BudayaEsaiSusukan

MEMASYARAKATKAN WETON DI MEDIA SOSIAL

Media sosial telah merevolusi cara kita berkomunikasi dan memahami nilai-nilai tradisional di tengah derasnya arus modernisasi. Perubahan ini sangat terasa di wilayah Banyumas dan sekitarnya karena hadirnya banyak pendatang dari luar kota yang membawa budaya yang beragam. Fenomena ini membuat generasi muda, yang lebih sering terpapar konten global, mulai melupakan adat istiadat leluhur. Salah satu warisan budaya yang paling rentan adalah weton, sebuah sistem kalender yang telah lama menjadi pedoman hidup bagi masyarakat Jawa. Saya menyadari pentingnya menghidupkan kembali tradisi ini melalui platform digital yang kita gunakan sehari-hari.

Weton adalah sebuah sistem kalender khas yang menggabungkan hari lahir nasional dengan sistem pasaran dalam penanggalan Jawa. Ragam pasaran tersebut terdiri dari lima unsur utama yaitu Legi, Pon, Pahing, Kliwon, dan juga Wage. Masyarakat Jawa secara turun-temurun menggunakan sistem ini untuk menentukan watak dasar hingga kecocokan nasib seseorang di masa depan. Misalnya, weton sering kali dijadikan acuan untuk melihat potensi keberhasilan dalam pekerjaan maupun keharmonisan dalam menjalin hubungan pernikahan. Tanpa pemahaman yang benar, warisan intelektual leluhur ini akan dianggap sekadar mitos tanpa makna oleh generasi yang baru.

Sekarang ini, banyak pemuda merasa tidak mengerti tentang konsep weton karena pendidikan yang mereka terima di lingkungan formal kurang memberikan penjelasan mengenai hal tersebut. Bahkan, sebagian besar dari mereka tidak tahu cara menghitung weton diri sendiri meskipun data lahirnya sudah lengkap. Hal ini semakin diperparah oleh kebiasaan media sosial yang lebih sering menampilkan tren dari luar negeri daripada konten lokal. Akibatnya, jarak antara identitas budaya asli dengan gaya hidup yang dijalani pemuda masa kini menjadi semakin lebar. Padahal, setiap tanggal lahir dalam sistem Jawa memiliki makna mendalam yang bisa menjadi cerminan diri bagi setiap orang.

Sebenarnya, cara memahami weton seseorang tidaklah sulit seperti yang orang awam pikirkan. Misalnya, jika seseorang lahir pada hari Senin, tanggal 26 Juni 2006, maka weton yang ia miliki adalah Senin Wage. Orang yang memiliki weton Senin Wage biasanya memiliki semangat yang tinggi, berambisi, dan setia pada pasangannya. Mereka juga cenderung hemat, suka membantu orang lain, serta tenang dalam menghadapi berbagai situasi. Karakteristik ini menunjukkan bahwa weton merupakan cara tradisional untuk memahami kekuatan dan kelemahan diri sendiri.

Di tengah rasa khawatir tentang hilangnya tradisi, media sosial muncul sebagai wadah baru yang sangat efektif untuk mengajarkan budaya. Platform seperti TikTok memberikan cara menyampaikan pesan yang visual, singkat, dan mudah dipahami oleh berbagai usia. Kita bisa memanfaatkan kreativitas dalam membuat konten untuk kembali mengenalkan nilai-nilai adat kepada penonton yang lebih luas dan beragam. Namun, sayangnya potensi besar ini sering terbuang karena masih banyak remaja yang tidak menggunakan media sosial secara bijak. Oleh karena itu, diperlukan usaha dari para pembuat konten untuk mengisi dunia digital dengan cerita budaya yang lebih menarik dan segar.

Beberapa pembuat konten saat ini mulai aktif membuat video pendek yang membahas misteri di balik perhitungan weton dalam budaya Jawa. Salah satu akun yang rutin melakukan hal ini adalah @tentangprimbon, yang berhasil menarik perhatian ribuan pengikut di TikTok. Akun ini menyajikan informasi tradisional dengan tampilan visual yang modern, sehingga terasa lebih menyenangkan dan cocok bagi generasi muda. Materi yang dibahas pun beragam, mulai dari prediksi rejeki setiap hari hingga penjelasan mengenai berbagai mitos terkait weton. Cara seperti ini menunjukkan bahwa budaya tradisional masih bisa hidup asalkan disampaikan dengan cara yang tepat dan menarik.

Informasi yang dibagikan oleh akun tersebut menjelaskan bahwa perhitungan weton didasarkan pada angka yang disebut Neptu. Neptu didapat dengan menjumlahkan angka hari masehi dan hari pasaran Jawa dari tanggal lahir seseorang. Setelah dijumlahkan, hasilnya dibagi dengan cara tertentu untuk mengetahui sisa hitungan yang menentukan nasib seseorang. Dalam sistem nasib masyarakat Jawa, ada beberapa kategori hasil seperti Sri, Lungguh, Gedhong, Loro, dan Pati. Pemahaman seperti ini membantu masyarakat untuk lebih menghargai bagian matematika dan logika dalam tradisi leluhur.

Gambar:  Akun TikTok @tentangprimbon

Konten ini sering kali mengandalkan contoh-contoh tertentu, seperti interaksi di antara hari Legi dan Pahing. Dalam konten @tentangprimbon, gabungan antara Legi dan Pahing termasuk dalam ramalan yang dikenal sebagai Tiba Tunggak Semi. Filosofi di balik ramalan ini menggambarkan perjalanan hidup yang pada awalnya terasa berat dan penuh rintangan. Namun, seiring berjalannya waktu dan dengan adanya kesabaran, kondisi ini diperkirakan akan beralih menjadi kebahagiaan dan kemuliaan yang besar. Cerita mengenai proses perjuangan ini sangat menarik perhatian pengguna media sosial karena mampu memberikan motivasi kepada mereka yang sedang menghadapi masa-masa sulit.

Penjelasan dalam video-video tersebut menekankan bahwa weton adalah bagian dari warisan nyata ilmu titen dari leluhur. Ilmu titen adalah kemampuan untuk memahami pola alam dan energi yang terkait dengan hari lahir seseorang, sehingga bisa membaca potensi rezeki yang dimiliki. Dengan memahami potensi tersebut, orang yang memiliki weton diharapkan tetap bisa bersikap optimis dan tekun dalam mengejar impian mereka. Hitungan dari Primbon Jawa ini memberikan harapan bahwa pintu rezeki akan terbuka lebar di waktu yang sudah ditentukan oleh alam semesta. Secara tidak langsung, isi konten media sosial berhasil menyampaikan kembali filosofi spiritual ini sebagai bentuk dukungan moral bagi para penontonnya.

Mempopulerkan weton di media sosial adalah cara untuk membentuk identitas budaya di dunia maya. Generasi muda sekarang sering merasa bingung tentang siapa diri mereka karena lebih terpengaruh budaya luar daripada budaya asli mereka. Konten edukasi tentang weton berfungsi sebagai jembatan antara pesan-pesan tradisional dengan teknologi modern. Dengan berinteraksi di kolom komentar, para penonton bisa saling bertukar pengetahuan dan semakin merasa memiliki tradisi Jawa. Hal ini membentuk komunitas virtual yang bersama-sama menjaga adat istiadat agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Kehadiran narasi budaya yang kuat di sosial media juga berfungsi sebagai pelindung terhadap efek negatif dari dominasi budaya asing yang meningkat. Ketika generasi muda merasa bangga dengan identitas mereka, cinta terhadap tanah air secara otomatis akan mengalami peningkatan yang signifikan. Ini sejalan dengan usaha pemerintah daerah, menurut Fatony (2025), yang tengah aktif membangun citra budaya melalui berbagai saluran komunikasi yang lebih modern. Kolaborasi antara inisiatif individu kreator dan dukungan kebijakan lembaga pendidikan akan mempercepat revitalisasi budaya di kalangan pelajar dan mahasiswa. Kita tidak boleh membiarkan kekayaan filosofi ini menghilang hanya karena ketidakmampuan kita beradaptasi dengan metode komunikasi di era baru.

Penelitian yang dilakukan oleh Sartika (2024) mengungkapkan bahwa meskipun generasi milenial menunjukkan sikap skeptis, mereka masih menganggap weton sebagai aspek yang penting untuk mempertahankan keseimbangan dan menghormati nilai-nilai yang diturunkan oleh orang tua. Temuan ini menunjukkan bahwa weton memiliki peran psikologis sebagai sumber ketenangan batin dan memperkuat keyakinan dalam membuat keputusan besar dalam hidup. Untuk menjangkau audiens muda, Fatony (2025) menekankan bahwa pendekatan komunikasi digital perlu menonjolkan konten visual yang asli serta cerita yang relevan. Akhirnya, media sosial menjadi platform di mana nilai-nilai leluhur yang sakral berinteraksi dengan cara berpikir kritis generasi muda dengan lebih harmonis dan dinamis. Dengan metode digital yang interaktif, weton tidak lagi dianggap sebagai beban sejarah, melainkan sebagai identitas budaya yang membanggakan bagi generasi saat ini.          

Referensi

Fatony. (2025). Strategi Komunikasi Digital dalam Membangun Citra Budaya Lokal: Studi pada Akun Media …-28 Jurnal Studi Multidisiplin Indonesia Global Strategi Komunikasi Digital dalam Membangun Citra Budaya Lokal: Studi pada Akun Media Sosial Pemerintah Daerah (Vol. 1, Issue 1).

Sartika, N. (2024). Persepsi Generasi Milenial terhadap Tradisi Perhitungan “Weton” dalam Penentuan Waktu Pernikahan di Desa Jaten Kabupaten Wonogiri Jawa Tengah. Skripsi Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sriwijaya.

About author

Articles

Ivan Dzaky Saputra, seorang penggiat kata yang kini tengah menempuh studi di program studi Ilmu Komunikasi, Universitas Amikom Purwokerto. Lahir dan tumbuh di bawah bayang-bayang Gunung Slamet, ia memiliki keterikatan batin yang kuat dengan tanah kelahirannya. Bagi Ivan, Purwokerto bukan sekadar tempat tinggal, melainkan panggung kesenian dan kebudayaan yang tak habis dikupas. Ketertarikannya pada dinamika budaya lokal menjadi bensin utama baginya dalam mengeksplorasi gagasan dan karya.
Avatar photo
Related posts
BudayaEsaiEsai KebanyumasanRicik-Ricik

Eksklusivitas dan Laku Adaptif: Jalan Sunyi Pelestarian Pakeong

Read more
EsaiPopuler

Tuhan Maha Trendy: Ngobrol Santai Soal Yang Maha Kuasa di Zaman Now

Read more
BukuEsai

Rahim Embun Sebagai Katarsis di Dunia yang Sering Membiaskan Tangis

Read more
KABAR LOGAWA
Mari Mengalir Bersama

Dapatkan kurasi tulisan sastra pilihan, wawasan budaya Penginyongan, dan informasi agenda terbaru langsung di kotak masuk surel Anda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *