Keluarga yang harmonis adalah fondasi yang penting dalam mendukung tumbuh kembang anak. Kasih sayang dan dukungan orang tua dalam menunjang kesuksesan anak di masa depan memiliki peran yang penting. Anak-anak memerlukan pendekatan yang lebih spesifik dan konsisten dalam mendukung perkembangan mereka, baik secara fisik, emosional, maupun sosial. Fenomena broken home, yang sering disalah pahami hanya sebatas perceraian hukum, sebenernya meninggalkan “Luka Tak Kasatmata” yang meresap jauh ke dalam psikologis seorang anak. Luka ini bukan sekadar tentang perpisahan fisik, melainkan tentang hilangnya rasa aman, nyaman yang bisa memengaruhi cara mereka memandang cinta, kasih sayang dan kepercayaan dalam hidupnya dan sering kali menjadi beban yang akan mereka bawa dalam diam hingga dewasa.
Broken home berasal dari dua kata yaitu broken dan home. Broken berasal dari kata break berarti keretakan, sedangkan home mempunyai arti rumah atau rumah tangga. Broken home dapat diartikan dengan kondisi keluarga yang tidak harmonis tidak berjalan layaknya keluarga yang rukun, damai, dan sejahtera karena sering terjadi keributan dan perselisihan yang menyebabkan pertengkaran dan berakhir pada perceraian. Sebenarnya anak yang broken home bukan hanya berasal dari orang tua yang bercerai, tetapi juga yang berasal dari keluarga yang tidak utuh atau tidak harmonis. (Mistiani W: 2018). Broken Home adalah Kondisi di mana stuktur sebuah keluarga (ayah,ibu, dan anak) mengalami keretakan atau perpecahan. Cakupan Broken Home jauh lebih luas dan sering kali berdampak pada masalah Psikologis Anak. Penyebab broken home meliputi, masalah ekonomi, perselingkuhan, Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), perbedaan prinsip dan kurangnya komunikasi.
Penelitian mengungkapkan bahwa perceraian dapat menimbulkan konsekuensi jangka panjang pada psikologis anak. Sebuah artikel “Effects of Broken Family” diterbitkan di The International News yang ditulis oleh Anna Green tahun 2015, dia mengatakan bahwa anak-anak dapat terpengaruh secara sosial, pendidikan, dan emosional karena kondisi mereka yang berada dalam keluarga yang berantakan. Seperti masalah emosional, gangguan prilaku, gangguan mental, masalah keuangan dan pendidikan. (Ariyanto, K. 2023). Dampak broken home bisa beragam tergantung usia anak saat terjadi konflik, kepribadian, dan kedekatan dengan orang tua. Broken home bukan akhir dari segalanya, banyak anak yang dapat bangkit dan sukses.
Penyebab Broken Home
Di Indonesia kasus perceraian juga menunjukan tren yang mengkhawatirkan. Hampir 400.000 kasus pada tahun 2024, yang setara dengan 27% dari jumlah pernikahan pada tahun yang sama. (badan Pusat statistik: 2025). Faktor penyebab anak mengalami broken home banyak sekali. Terutama adalah faktor perceraian. Hal yang memicu perceraian dalam rumah tangga yaitu masalah ekonomi, ketidakdewasaan orang tua, kurangnya tanggung jawab, komunikasi yang buruk maupun gangguan pihak ke tiga.
Pernikahan dini dan Ketidaksiapan mental (Psikologis), banyak broken home berakar dari ketidaksiapan dalam memikul tanggung jawab sebagai suami, istri atau orang tua. Perbedaan prinsip, ketidakcocokan dan tujuan hidup antara orang tua dapat menyebabkan konflik yang sulit diselesaikan. Ketidakdewasaan dan campur tangan orang tua atau pihak lain dalam rumah tangga dapat menimbulkan krisis dan dapat memperburuk kondisi internal keluarga. Kurangnya kematangan emosional untuk menghadapi konflik rumah tangga memicu pertengkaran dan perceraian dimasa depan.
Selain faktor penceraian, faktor internal dari dalam keluarga juga memengaruhi anak menjadi broken home. Mulai dari masalah ekonomi, ketidakstabilan finansial dan ketidakpuasan materi bisa memicu konflik seperti terlalu sibuk dengan urusannya masing-masing karena bekerja dan kurangnya meluangkan waktu untuk keluarga atau family time. Mengakibatkan komunikasi menjadi buruk, tidak saling berintraksi dan menciptakan ketertutupan serta kecurigaaan. kurangnya kedewasaan dalam rumah tangga mementingkan diri sendiri, dan ketidakmampuan mengelola emosi sering memicu pertengkaran. Pertengkaran dapat membentuk pola hubungan yang tidak sehat dalam sebuah keluarga dan memicu perceraian. Selain itu, pertengkaran dapat memberikan trauma yang membekas pada anak hingga dewasa.
Dampak Broken Home
Dampak broken home sangat beragam tergantung usia anak saat terjadi konflik dalam keluarga dan seberapa besar konflik dalam keluarga. Perpisahan orang tua sangat memengaruhi kondisi emosional anak. Rasa kehilangan, sedih, bingung, takut marah, semua bercampur aduk dirasakan anak. Bingung harus tinggal dengan ayah atau ibu, rasa kehilangan sosok peran ayah atau ibu, merasa tidak dicintai, tidak diperhatikan, di sayang, bahkan sering kali berfikir untuk mengakhiri hidup karena merasa tidak penting dan tidak ada yang peduli terhadap hidupnya. Rasa yang tidak mengenakan yang sering dirasakan oleh anak broken home.
Anak broken home juga sering sekali mengalami suasana hati yang tidak menentu (mood swing) atau gangguan suasana hati lainnya. Sebagian dari mereka memilih menarik diri dari pergaulan, dan enggan bersosialisasi karena tidak percaya diri. Anak broken home beresiko menjadi anak nakal, agresif, suka berkata dan berbuat kasar karena kurangnya didikan, kasih sayang, perhatian, dan pengawasan dari orang tuanya. Akibat kurangnya kasih sayang, perhatian dari orang tua. Anak broken home biasanya lebih memilih memendam perasaanya dibanding mengungkapkan apa yang dia rasakan oleh karena itu anak broken home cenderung sulit mengungkapkan apa yang dia rasakan kepada orang lain.
Anak broken home sering sekali mengalami masalah keuangan yang kurang stabil. Hal ini merupakan dampak akibat perceraian orang tua atau ketidaksiapaan orang tua dalam membangun rumah tangga. Selain itu, prestasi disekolah juga memiliki kemungkinan untuk menurun atau bahkan putus sekolah. Hal ini terjadi karena mereka rentan mengalami gangguan belajar, gangguan emosional sulit konsentrasi, dan kurangnya motivasi untuk belajar. Karena kurangnya pendidikan anak cenderung memiliki risiko lebih tinggi untuk terlibat dalam kenakalan remaja.
Penyembuhan Luka Tak Kasatmata
Menghadapi dunia sebagai anak dari keluarga yang tidak utuh (Broken Home) memang menjadi tantangan emosional yang berat, namun hal ini bukanlah penentu akhir dari masa depan seseorang. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah menerima kenyataan dengan lapang dada dan berhenti menyalahkan diri sendiri atas apa yang terjadi. Perlu disadari bahwa perpisahan orang tua adalah keputusan orang dewasa yang berada diluar kendali mereka. Melakukan rehabilitas melalui bantuan seseorang yang sudah profesional seperti psikolog, jika diperlukan dapat mengubah luka menjadi kekuatan. Kedewasaan emosional yang terbentuk dari proses “penyembuhan” ini justru akan menjadi fondasi yang kuat dalam menghadapi tekanan dunia kerja maupun dunia.
Kesadaran perpisahan orang tua adalah keputusan orang dewasa yang berada diluar kendali mereka adalah hal utama agar luka lama tidak menjadi penghalang untuk melangkah. Karena rumah tidak memungkinkan untuk menjadi tempat pulang, anak broken home perlu mencari komunitas, teman dan lingkungan yang mendukung mereka untuk berkembang dan berubah. Lingkungan, teman yang mendukung akan membantu menjaga kesehatan mental dan mendukung perubahan dan perkembangan menjadi seseorang yang lebih baik. Setelah mendapatkan dukungan dan lingkungan yang lebih baik, mulai melatih atau mendalami skils, hobi yang selalu dipendam untuk meraih kesuksesan. Anak broken home dapat membentuk karakter yang tangguh dan meraih kesuksesan melalu kemandirian dan kerja keras untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik.
Kesuksesan di masa depan sering kali lahir dari tekad untuk tidak mengulangi hal yang sama. Rasa sakit dan kekurangan yang dirasakan di masa kecil dapat dijadikan “motivasi” untuk menciptakan kehidupan yang lebih stabil dan harmonis di masa depan. Dengan standar kulitas hidup yang ingin dibangun, seorang anak broken home memiliki tekad yang lebih tinggi untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Kesuksesan bukan hanya seorang materi tetapi tentang keberhasilan yang membuktikan bahwa latar belakang yang pahit juga bisa menghasilkan kehidupan yang manis. Latar belakang keluarga hanyalah titik perjalanan, sementara kerja keras dan berusaha adalah hal yang menentukan garis akhir kesuksesan seseorang.
Kesimpulan
Broken home bukan sekedar perceraian, melaikan kondisi ketidakharmonisan dalam hubungan rumah tangga yang dapat dipicu dari berbagai hal misalnya, ekonomi, ketidaksiapan mental,serta buruknya komunikasi dan menciptakan perceraian. Hal ini menciptakan “Luka Tak Kasatmata” yang berdampak luas pada psikologis, mental, emosional, sosial anak akibatnya hilang figur orang tua. Meskipun berat, anak broken home bukanlah akhir dari segalanya, pemulihan mental, trust issue, psikologis dapat dilalui dengan membangun support system yang positif diluar rumah dengan menjadikan masalalu sebagai motivasi untuk tidak merasakan hal yang sama dan mencapai kehidupan yang lebih baik di masa depan.
Referensi
Ariyanto, K. (2023). Dampak Keluarga Broken Home Terhadap Anak. Metta: Jurnal Ilmu Multidisiplin, 3(1), 15-23..
Badan Pusat Statistik. (2025). Jumlah Perceraian Menurut Provinsi dan Faktor Penyebab Perceraian (perkara), 2024. Jakarta: Badan Pusat Statistik.
Mistiani, W. (2018). Dampak keluarga broken home terhadap psikologis anak. Musawa: Journal for Gender Studies, 10(2), 322-354.




