BeritaEventInfo

Sokaraja Art Summit: Evoluasi, Lahan Pertanian, dan Pertunjukkan Seni yang Memukau




Di tepi kebun jagung dan kolam ikan Sokaraja Lor, panggung bambu, batang-batang jagung, dan rangkaian blarak menjadi saksi bagaimana tanah, tarian, dan zaman saling menakar diri serta beradaptasi.


Malam itu (28 Juni 2026), angin dari petak-petak sawah dan kebun jagung di sekitar Kedung Kendil Park berembus pelan, membawa aroma tanah basah dan suara gemericik kolam ikan yang bersanding dengan gemuruh alat musik dan sound system yang mengusik ketenangan serangga malam. Di ruang terbuka yang biasanya hanya menjadi tempat burung pipit berkumpul dan bercengkerama, sebuah panggung berdiri megah namun bersahaja, ditopang rangka bambu, dihiasi batang-batang jagung kering, dan dibingkai blarak yang mengering dimakan waktu. Di sanalah Sokaraja Art Summit digelar, sebuah perhelatan seni yang tidak sekadar mempertontonkan tari, musik, dan seni pertunjukkan kontemporer, melainkan juga mengajak siapa saja yang menonton meresapi pertunjukkan yang memukau sealigus merenungi arah perubahan zaman yang disampaikan lewat pertunjukkan seni.

Tema besar yang diusung panitia adalah “Evoluasi” satu yang terlontar oleh Damar Nuraani, ketua Padepokan Kesenian KIE BAE Sokaraja. Satu kata yang sengaja dirangkai dari peleburan dua istilah: evolusi dan evaluasi. Pilihan tema ini bukan tanpa alasan. Di tengah derasnya arus modernisasi pertanian yang mengubah wajah desa-desa agraris, para penggagas acara ingin mengajak masyarakat, khususnya generasi muda untuk tidak sekadar larut mengikuti perubahan, tetapi juga berhenti sejenak, menoleh ke belakang, dan menakar apakah setiap pergeseran yang terjadi benar-benar membawa kebaikan bagi tanah dan kehidupan yang menopangnya.

Pemilihan Kedung Kendil Park sebagai lokasi penyelenggaraan pun terasa sarat makna. Tempat ini dikenal warga Desa Sokaraja Lor sebagai ruang berkumpul yang sederhana, dikelilingi hamparan kebun jagung yang menghijau dan kolam-kolam ikan yang menjadi sumber penghidupan sebagian warga. Landscape alami ini sengaja tidak diubah oleh panitia. Alih-alih membangun panggung tertutup yang steril dari lingkungan sekitarnya, para penyelenggara justru membiarkan pertunjukan berlangsung berdampingan dengan kebun dan kolam, seolah menegaskan bahwa seni dan pertanian adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan dari denyut nadi masyarakat Banyumas.

Panggung dari Bumi Sendiri

Salah satu hal yang paling mencuri perhatian pengunjung adalah wujud panggung itu sendiri. Tidak ada besi baja mengilap atau dekorasi modern yang biasa menghiasi festival-festival seni kontemporer di kota besar. Yang ada hanyalah kerangka bambu yang disusun dengan cermat, batang-batang jagung yang berdiri berjajar layaknya pengisi struktur yang kokoh, serta blarak yang menjuntai di megahnya panggung pertunjukkan, menciptakan tekstur artistik yang jujur dan membumi. Material-material ini dikumpulkan langsung dari lingkungan sekitar Kedung Kendil Park, hasil dari kebun jagung dan pepohonan kelapa yang tumbuh subur di kawasan tersebut.


Konsep panggung semacam ini bukan tanpa tujuan. Penonton memberi tafsir dan interpretasi berbeda, yang semuanya bermuara pada pernyataan sikap: bahwa kesenian rakyat Banyumas lahir dari tanah, dari keringat petani, dan dari kesahajaan hidup agraris yang selama ini menjadi identitas wilayah penginyongan. Dengan membangun panggung dari bahan-bahan yang sama dengan yang digunakan warga untuk bertani dan bercocok tanam, panitia seolah ingin menyatakan bahwa seni pertunjukan dan seni bertahan hidup di ladang adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan.

Para Pementas yang Istimewa

Malam puncak kian terasa magis ketika sejumlah maestro seni naik ke atas panggung, salah satunya Rianto, seniman tari yang telah lama dikenal luas berkat kepiawaiannya mengolah gerak-gerak kontemporer yang berakar dari tradisi Banyumasan. Dalam pertunjukan yang menyoroti hikayat kehidupan manusia, Rianto membawakan repertoar bernuansa kontemplatif, mengangkat fase akhir dari pengembaraan manusia di dunia. Sebuah gambaran tentang masa ketika tubuh mulai menua dan manusia perlahan meninggalkan hal-hal duniawi. Gerakannya yang tenang namun sarat emosi menghadirkan renungan panjang bagi penonton yang duduk lesehan tanpa sekat, berbaur begitu dekat dengan para penampil.



Bersanding dengan Rianto, koreografer Yurika turut menghadirkan bagian lain dari narasi kehidupan, yakni fase kelahiran, sebuah momen ketika manusia baru saja memasuki gerbang eksistensinya di dunia. Kombinasi dua kisah dari ujung yang berlawanan —awal dan akhir kehidupan— yang dirangkai menjadi satu narasi utuh yang mengalir sepanjang pertunjukan, menghadirkan siklus hidup manusia secara puitis melalui bahasa gerak dalam balutan kait putih yang ‘menggantung’ di antara scafolding.

Selain itu, rangkaian pertunjukan ini kemudian diramaikan pula oleh para seniman lintas generasi se-wilayah penginyongan, yang tampil bergantian membawakan berbagai bentuk kesenian: dari orasi kebudayaan, tari-tarian, monolog, dan guyon yang dibawakan grup lawak DISIS yang menggabungkan unsur tradisi dengan sentuhan kontemporer. Setiap penampil membawa fragmen ekspresi yang berbeda, namun semuanya bermuara pada satu benang merah yang sama, perenungan atas perubahan zaman dan upaya merawat akar budaya agraris di tengah gempuran modernisasi.

Kesenian yang Egaliter Tanpa Sekat

Salah satu penggagas acara menjelaskan bahwa kedekatan fisik tanpa sekat antara penampil dan penonton sengaja dihidupkan untuk merawat sifat asli kebudayaan Banyumas yang egaliter. Irfan Syaikhul atau yang akrab disapa I’Ank menuturkan bahwa masyarakat Banyumas secara historis jauh dari tradisi keraton dan kekuasaan pusat semacam Pajajaran, Majapahit, ataupun Mataram, sehingga budaya yang tumbuh di wilayah ini berkembang secara organik sebagai masyarakat desa yang egaliter, dengan bahasa dan corak kesenian sendiri yang tidak mengenal strata sosial yang kaku.

Semangat egaliter itu pula yang mendasari konsep tema “Evoluasi”. Menurutnya, evolusi berarti perubahan yang memang mesti terjadi, dari cara bercocok tanam tradisional menuju metode pertanian yang lebih modern seiring berjalannya waktu. Namun perubahan semacam itu tidak boleh berlangsung tanpa evaluasi yang bertujuan untuk melestarikan, melainkan mengeksploitasi. Ia mempertanyakan apakah penggunaan pupuk-pupuk kimia yang berpotensi merusak kesuburan tanah akan terus dilanjutkan begitu saja, serta menyoroti kenyataan bahwa masyarakat yang secara sosial masih berlatar agraris kini justru menjalani gaya hidup yang sepenuhnya industrial. Melalui SAS (Sokaraja Art Summit) Panitia berharap generasi muda tidak abai terhadap persoalan ini, dan festival seni semacam Sokaraja Art Summit menjadi salah satu cara untuk menyuarakan keresahan tersebut kepada khalayak yang lebih luas.

Damar Nurani menambahkan bahwa kebudayaan, seperti halnya kehidupan, memang harus dinamis dan terus berubah. Namun perubahan itu semestinya tidak meninggalkan nilai-nilai lama yang telah teruji selaras dengan alam. Panggung yang dibangun dari blarak, bambu, dan batang jagung menjadi metafora sekaligus bukti nyata dari filosofi tersebut, bahwa kesenian rakyat bisa tetap berkembang tanpa harus memutus akarnya dari tanah asal.

Malam yang Menyatu dengan Ladang dan Kolam

Yang membuat Sokaraja Art Summit terasa berbeda dari festival seni pada umumnya adalah bagaimana ruang pertunjukan menyatu sepenuhnya dengan lanskap alam sekitarnya. Penonton yang datang malam itu tidak hanya disuguhi tontonan di atas panggung, tetapi juga dikelilingi pemandangan kebun jagung yang menjulang di kegelapan malam serta kolam ikan yang tenang memantulkan cahaya lampu-lampu panggung yang temaram. Suasana ini menghadirkan pengalaman yang jauh berbeda dari menonton pertunjukan di gedung kesenian tertutup, ada bau tanah, suara jangkrik, dan sesekali kecipak air kolam yang berbaur dengan tabuhan alat musik dan lantunan tembang.



Kombinasi antara seni pertunjukan dan lanskap pertanian ini pula yang menjadi inti pesan festival, bahwa perubahan atau modernisasi pertanian, transformasi lingkungan, dan pergeseran nilai-nilai masyarakat agraris bukanlah topik yang jauh dari kehidupan sehari-hari, melainkan sesuatu yang bisa dan perlu direfleksikan lewat medium seni. Ketika penonton duduk lesehan menyaksikan para pementas menari di antara batang-batang jagung yang menjadi bagian dari panggung, ada semacam pengingat halus bahwa seni dan tanah tidak pernah benar-benar terpisah. Keduanya tumbuh dari akar yang sama, yakni kehidupan masyarakat desa yang egaliter, sederhana, dan penuh makna.

Sokaraja Art Summit pada akhirnya bukan sekadar ajang unjuk kebolehan para seniman, melainkan ruang refleksi kolektif bagi warga Sokaraja Lor dan sekitarnya. Di tengah kebun jagung dan kolam ikan yang menjadi saksi, festival ini menghadirkan pertanyaan besar yang layak direnungkan bersama, seberapa jauh perubahan yang telah dan akan terus terjadi, serta nilai-nilai apa saja yang semestinya tetap dijaga agar identitas agraris dan egaliter masyarakat Banyumas tidak hilang ditelan arus modernisasi.

About author

Articles

Mengalirkan arus kata.
Avatar photo
Related posts
EventInfo

Babad Sokaraja: Membaca Ulang Lukisan Tradisional Khas Sokaraja

Read more
BeritaInfo

Memasyarakatkan Guritan Banyumas

Read more
BeritaInfo

ART HEY 6 Hadirkan Puluhan Seniman dalam Pameran Seni Rupa Bertema “Alir” di Purwokerto

Read more
KABAR LOGAWA
Mari Mengalir Bersama

Dapatkan kurasi tulisan sastra pilihan, wawasan budaya Penginyongan, dan informasi agenda terbaru langsung di kotak masuk surel Anda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *