Sewaktu aku kecil, aku sudah tahu apa yang aku sukai dan minati. Membuat karya seni. Kakekku yang pertama kali mengajarkanku bagaimana caranya menggambar. Ia mengajarkanku cara menggambar sebuah rumah. Kuikuti cara beliau menggambar. Dan jadilah rumah kecil karya pertamaku. Yang membawaku kepada seni adalah Kakekku sendiri, meskipun beliau sebenarnya seorang teknisi. Tetapi aku yang mewarisi jiwa kesenian Kakek dan lanjut menumbuhkan rasa cinta seni yang sebelumnya milik beliau.
Orang tuaku bercerai sejak aku berusia lima tahun. Ibu harus sering meninggalkan rumah untuk mencari nafkah dan menitipkanku pada Kakek dan Nenek. Aku dan adik bermain sendiri. Meskipun begitu, aku tetap merasa tenang karena selalu ada satu kertas biasa dan pulpen hitam yang menemaniku. Sepanjang masa sekolah, aku tidak menyukai pelajaran akademis. Aku kerap mengalami kesulitan dalam belajar. Sulit fokus, sulit memahami, sulit mencerna, sulit berpikir, dan sulit mengerjakan tugas—dan hal itu terkadang masih terjadi hingga kini. Aku hanya bisa bersandar pada talenta kesenianku, hanya itu yang kupunya.
Tekanan akademis semakin berat saat berada di bangku SMA. Aku juga harus memikirkan dan segera menentukan untuk kuliah. “Aku ingin langsung kerja. Aku tidak ingin berkuliah,” kataku dengan percaya diri kepada semua orang yang bertanya kepada k. Saat itu aku mempunyai pola pikir ku sendiri. Aku merasa seni bisa dipelajari secara mandiri dan tidak perlu kuliah. Aku pikir, semua orang akan mendukung. Tetapi aku malah menerima pukulan yang sangat keras oleh realita. Semuanya campur aduk. Orang-orang sekitarku lebih memilih untuk ikut campur dan coba mengatur pilihanku daripada mendukung diriku sepenuhnya.
“Lebih baik kuliah, selagi ada kesempatan. Selain itu, agar kamu bisa lebih mudah mendapatkan pekerjaan di sini.” Opini temanku. Mendengar opininya membuatku darah tinggi. Aku membenci pola pikir tersebut. Alasan yang sungguh klise bagi orang-orang yang berkuliah. Aku tidak ingin menjadi salah satu dari mereka. Alasanku untuk tidak berkuliah, karena aku sudah merasa paling bisa dan meninggikan diriku sendiri.
Tekanan dan tuntutan untuk berkuliah semakin berat, seperti sedang dikejar-kejar para angsa yang mengamuk. Aku melarikan diri dari pertanyaan-pertanyaan dan topik tentang kuliah. Pergumulan batin terus muncul setiap harinya. Tentu saja aku harus hadapi ini semua hari demi hari. Aku merasa menjalani ini semua sendirian, aku sudah menyimpan banyak sekali emosi dalam diri.
“Tuhan, ada apa dengan dunia?” doaku dalam hati, di gelap malam sembari menitikkan air mata yang membasahi bantal tidurku. Bagaikan botol soda yang meledak, air mataku terus mengalir tiada henti. Di momen ini, aku baru mulai mempertimbangkan pilihan ku. Aku terus berdoa, berdoa, dan berdoa. Isi doaku setiap malam hanya meminta tolong kepada Tuhan, seperti orang yang kehilangan arah. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk menyerahkan segalanya kepada Tuhan. Aku diberikan kesadaran bahwa selama ini hanya mementingkan kemauan daripada kebutuhan. Aku menyombongkan diriku.
Akhirnya, Tuhan menaruh sebuah motivasi dalam diriku untuk daftar beasiswa. Selama proses pendaftaran sampai penerimaan beasiswa, itu semua karena Tuhan. Tuhan yang menggerakkan diriku. Setelah semuanya selesai, perasaan damai dan tentram mulai tumbuh kembali. Aku akhirnya bisa tidur tenang setelah sekian lama.
Aku menyadari bahwa selama saat itu aku hanya melarikan diri dari realita. Aku menuruti egoku sendiri. Seperti seorang seniman yang obses pada idealismenya dan perlahan tenggelam dalam idealisme tersebut. Ada suatu hal yang aku baru pelajari. Keterampilan seni yang dikaruniakan oleh Tuhan kepadaku memang luar biasa, tetapi Tuhan ingin aku bisa belajar lebih banyak lagi tentang bidang yang aku sukai di perkuliahan nanti. Ini bukan tentang seberapa ahli aku dalam seni, tetapi tentang bagaimana aku bisa dan mampu bertumbuh menjadi karakter yang lebih baik lagi lewat keterampilan seni ku.
Kini aku mulai melihat masa depan dengan sudut pandang yang berbeda. Jika dulu aku menganggap kuliah sebagai ancaman bagi kebebasan berkaryaku, sekarang aku melihatnya sebagai ruang untuk mengasah dan memperdalam kemampuan yang sudah Tuhan titipkan. Aku sadar bahwa bakat saja tidak cukup. Aku perlu disiplin, kerendahan hati, dan kemauan untuk diajar. Aku ingin membuktikan bahwa keputusan ini bukan karena tekanan semata, melainkan karena pertumbuhan iman dan kedewasaan. Aku tidak lagi ingin berjalan dengan mengandalkan pengertianku sendiri. Aku ingin melibatkan Tuhan dalam setiap rencana dan proses yang akan kulalui. Perjalanan ini belum selesai. Akan ada tantangan baru, kegagalan, dan rasa lelah. Namun kali ini aku tidak ingin lari. Aku ingin tetap setia, belajar dengan sungguh-sungguh, dan memakai setiap kesempatan sebagai sarana untuk berkembang. Jika Tuhan sudah membuka jalan melalui beasiswa ini, maka tugasku adalah melangkah dengan taat dan penuh tanggung jawab.




