk akal dan efisien mana, menertawakan kinerja pemerintah atau menunggunya berbenah?
Jangan terlalu serius menjawabnya, ah. Yang paling benar justru mungkin, menunggu sambil tetap menertawakan dan menertawakan sambil tetap menunggu. Karena memang “mereka” secara percaya diri memperlihatkan kekonyolan, jadi sah-sah saja bila kita menertawakannya.
Lain cerita jika “mereka“ memperlihatkan kinerja yang ciamik bin bijak. Menertawakannya justru berarti lain. Lah, yang diperlihatkan memang konyol, dan hal yang konyol sudah konsekuensinya untuk ditertawakan.
Gini deh, saya kasih contoh. Ini hanya contoh, jadi bila ada kesamaan dengan suatu negara atau program tertentu, itu semata kebetulan dan murni ilustrasi fiktif belaka. Hehe.
Misalnya ada kebijakan bernama MBG (Makan Bergizi Gratis). Sekalipun namanya “gratis”, ya jelas tidak mungkin benar-benar gratis. Dan memang, program itu menyedot anggaran dari APBN. Artinya dari pajak. Dan pajak itu, ya dari warga negara. Jadi kalau dipikir, tidak ada yang benar-benar gratis di situ.
Ini sama saja seperti saya bilang, “saya pinjam ya uang kamu buat beli gorengan, nanti gorengannya saya kasih ke kamu gratis.” Kedengarannya seperti pemberian, padahal sumbernya? ya dari kantong yang sama juga. Hanya alurnya dibuat sedikit lebih dramatis.
Ya, ironis sebenarnya. Tapi coba kita bumbui dengan sedikit rasa humor. Kurang lucu apa coba gratis yang tidak gratis?
Maka humor bukan hanya sekadar penting. Tapi, penting banget, bro! Sebab tanpa itu, kita akan sibuk mencari logika pada hal-hal yang dari lahirnya memang sudah tidak berniat logis. Jadi ya sudah, tertawakan saja dulu. Jangan sampai kita menghabiskan tenaga untuk membuat yang tidak masuk akal menjadi masuk akal, sementara yang membuatnya saja tidak kelihatan terlalu sibuk menjelaskan kenapa itu harus masuk akal.
Dan dari situ pula agaknya tak perlu saya menjelaskan dengan teramat seberapa pentingkah selera humor di Indonesia. Karena masih eksisnya Indonesia, salah satu penopangnya adalah selera humor para manusianya (baca: rakyatnya).
Harapan kita terletak pada humor kita sendiri
Apakah anda masih berharap dengan “mereka” disana? Sedang disaat yang sama, “mereka” justru menganggap kita liyan?
Karena jika mereka tidak menganggap kita sebagai liyan, seharusnya mereka tidak perlu segitu takutnya terhadap kritik yang kita berikan. Kritik tidak semestinya diperlakukan seperti ancaman, kalau memang yang dikritik masih dianggap bagian dari yang sama.
Seperti ibu yang memarahi anaknya karena cinta, bukan karena benci. Begitu pula kita, mengingatkan “mereka” atas dasar masih peduli, bukan karena ingin menyakiti.
Tapi hak ini seolah tidak pernah benar-benar menemukan tempatnya di negeri ini. Buktinya, sudah jilid demi jilid demonstrasi dilakukan oleh para mahasiswa.
Dan kenyataannya, hanya dianggap angin lalu. Beruntung kalau masih dianggap angin lalu. Angin setidaknya masih diakui keberadaannya, meski tidak selalu disukai. Tapi di sini, malah dianggap menggangu. Sudah berapa banyak mahasiswa yang dijebloskan menjadi tahanan politik karena menyuarakan kritikannya?
Maka, harapan kita adalah humor kita sendiri. Kita merubah pun kita siapa, tapi jika tidak merubah, kita juga yang akan pusing. Walhasil, sekuat apa humor kita bisa mengubah fenomena menjadi jenaka, sekuat itu pula lah daya hidup kita.
Sebab berharap pada “mereka” hanya berarti mengharapkan sesuatu pada tempat yang salah.
Mengasah humor berarti mengasah skill sebagai warganegara
Sebagai warganegara sekaligus sebagai penggumul kajian psikologi. Ada satu bahasan menarik guna memungkasi tulisan ini.
Dalam jagat psikologi, dikenal suatu istilah yang disebut coping mechanism. Sederhananya, coping mechanism adalah cara seseorang beradaptasi secara psikologis untuk menghadapi tekanan, stres, atau situasi yang tidak nyaman.
Lewat coping mechanism, seseorang dapat keluar dari labirin stres yang diakibatkan oleh kondisi eksternal. Salah satu kondisi eksternal tersebut adalah kerunyaman yang kadang justru lahir dari sistem itu sendiri. Entah lewat kebijakan, birokrasi, atau hal-hal lain yang pada akhirnya membuat warga harus beradaptasi lebih cepat daripada perubahan itu sendiri.
Dan dari banyaknya bentuk coping mechanism, humor adalah salah atu bentuk yang secara alamiah muncul pada manusia Indonesia. Barangkali, ini tercipta secara organik karena stress yang ada adalah hasil dari kekonyolan yang dibuat oleh pemerintah. Sehingga, copingnya pun adalah humor, respon alamiah dari bejibunnya kekonyolan yang telah dipertontonkan.




