Sinar matahari pagi menyapu pelan halaman rumah sederhana di Desa Tinggarjaya, Jatilawang, Banyumas. Di sanalah, di kediaman seorang penulis yang namanya telah lama bersanding dengan sejarah sastra Indonesia, sepuluh anak muda dari berbagai penjuru negeri menghabiskan hari-hari mereka di antara aroma tanah, suara alam pedesaan, dan tutur seorang maestro. Program Belajar Bersama Maestro (BBM) Sastra 2026 yang diadakan oleh Kementerian Kebudayaan telah menuntun para peserta ke sini, ke rumah Ahmad Tohari, untuk belajar menulis dengan cara yang paling jujur, dengan hidup bersama sumber cerita itu sendiri selama satu bulan.
Puncak dari residensi intensif itu dirayakan dalam sebuah kenduri yang tak biasa, berlangsung sejak pukul 9.00 hingga 13.00. pada 13 Agustus 2026. Bukan kenduri nasi tumpeng dan doa selamatan, melainkan kenduri prosa. Perayaan atas kata-kata yang telah ditempa selama berminggu-minggu tinggal di rumah sang penulis “Ronggeng Dukuh Paruk”. Siang itu, beranda rumah sederhana disulap menjadi ruang teatrikal mini, tempat sepuluh mahasiswa menampilkan fragmen dari karya masing-masing, diiringi lantunan piano, petikan gitar, dan nyanyian yang mengalun merdu menemani setiap kisah yang dipentaskan.
Sastra sebagai Jalan Kebenaran

Dalam sambutannya, Ahmad Tohari berbicara dengan nada yang sederhana namun menghunjam. “Sastra selalu mempersoalkan kehidupan manusia dan alam,” ujar sang maestro, seolah menegaskan kembali fondasi yang selama puluhan tahun dipegang teguh dalam setiap karyanya, dari pergulatan manusia desa hingga alam yang menjadi saksi bisu penderitaan dan harapan.
Namun yang paling menggugah dari sambutan itu adalah cara memandang profesi yang telah dijalani sang maestro hampir sepanjang hidupnya. “Sastrawan sejati hidup gembira dalam kemiskinannya,” katanya, sebuah pernyataan yang bisa terdengar getir sekaligus penuh martabat, seolah kemiskinan bukanlah aib bagi seorang penulis, melainkan ruang tempat kejujuran justru tumbuh paling subur.
Sang maestro melangkah lebih jauh, menempatkan sastrawan bukan sekadar sebagai pencerita, melainkan sebagai penjaga moral bangsa. “Para sastrawan adalah guru sejati bangsa ini. Lewat karyanya mereka menggurui orang-orang untuk mengedepankan kebenaran dalam kehidupan,” tegasnya. Dan seperti sudah menjadi kebiasaan Ahmad Tohari untuk tak pernah menghindar dari sindiran sosial, sang penulis pun menyentil kondisi apresiasi terhadap sastrawan di tanah air. “Di negara tetangga kita, sastrawan menjadi sebuah gelar kehormatan. Negara membiayai kehidupan mereka bahkan memberi pensiun. Kalau mau di negara kita juga bisa, daripada uangnya buat korupsi,” ucapnya, disambut tawa getir sekaligus anggukan setuju dari hadirin.
Lokalitas yang Tak Sekadar Ditempel
Diskusi sastra yang menyertai pementasan turut menghadirkan sejumlah nama yang telah lama bergelut dengan dunia kepenulisan. Sastrawan Raudal Tanjung Banua menyebut kehadiran dan pengaruh Ahmad Tohari dalam khazanah sastra Indonesia sebagai sebuah fenomena tersendiri. “Fenomena Toharian menjadi sebuah realitas dalam sastra Indonesia,” ujar Raudal, menempatkan karya-karya Tohari bukan sekadar sebagai bacaan, melainkan sebagai arus yang telah membentuk cara pandang generasi penulis sesudahnya.

Sementara itu, Teguh Trianton mengajak para peserta residensi untuk merenungkan kembali dari mana sesungguhnya cerita besar itu lahir. “Tema besar dalam menulis sastra justru lahir dari lokalitas atau keseharian manusia dalam menghadapi persoalan hidupnya,” kata Teguh. Baginya, kedekatan dengan akar tempat asal bukan pelengkap, melainkan sumber utama kekuatan sebuah karya.
Namun Teguh tak berhenti pada pujian. Sastrawan asal Banyumas ini melontarkan catatan kritis yang tajam kepada para peserta muda: lokalitas tak boleh diperlakukan sebagai bumbu tempelan semata. “Peserta sebagai penulis karya harus menyajikan lokalitas secara berani, jangan hanya menempelkan saja tanpa menyajikan lokalitas sebagai bagian cerita,” tegasnya. Sebuah pengingat bahwa dialek, adat, dan ruang hidup sebuah daerah harus menjadi napas cerita, bukan sekadar aksesori yang disisipkan agar terkesan “berlokal”.
Srintil yang Kembali di Panggung Siang
Salah satu momen yang paling membekas dari rangkaian kenduri prosa itu, momen itu datang di penghujung acara. Sebuah lagu rap dinyanyikan oleh Asta Kiri dengan begitu apik, hingga seolah membuat kuduk siapa pun yang mendengarnya berdiri. Lagu itu menghidupkan kembali sosok Srintil, tokoh legendaris dalam “Ronggeng Dukuh Paruk”, perempuan penari yang nasibnya terikat pada tradisi sekaligus terguncang oleh perubahan zaman.

Lewat lantunan itu, hadirin diajak menyusuri kembali kegelisahan yang selama ini menjadi benang merah karya-karya Tohari: bagaimana budaya dan tradisi yang dulu begitu kokoh kini harus bergumul dengan arus zaman yang tak pernah berhenti bergerak. Srintil, dalam nyanyian penutup itu, bukan lagi sekadar tokoh fiksi dari sebuah novel. Sosok itu menjelma menjadi simbol dari pergulatan setiap manusia yang berdiri di persimpangan antara mempertahankan akar dan menghadapi perubahan.
Ruang Belajar yang Tak Berdinding
Program BBM Sastra 2026 barangkali telah usai secara seremonial siang itu, namun jejak yang ditinggalkan di Tinggarjaya tak sesederhana itu untuk pudar. Sepuluh mahasiswa yang datang dari berbagai daerah pulang membawa lebih dari sekadar naskah yang telah ditulis selama residensi. Mereka membawa pulang cara pandang seorang maestro yang mengajarkan bahwa menulis bukan soal kepiawaian merangkai kata semata, melainkan soal keberanian untuk jujur pada kehidupan, pada alam, dan pada akar tempat seseorang berpijak.

Di rumah sederhana itu, di Desa Tinggarjaya, sastra tak diajarkan lewat teori yang berjarak, melainkan lewat kehidupan sehari-hari sang maestro sendiri. Hidup yang meski sederhana dan jauh dari gemerlap penghargaan negara, tetap dijalani dengan kegembiraan yang oleh Ahmad Tohari sendiri disebut sebagai kegembiraan seorang sastrawan sejati.




